Makanan Khas Papua Menjadi Asing Dilidah Generasi Kini

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Tahun yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Foto makanan khas di pasar Gorong gorong Timika Papua/KM

 

 

Oleh, Benny Magay

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM--Makanan khas daerah adalah makanan yang dapat dikonsumsi di suatu daerah. Kekhasan makananpun mempengaruhi nama suatu daerah bahkan mempengaruhi karakter masyarakatnya. Misalnya cara masak atau cara makan makanan khas pun berbeda, cara masak di daerah yang tertentu suka yang pedas, ada yang suka manis atau cara makan ada yang makan saat masih panas karena iklimnya dingin atau ada yang makannya dingin sesuaikan dengan iklimnya. Singkat kata makanan khas adalah sungguh khas, maka setiap suku bangsa mengembangkan dengan cara yang berbeda-beda sesuai warisan leluhur dari generasi ke generasi.

Berbicara tentang makan khas maka setiap kita akan mengerti bahwa makanan khas adalah seperti ini atau itu, misalnya; makanan khas NTT, Jagung titi, makanan khas Maluku, Embal, makanan khas Papua Ubi/keladi yang sudah barapen atau Sagu diolah menjadi Papeda, makanan khas Jawa Gudek, makanan khas Menado, bubur menado, makanan khas Kalimantan Wadi, dll.

Makanan khas biasanya agak mirip dengan makanan pokok. Perbedaan makanan pokok adalah makanan yang ada tanpa diolah sedangkan makanan khas adalah makanan pokok yang sudah diolah dalam bentuk yang khas dan akan dikenal dalam kalangan sukunya. Misalnya makanan khas Papua ada dua seperti sagu diolah menjadi Papeda, atau ubi/keladi dimasak dengan cara barapen hasil masaknya itu di sebut khas Papua dll.

Realitas merilis bahwa makanan khas sudah hampir punah akibat pengaruh global atau moderenisasi. Pengaruh global akan menawarkan makanan khas yang lebih dari yang ada dalam bayangan kita. Akibatnya generasi kini melupakan makanan khasnya. Adapun makanan khas yang disajikan oleh orang tua yang cinta akan makanan khas tetapi sering bahkan ada penolakan dari generasi kini dengan berkata bapak atau mama tidak enak atau menolak dengan berbagai alasan yang diciptakanya. Situasi inilah yang memicu penulis menulis artikel ini, setiap generasi kini kembali menyukai makanan khas dan mencintai serta megenal budayanya.

Makanan khas Papua menjadi asing dilidah generasi kini. Realitas ini terjadi secara langsung maupun tidak langsung diberbagai daerah khususnya di Papua. Akibatnya penulis menjadi aneh karena orang luar mengakui makanan khas daerah Papua malah anak daerahnya atau generasi kini tidak suka makan makanan khas atau tidak membudidayakan makanan khas bahkan tidak mengangkat makanan khas daerahnya. Salah satu contoh yang membenarkan pernyataan penulis artikel ini bahwa makanan khas Papua menjadi asing dilidah generasi kini, karena genarasi kini tidak suka makan ubi atau sagu dengan alasan kurang enak atau makanan khas menjadi makanan ringan atau snack musti makan makanan yang baru berkembang misalnya nasi, supermi,dll. Lebih lagi tidak suka membudidayakan makanan khas akibatnya tidak tahu akan jati diri dan karakternya sendiri bahwa makanan khas ini dan itu.

Lantara dengan problematikan di atas terhadap makanan khas ini, penulis ingin menegur serta menyadarkan saya dan anda yang membaca ini dengan beberapa pernyataan.

Pertama mari kita membudidayakan makanan khas secara berkesinambungan akhirnya orang lain akan menghargai kita bahwa kita akan hidup tanpa ada makanan khas yang lain.

 Kedua, terimakasih kepada leluhur yang sudah mewariskan makanan khas dari generasi ke genersasi. Maka sadarlah generasi kini kita ada karena leluhur yang mengolah tanah dan menghasilkan makanan khas yang mempertahankan nafas hidup mereka dan kita. Dengan demikian usaha kita adalah hargai mereka dengan membudidayakan makanan khas dan menyukai makanan khas kita.

Ketiga, untuk menghasilkan makanan khas selalu diolah dari alam dalam hal ini tanah, maka jangan menjual tanah melainkan mengolah tanah itu dan menanam serta memetik hasil untuk mengolah makanan khasmu.

Keempat, untuk mengangkat makanan khas dan budaya bangsa Papua Gereja Katolik Papua sudah mengadakan Gerakan Tunggu Api. Visi dan misi Gerakan Tunggu Api adalah menghidupkan nilai-nilai budaya, menghidupkan kekhasan bangsa Papua dan mengolah tanah sesuai apa yang baik bagimu.

Dengan melakukan berbagai solusi di atas maka penulis yakin bahwa pasti kita disegan oleh suku bangsa yang lain, yang nota bena suka mempertahankan budaya dan makanan khas mereka. Bangsa Papua khususnya generasi kini mari bangkit untuk menemukan jati diri kita, di atas jati diri itu kita berdiri kuat dan menjadi tuan atas hidup kita untuk mengembangkan makanan khas dan budayanya (www.kabarmapegaa.com)

 

(selamat dan profeciat menyongsong hari Pangan dunia dan pangan Keuskupan Timika tanggal, 23-24 Oktober 2018)

 

Baca Juga, Artikel Terkait