Mahasiswa Prihatin  Kondisi Warga di Wamena

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
 Suasana puluhan Mahasiswa mengikuti aksi pemasangan seribu Lilin dihalama Asrama Jayawijaya , Manokwari. (Fhoto:PY/KM)

 

MANOKWARI,KABARMAPEGAA.com – Puluhan  pelajar dan mahasiswa asal Wamena, Jayawijaya yang saat ini mengenyam pendidikan di  kota Manokwari, Papua Barat ikut prihatin dan mengutuk keras oknum-oknum yang menciptakan  konflik  di Wamena dan sekitarnya.

 

Para pelajar dan mahasiswa asal Wamena itu juga meminta kepada oknum  Ibu Guru yang  mengungkap ujaran rasisme saat mengajar dalam kelas yang memicuh insiden ini.

 

“Peristiwa yang berujung ricuh berakibat menelannya belasan orang meninggal dan lainnya dikabarkan mendapat luka-luka berat  setelah mengenai peluru senjata negara sejak 23 September 2019 lalu di Kota Wamena,” beber salah satu peserta yang tidak mau menyebutkan nama kepada kabarmapegaa.com.

 

Menaggapi kasus ini, puluhan  Mahasiswa Jayawijaya dari tiga suku besar di Wamena yang berada di Manokwari tersebut tidak tinggal diam. Mereka Menyikapi kerusuhan di Wamena dengan pemasangan seribu lilin sambil memegang puluhan famplet berikan foto korban rakyat di Wamena di halaman Asrama Jayawijaya, Amban Manokwari Papua Barat, pada Jumat (04/10) pukul 19:30 malam hingga mengusainya dalam situasi aman.

 

Koordinator aksi, Kemai Aud kepada wartawan kabarmapegaa.com menegaskan pihaknya mengutuk keras oknum Ibu Guru yang telah melontarkan ujaran rasis kepada muridnya di salah satu Sekolah di Kota Wamena sebagai pemicuh kerusuhan di Wamena itu.

 

“Kami mengutuk keras oknum Ibu Guru yang lakukan kata rasisme kepada siswa-siswi itu. kami mengutuk. Dia (oknum Ibu Guru) itu pemicuh sampe rakyat banyak korban itu,” bebernya.

 

Kata dia, kami pun mengutuk aparat oknum TNI/POLRI yang melakukan penembakan yang menewaskan kepada pelajar dan masyakarat di Wamena sejak 23 Sepember 2019 lalu.

 

“Kami tidak terima dan mengutuk lagi untuk aparat TNI/Polri menembak siswa dan masyarakat kami di Wamena. Tidak boleh aparat menembak sembarang,” tegasnya.

 

Harapnya,  aparat TNI/Polri titak berlebihan ketika berhadapan dengan masyarakat di Wamena dan pada umumnya di Tanah Papua.

 

 

Sementara itu, Stefen Makar (Mahasiswa) menegaskan tindakan aparat dalam kerusuhan di Wamena  terlalu berlebihan dalam penanganannya. Sehingga stefen harap kedepan aparat dapat beradaptasi sesuai tradisi adat rakyat Papua ketika melihat persolan ditengah masyarakat Papua. Jangan dengan pendekatan kekerasan kepada rakyat.

 

“Tindakan aparat terlalu berlebihan dalam kerusuhan di Wamena sehingga banyak rakyat mati. Jadi, aparat berubah pendekatan militeristik itu. Aparat bisa sesuaikan dengan kebiasaan tradisi rakyat disana,” katanya.

 

Ironis lagi, kata Stefen keseimbangan nilai kemanusiaan menyikapi persoalan Wamena penuh diskriminatif.

 

“Kenapa rakyat pendatang dilebih-lebihkan. Jadi, rakyat asli yang mati di Wamena itu binatang yang mati kah sedangkan keduanya adalah sama-sama rakyat Negara yang korban. Jadi, Keseimbangan nilai kemanusiaan antara warga pendatang dan  rakyat asli Wamena sangat diskriminatif disana. Jadi, memang nilai kemanusiaan untuk orang Papua dimata Negara tidak ada,” pungkasnya.

 

Tambah stefen, dalam pemberitaan melalui media lokal dan nasional menyebut belasan orang atau dua puluhan lebih (20-an) orang menjadi korban (Mati atau kondisi kritis) dalam konflik di Wamena itu dikatakan stefen, jumlah korban yang bisa dijangkau tempatnya oleh para wartawan saja.

 

Masih ada korban mati dan kondisi kritis yang belum diangkat para wartawan dikarenakan, kata dia para keluarga korban membawa pulang ke kampung-kampung mengungsi karena situasi kota Wamena masih mengcekam, jelas Stefen sesuai laporan yang pihaknya melalui sambungan  telppon seluler dari keluarga para Korban, orang tua dan beberapa pelajar dari Wamena Papua.

 

Selain itu, Stefen juga meminta Agus Kossay (Ketua Umum KNPB Pusat) dkk aktivis lainnya yang akan memindakan ke Kalimantan Timur tersebut dinilai pihak aparat penegak Hukum dalam hal ini Polisi menyalahi hukum. Sehingga pihaknya sebagai Mahasiswa dengan tegas menolak pemindahan para Tapol tersebut.

 

Dimana dirinya menilai para Tapol ditahan di Papua berarti kata dia segera diperkarakan di Papua sesuai wilayah hukumnya,katanya dengan penuh berharap.

 

Lagi dikatakan stefen, kondisi rakyat Nduga masih dalam pengusian dibeberapa wilayah terdekat dipegunugan tengah Papua. Sehingga, pihaknya berharap Pemerintah Pusat dan Daerah melihat persoalan demi persoalan yang dihadapi rakyat ditanah Papua harus berkeadilan dan mengedepan nilai-nilai kemanusiaan menjamin keselamatan setiap warga negaranya.

 

Selanjutnya,  Mektison Yare (Mahasiswa) ini kembali mengingatkan kepada penyebar hoax  agar kurangi penyebaran berita Hoax dan berbau provokasi publik terkait kerusuhan di Wamena yang masih ramai dibicarakan itu. Oasalnya, Yare menilai beberapa media masih saja memutar balikan fakta mengiring kedalam berita yang bersumber pada hoax.

 

 “Pertama kami memberitahukan kepada media tv, Radio dan wartawan local dan nasional agar memberitakan kerusuhan Wamena sesuai data dilapangan. Apa lagi kami melihat saat ini banyak media yang memeberitakan berita-berita hoax atau tidak benar sehingga masyarakat luar salah menanggapi tentang kerusuhan di Wamena,” bebernya.

 

Yare juga menegaskan oknum aparat hentikan pendekatan kekerasan dengan menembak rakyat sipil secara brutal. Sebab dalam kerusuhan kata Yare banyak pelajar dan rakyat mati bahkan mendapat luka parah akibat peluruh senjata tangcap ditubuh korban.

 

 “Kami juga mengutuk keras kepada oknum aparat yang telah menembak rakyat kami di Wamena,” tegasnya.

 

Sementara itu, Budi Lambe (Mahasiswa) mengatakan hal serupa. Pihaknya mengutuk oknum TNI/POLRI sangat brutal pada rakyat di Wamena saat ricuh.

 

Sehingga, diniali Lambe kerusuhan Wamena bermula saat Ratusan pelajar berunjak rasa di Kantor Bupati namun dipaksa bubarkan massa aksi pelajar oleh aparat TNI/POLRI sehinggan pihaknya secara tegas mengatakan kepada negara agar memberikan ruang demokrasi seluas-luasnya  kepada orang Papua sampaikan aspirasinya, katanya dengan penuh berharap.

 

“Sesuai aturan Negara bahwa warga Negara menyampaikan pendapat dimuka umum sudah menjamin. Sehingga segera memeberikan kebebasan rakyat Papua menyampaikan pendapat kepada pihak berwenang.”

 

Pada kesempatan itu juga mahasiswa dan pelajar asal Jayawiya menyatakan sikap. Pernyataam sikap sebagai berikut:

  1. TNI/Polri stop intimidasi dan teror kepada rakyat sipil di Wamena dan seluruh Tanha Papua pada umumnya.
  2. Stop pembungkaman ruang demokrasi
  3. Stop diskriminasi dan kriominalisasi hinga berujung pada penangkapan dan pengculikan liar terhadap rakyat sipil, pelajar, mahasiswa,  wartawan, aktivis Ham dan aktivis Papua Merdeka
  4. Kami mendesak pemerintah Republik Indonesia segera tarik semua satuan pasukan organik dan non organik dari Wamena dan yang ada di seluruh tanah Papua kembalikan asal tempat tugas masing-masing
  5. Pemerintah Indonesia segeara bebaskan tahanan politik di tanah Papua dan seluruh Indonesia
  6. Kami mendesak kepada pemerintah Republik Indonesia agar buka akses seluas-luasnya uintuk wartawan/jurnalis asing liput berita di seluruh tanah Papua.

 

Pewarta: Petrus Yatipai/KM

Editor: Manfred Kudiai

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait