Mahasiswa Papua Pemecah Rekor Skripsi Tertebal di STPMD APMD

Cinque Terre
Ancelmus Gobai

14 Hari yang lalu
POLITIK DAN PEMERINTAH

Tentang Penulis
"Melayani dengan hati"
ket foto: Daud Awipode Agapa usai pemaparan skripsi tentang “Sejarah Aneksasi Papua dan Pemusnahan Manusia Papua Historisme dari Aspek Politik, Hukum, Ham, Demokrasi, dan Ekonomi di Tanah Papua.” /Bernaderta

 

 

YOGYAKARTA KABARMAPEGAA.comMahasiswa asal Papua Daud Awipode Agapa di kampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) dari Program Studi Ilmu Politik dan Ilmu Pemerintahan Jurusan Ilmu Pemerintahan di STPMD APMD Yogyakarta telah menyusun skripsi tujuh ratus delapan (708) lembar tentang “Sejarah Aneksasi Papua dan Pemusnahan Manusia Papua Historisme dari Aspek Politik, Hukum, Ham, Demokrasi, dan Ekonomi di Tanah Papua.” Yang di wisudakan (4/5) dikampus APMD Yogyakarta.

 

 

Kata Daud saat menghubungi via telpon harapan mengambil judul skripsi supaya rakyat Papua yang belum memahami sejarah aneksasi Papua dan pemusnahan manusia Papua Historisme dari Aspek Politik, Hukum, Ham, Demokrasi dan Ekonomi di Tanah Papua bisa mengetahui kembali. Jelasnya.

 

 

Lanjut, Supaya mahasiswa Papua yang lain bisa mengambil judul skripsi tentang nasionalisme bangsa Papua dan mereka yang aktivis politik pejuang kemerdekaan negara bangsa Papua berjuang secara konsisten  dengan serius berdasarkan sejarah negara bangsa Papua Indonesia Belanda dan Amerika untuk merenungkan kemerdekaan kepada pemilik bangsa dari tangan penjajah Indonesia. Jelasnya.

 

 

 

Sejak saya mengajukan judul skripsi pihak kampus sempat menolak tetapi saya mengajukan terus sampai tiga kali lalu mereka terima. pungkasnya

 

 

Saya bangga kampus STPMD APMD Yogyakarta karena salah kampus bersejarah bagi Papua selama ini dan  saya harap kampus lain di Indonesia bisa mengizinkan mahasiswa Papua untuk skripsi tentang nasionalme Papua, tegasnya

 

 

Sebelum menulis skripsi Daud melakukan penelitian skripsi di tanah Papua selama 5 bulan ketika saat melakukan wawancara dengan toko_toko Papua seperti Vilev Karma, Benny Giyai, Yosep Alomang sehingga Daut merasa bangga dan salut atas ketersedian menerima Daut untuk mewancara dan meraka ikut membanggakan.

 

 

Kata mereka kepada Daud bahwa  "generasi muda Papua Barat harus menulis buku tentang Papua Barat" dan hal itu bapa Okto Mote  ikut membanggakan dengan Bahasa daerah "Miyo Beu Bokaya weegee" tidak gampang mantap.

 

 

Ini adalah Identitas lengkap nama Daud Awipode Agapa  lahir dari mama  Enago Dorcu Bobi  pada tangal 1 Januari 1992 dari Kampung Pouwouda kabupaten Dogyai Papua. Daud menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) YPPK St Fransiskus Asasi Yotapuga selanjutnya Daud  menyelesaikan SMP YPPK St Fransiskus Asasi Moanemani Kabupaten Dogiyai dan SMA Bhakti Mandala Nabire Papua. 

 

 

Semenjak SMA Daud bercita cita menjadi pastor (pewarta firman Allah) sehingga ia mendaftar diri di Sekolah Tinggi Fajar Timur (STFT) Jayapura Papua namun kakanya tidak menyetuhi sehingga Daud mendaftarkan diri di Univertitas Cendrawasih (UNCEN) Papua dengan jurusan fakultas ilmu pemerintaan. Setalah mendengar hasil tes ia lulus dan berkuliah lama tetapi ia balik ke Nabire Papua dan tidak balik ke Jayapura untuk melanjutkan kuliah di UNCEN.

 

 

Keinginan besar  Daud harus berkuliah di Jawa Yogyakarta sehingga ia mendaftarkan diri dikampus Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) di Yogyakarta 2014 dan lulus 4 mei  tahun 2019.

 

 

Kata Daud kepada media www.kabarmapegaa.com bahwa saya tidak sia sia belajar di kampus saya dan berkaitan dengan  skripsi saya akan menjadikan buku sejarah Papua tentang Aneksasi Papua dan Pemusnahan Manusia Papua Historisme dari Aspek Politik, Hukum, Ham, Demokrasi, dan Ekonomi di Tanah Papua. Jelasnya.

 

 

Mahasiswa asal Papua ini, selain kuliah baik dalam kampus dan Luar Kampus di kota Studinya Kota Yogyakarta banyak waktu dikorbankan pada kegiatan kemahasiswaan di organisasi seperti KOMAP Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan STPMD APMD, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STPMD APMD, FORUM BEM SE-DIY lebih dari 116 Kampus di Yogyakarta.

 

 

Selanjutnya Daud juga sebagai salah satu anggota dari organisasi diluar kampus seperti Ikatan Pelajar dn Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai Deiya  (IPMANAPANDODE) AMP,  FKPMKP, PMKRI, Pembebasan dan Anggota Sekolah Hukum Papua di Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

 

Selain diatas ia juga sering menyumbangkan pikiran di beberapa majalah seperti majalah kampus, Buletin Wogada Wokebada dan Aktif menulis buku  empat buku dengan judul berbeda tentang Pemekaran, Ham dan Ekologi serta perbandingan bangsa antara Papua dan Indonesia namun tidak mempublikasikan karena keterbatasan anggaran.

 

 

Tidak terlepas dari diatas mahasiswa yang hobinya menulis membaca itu mengaku bahwa ia sering kali mengundang beberapa organisasi untuk Pembicara Seminar diskusi publik terkait dengan Historisme dari Politik, Hukum, Ham, Demokrasi dan Ekonomi.

 

 

Daud mengaku dalam perjuangan banyak tantangan cobaan dan godaan tetapi kita harus menghadapi dengan senyuman.

 

 

Daut berharab setelah menyelesaikan S1 ia ingin melanjutkan pendidikan S 2 dan S 3 sehingga pihak pemerintah papua membantu dalam proses perkuliahan selannjutnya.

 

Daut menutup, Apa yang saya  belajar adalah untuk hidup serta senjata untuk memperjuangkan kebenaran, keadilan, Kebebasan, Perubahan, Menghormati sesama manusia, melindungi sumber daya alam bangsaku serta kejujuran demi kemerdekaan bangsaku  tutupnya.

 

Pewarta: Anselmus Gobai/KM

 

 

 

 

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait