Mama- Mama Pasar Papua  Demo Ke DPRD: berikan tempat yang layak dan jangan perlakukan kasar

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

3 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Mama-mama Pasar Papua di Timika mengabaikan pendemi Covid-19 dan menuntut Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika untuk segera memberikan tempat jualan (Pasar) yang layak bagi mereka.. Senin (20/7). (Doc. Prib.KM)

 

TIMIKA, KABARMAPEGAA.com--Mama-mama Pasar Papua di Timika mengabaikan pendemi Covid-19 dan menuntut Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika untuk segera memberikan tempat jualan (Pasar) yang layak bagi mereka.

 

Tuntutan kepada Pemda Mimika, Mama-mama Pasar Papua telah melakukan aksi damai ke Gedung DPRD Kabupaten Mimika, Senin (20/7) guna menyampaikan aspirasi mereka.

 

Dalam aksi ini, Mama-mama Pasar Papua mengelu pemerintah jarang menanggapi dengan serius terkait aspirasi mereka. Dalam orasi , Mama-mama Papua mengaku, pihaknya pernah menyampaikan aspirasi mereka ke Pemda Mimika namun sampai saat ini tidak ada penanganan serius dari pemerintah Mimika.

 

Salah satu mama-mama Pasar Papua, yang enggang menyebutkan nama kepada Kabar Mapegaa mengatakan pihaknya pernah  menyampaikan aspirasi  mereka namun tidak diindahkan sampai saat ini.

 

“Kami sudah pernah datang ke sini untuk menyampaikan aspirasi -aspirasi kami namun belum pernah ada tanggapan serius dari pemerintah kabupaten Timika,” kata satu perwakilan mama-mama Papua kepada  media ini, Senin, (20/7) di Kantor DPRD Mimika, Jalan Cendrawasih ,Timika - Papua.

 

Pemda Timika telah membangun Pasar Baru (Pasar Sentral, dan mama Papua dipindahkan ke sana namun tempat yang disediakan oleh Pemda  tersebut tidak terjangkau oleh pembeli sehingga hal tersebut membuat pendapatan bagi mama-mama Pasar Papua menurun. 

 

"Kita akan tetap berjualan di Pasar Lama Timika, Jln. Koperapoka,  karena  di pasar baru yang telah dibangun oleh Pemerintah kabupaten Timika susah untuk dapat uang ongkos apalagi kebutuhan hidup lainnya sebab jualan kita yang laku terbata,  "kata salah satu perwakilan mama -mama pasar lama Timika, yang diterima Kabarmapegaa.com.

 

Pasar Lama yang dimaksud itu, terletak di pusat kota, daerahnya trategis sehingga pembeli pun banyak yang memlk ke Pasar Lama yang terletak di Koperapoka, Kec. Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua. Sementara Pasar Baru yang dibangun Pemerintah setempat itu terletak di pinggiran kota.

 

Sebelumnya, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Dispendag) Kabupaten Mimika, Papua melakukan penataan lokasi untuk semua pedangan yang nantinya berjualan di Pssar Sentra. Pedagang yang dipindakan dari pasar lama di jalan Bahyangkara ke Pasar Sentral di Jalan Hasanudin pada umumnya mama-mama Papua.

 

Tidak hanya itu, mama-mama Papua yang dipindakan ke pasar Sentral kerap kali mendapatkan perlakukan yang buruk dari pedagang yang menetap di Pasal Sentral.

 

Mama-mama Papua  tidak menerima atas kondisi real yang dilanda, mama-mama menyampaikan aspirasinya kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(DPRD) Timika.

 

 “pasar baru memang pemerintah sudah buka tetapi masalahnya uang ongkos  ke pasar tersebut dan penghasilannya menjadi kendali bagi kami,” ujar Mama –mama Pasar Papua.

 

Ketika ditanya, alasan mama-mama mempertahankan Pasar Lama, mereka (mama-ma pasar) menjawab alasan kita pertahankan pasar lama karena banyak pembeli dan sangat cepat laku hasil jualan mereka.

 

“jika hari ini kita bawa satu atau dua noken jualan maka hari ini juga kita dapat 500-800 ribuh rupia. Juga Kami sudah baca, Pak Klemen Tinal , Wakil Gubernur Provinsi Papua sempat mengeluarkan berita bahwa pasar lamah jangan dipindahkan kemana-manab" katanya.

 

Oleh karena itu, lanjut satu perwakilan mama-mama Papua ini  " biarpun pemerintah kabupaten Timika bangun ruko atau tempat jualan lain kami tidak akan terima jika itu tidak di pasar lama," tegasnya.

 

Sementara itu, Deli Pigai yang juga sebagai wakil ketua Koordinir  mama-mama Papua mangatakan pihaknya meminta kepada pedagang non-Papua  untuk tidak jula-beli Daun Gatal (Obat Tradisonal Papua) dan Pinang Buah sebab  jenis jualan ini ciri khas OAP.

 

"kami sudah pulang jam 9 malam, baru mereka (pedagang non Papua)  kasih keluar daun gatal dan pinang untuk di jual, ini aksudnya apa?" tanya Pigai.

 

Lebih lanjut, dalam orasi -orasi mama Pasar Papua mengaku,  terjadi kejanggalan-kejanggalan. Kejanggalan itu  ketika SatPol PP melarang mama-mama Papua berjualan di Pasar lama sementara non-Papua masih tetap jualan di pasar  tersebut.

 

“Mama-mama Papua menduga atas diperbolehkan orang  non-Papua boleh berjualan sementara Mama Papua tidak , bahwa pedagang pendatang sudah bayar 15 jutah kepada Sat POLPP .  Kami duga itu, " kata Mama Papasar Papua yang dipetik media ini.

 

Pantauan media ini, mama-mama Pasar Papua menyampaikan  aspirasi alternatif untuk diperahatikan kepada mama-mama penjual Pinang dan Noken di emperan jalan raya terutama di Jalan Budi Utomo,Timika Indah.

Aspirasi yang disampaikan oleh Mama-mama Papua secara spontan diterima oleh ketua Dewan Perwakilan Rakyat  Komisi  C Elminus B. Mom,SE, Wakil Ketua Komisi B Herman Gafur, SE  dan beberapa dewan lain yang hadir.

 

“Aspirasi Mama-mama Papua akan kami  sampaikan kepada pemerintah daerah.  Saya sangat-sangat mendukung karena tempat jual pinang dengan noken itu harus dibangun satu atap karena masyarakat tahan hujan atau tahan dingin, asap mobil ke sana-kemari, keamanan belum tentu tahu hal itu maka saya sangat setuju untuk pemerintah tanggung jawab pembangunan untuk mama-mama yang jual Noken dan Pinang "kata ketau Komisi C  DPRD Timika, Elminus B.Mom,SE ketika diwanwancarai media ini.

 

 

Kata dia, kemudian pasar yang lama kami sangat mengerti bahwa kalau orang jual ditempat yang tidak ramai, pasti mereka cari ditempat yang ramai perkembangan ekonomi seperti itulah. “Pasar tidak boleh main-main  karena presiden saja berhasil karena hasil pasar dan kebun kita juga demikian," kata Mom yang juga ketua Komisi C DPRD Timika itu.

 

Ketua Komisi C DPRD Timika ini  berharap agar pemerintah setempat tanggapi serius menangani masalah  terkait masalah pasar karena dinilai selama ini mama-mama pasar tidak punya tempat jualan yang layak, dalam hal ini Dana Otonomi Khusus (Otsus) adalah untuk menangani hal seperti ini.

 

“Pedagang non-Papua boleh berjualan tetapi tidak boleh ganggu ciri khas pedagang orang asli Papua," tegasnya.

 

 Ia pun menegaskan kepada, Sat POLPP jangan terlalu kasar dan  jalani tugas dengan baik , hargai hasil yang dihasilkan mama -mama Papua itu karena mereka beli dengan uang, kalau dihancurkan dan dirusakan siapakah yang akan ganti atau beli? Ini salah satu pelanggaran juga.

 

Sementara itu,  mama-mama Papua yang sempat menduga bahwa pedagang non-Papua bayar 15 juta kepada Sat Pol PP juga langsung ditanggapi oleh pihak Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten Timika, dalam hal ini melalui ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Timika Komisi C. "Jika dugaan itu benar maka ini Sat POl PP tidak adil," ujarnya.

 

Pasar adalah tempat umum sehingga ketua komisi C DPRD Timika, Elminus.B.Mom,SE berharap jika dugaan itu benar maka segera dikembalikan pada orang yang diberi, kalau tidak akan kita arahkan ke polisi.

 

Pewarta: Eman Muyapa

Editor: Manfrd Kudiai/KM

#Pemerintahan

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait