Mahasiswa, Warung dan Toko Buku

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

7 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Ilustrasi. Ist (sumber: Kudo.co.id)


Oleh  Hendryck C. Okmonggop)*

Ini antara otak dan perut. Dan ini bukan soal pilihan, ini soal ketergantungan. Ini antara keinginan dan kebutuhan. Keinginan perut dan kebutuhan otak.

 

Opini yang mungkin agak berlebihan ini muncul ketika saya berjalan kaki melintasi lorong-lorong jalan sebuah kompleks. Kompleks yang menjadi pusat mahasiswa tinggal. Pinggir lorong-lorong itu terdapat banyak sekali rumah-rumah makan (Warung). Kompleks itu juga terdapat kurang-lebih empat sampai lima Asrama mahasiswa dan puluhan kost-kostan dan kontrakan yang hampir semuanya dihuni oleh pelajar/mahasiswa. Kostnya bertingkat-tingkat dan sebagian Asramanya boleh dibilang mewah. Jika diperkirakan, maka kurang lebih ada ratusan bahkan mungkin ribuan mahasiswa yang tinggal di kompleks itu. Kompleks itu adalah Kamkey (Abepura-Papua).

 

Trus apa masalahnya? Tidak ada. Mungkin ini andai-andai saya sebagai penulis yang terlalu skeptis dan berlebihan. Akh..Biarlah. Biarkan saya untuk mengulasnya. Duga-duga saya seperti ini:

 

Duga-duga sekaligus keheranan. Terheran, ketika dalam sebuah kompleks yang terdapat ratusan bahkan ribuan mahasiswa ini hanya ada satu toko buku. Toko buku yang buku-bukunya juga boleh dibilang tidak terlalu lengkap. Malahan tempat tinggal mahasiswa itu dikerumuni oleh warung-warung. Disitulah keheranan saya. Saya berandai-andai kalau realitas ini sedang mengarahkan para mahasiswa untuk lebih memilih puas dengan perut ketimbang otak. Inilah realita. Realita di mana para mahasiswa diperhadapkan dengan kenyataan yang mungkin tidak adil. Ia, realita ini tidak adil, karena keinginan perut lebih mendominasi otak.

 

Saya tinggal di Kamkey. Ulasan di atas adalah cerita tentang kita. Cerita tentang kita mahasiswa yang lebih membuang-buang uang di warung ketimbang membeli buku-buku untuk mengisi otak. Cerita dimana kita diharuskan untuk mememasan makanan di warung ketimbang memasaknya sendiri. Cerita di mana saat kita berfoya-foya, juga cerita dimana uang kita habis dan harus utang di warung.

 

Saya tidak tahu di daerah lain, karena ini adalah hasil pengamatan saya di Jayapura. Kenyataan ini juga dirasakan oleh teman-teman di waena. Perumnas 1,2 dan 3. Mereka juga terjebak dalam dilema ini. Di Waena yang adalah pusat mahasiswa juga terdapat satu toko buku (sekarang sudah Tutup), dan puluhan bahkan ratusan warung makan. Bahkan di sana ada rumah makan yang murah (10 ribu satu porsi). Saking murahnya, warung itu selalu diramaikan oleh para mahasiswa.

 

Ketergantungan para mahasiswa terhadap makanan, membuat para mahasiswa buta terhadap realitas ini. Kepuasaan perut yang mendominasi otak membuat para mahasiswa tidak mampu berpikir kritis. Kepuasaan perut yang menguasai otak membuat mahasiswa hanya tidur, bangun, pergi ke kampus, pulang. Dan aktivitas itu telah menjadi rutinitas para mahasiswa. Jadi bukan sebuah keheranan jika kebanyakan para mahasiswa lebih memilih diam, dan tidak bergabung atau berkecimpung dalam organisasi-organisasi yang membuka pola pikir mereka. Lebih memilih untuk Tidak bergabung di oraganisasi-organisasi pergerakan/kemanusiaan untuk mengembangkan diri mereka dengan menganalisa dan bersuara terhadap realitas sosial Papua yang timpang.

 

Apakah ini salah para pedagang? Ataukah para mahasiswa yang salah memilih? Silahkan renungkan.

 

Ini adalah salah satu penyakit dari sekian banyak penyakit sosial yang kita derita. Ini adalah dilema ketika para mahasiswa diperhadapkan dengan kenyataan yang pahit. Ini dilema ketika para mahasiswa dimanjakan dengan lebih memuaskan perut ketimbang otak.

 

Pada akhirnya kata kunci dari ualasan ini adalah: Mahasiswa: Otak versus Perut.

 

Penulis Adalah Mahasiswa Fakultas Fessolpol)*

 

 

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait