Mahasiswa Papua Pemecah Rekor Skripsi Terbaik, Tertebal dan nilai A plus di UTY

Cinque Terre
Manfred Kudiai

3 Bulan yang lalu
PENDIDIKAN

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Foto bersama usai ujian Skripsi. (Doc.KM)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Mahasiswa Papua Pemecah rekor skripsi terbaik, tertebal dan nilai A plus di Fakultas Humanities, Education, Tourism di Uviversity of Technology Yogyakarta, Yogyakarta.

 

Yanuarius Toupaapaa Tatogo yang sering disapa Mr. Toupaapaa, adalah salah satu mahasiswa Papua yang kuliah di University of Technology Yogyakarta, Yogyakarta.

 

Lelaki muda Paniai yang telah menekuni jurusan Sastra Inggris dengan kefokusan pada bidang linguistik murni ini, mengangkat identitas diri papua melalui penelitian bahasa khususnya kata ganti dalam Bahasa Mee dengan judul skripsi “Declension Pronouns of Mee Language in Meepago-Papua”.

 

Pria kelahiran Uwebutu-Tage-Papua ini memecahkan rekor skripsi terbaik, tertebal dan nilai A plus dan pihak kampus mengajak  kerjasama wakil ketua IPMANAPANDODE Jogja-Solo periode 2017-2019 ini untuk kajian berikutnya.

 

Dr. Adnan Zaid M.Sc menagku bahwa skripsi seperti ini mahasiswa sebelumnya belum pernah ada. Di sisi lain, Dr. Yohanes Radjaban juga berjanji akan susun jurnal bersama dan berharap bisa melanjutkan S2 dan S3 ke luar negeri sebab di Papua sangat mudah memperoleh beasiswa ke luar negeri. “Kita akan kerjasama dalam melakukan karya ilmiah khususnya di bidang linguistik, ditambahnya.”

 

Linguistik adalah ilmu yang mempelajari tentang bahasa, yang selalu digunakan dalam kehidupan masyarakat untuk mempersatukan. Bahasa adalah suara manusia, ekspresi, dan sebuah kunci untuk memahami antara satu dengan yang lain. Menurut Radjaban (2015, hal. Vii) menjelaskan bahwa bahasa adalah sebuah kunci untuk memahami sebuah budaya. Bahasa adalah artikulasi suara manusia (Radjaban, 2016).

 

 Dalam penjelasan lain juga, bahasa adalah sebuah rangkain suara yang diproduksi oleh maksud yang disampaikan secara sadar dari manusia (Santoso, 1990, hal.1).

 

Jika kita lihat bersadaskan kajian jumlah bahasa, sebelum tahun 2015 di Pulau Papua tercatat ada 248 tetapi pada tahun 2015 berdasarkan penelitian dari balai bahasa Papua dan Papua Barat tercatat 307 bahasa lokal di Pulau Papua.

 

Tetapi hal yang kan disayangkan adalah ketika bahasa mengalami punah maka lima puluh persen identitas diri suku tersebut akan mengalami kepunaan. Di samping itu, hal yang sama juga disampaikan oleh Y. Radjaban (2016) bahwa sebuah bahasa akan mengalami kepunahan ketika bahasa tersebut tidak ada yang mendokumentasikan melalui kajian dokumentasikan dan tentu saja identitas diri lima puluh persen suku tersebut akan mengalami kepunahan.

 

Hal ini menjadi sebuah renungan dan motivasi bagi  wakil ketua IPMANAPANDODE Jogja-Solo periode 2017-2019 ini untuk mulai menekuni  dengan menfokuskan pada bidang linguistik.

 

Berdasarkan penelitian pentasrifan kata ganti Bahasa Mee, pria muda yatim piatu ini telah menemukan 161 kata ganti Bahasa Mee berdasarkan kelas kata ganti seperti subyek ada 33, obyek 33, penentu 33, kepunyaan 33, dan refleksi 29.

 

Di samping itu, pria kelahiran tahun 1995 ini telah menemukan tabel lengkap, masing-masing fungsi, pola kalimat dan karakter dalam kata ganti Bahasa Mee. Anak kedua dari delapan bersaudara ini pun telah menjelaskan masing-masing kata ganti ke dalam contoh kalimat Bahasa Mee. Hal ini memberikan kepada pembaca untuk lebih mudah memahami dalam penggunaan Bahasa Mee.

 

Pendiri Kamasan English Club ini merasa senang ketika para dosennya memberikan apresiasi bahwa skripsinya akan melakukan penusunan jurnal bersama-sama. Sebab tidak semua skripsi dari para mahasiswa dan mahasiswa meminta oleh dosen-dosennya demikian. Di sisi lain, ini sebagai sebuah prestasi yang pertama kali pria murah senyum ini peroleh.

 

Dalam seminar skripsinya, anak muda Papua suka mengajar beberapa tempat di Jogja beberapa bulan yang lalu ini pun, telah mempromosikan Buku Kamus Paraktis Bahasa Mee- Indonesia yang ditulis oleh Pak Hubertus Takimai. Pada akhirnya beberapa dosen mau membelinya dan memesan melalui anak kandung dari ayah Aloisius Tatogo dan Pabiana Youw ini. Di samping itu, para dosen berjanji akan terus bekerjasama dengan adik dari Alm Yohanes Tatogo ini dalam melakukan kajian tentang bahasa.

 

Seusai seminar sebagian dari teman-teman kampus pun sangat kaget dan bangga melihat skripsi tebal, terbaik dan nilai A plus-nya. Nenek dari Thereisa Pigai ini pun sangat bergembira sebab teman-temannya pun sangat mendukung bahkan di group English Letters pun mulai heboh.

 

Harapan penulis sekaligus peneliti, berharap kepada generasi muda Papua perlu mendokumentasikan bahasa-bahasa lokal yang ada di Pulau Papua. Sehingga keutuhan bahasa sebagai simbol indentitas diri orang papua tidak punah.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait