Mama-mama Pengrajin Noken Butuh Perhatian Serius dari Pemda

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

5 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Mama Andalinda Pakage sedang menjual noken rajutan di di Pasar Sanggeng Manokwari. (Foto: Jerry Giyai/KM).


MANOKWARI, KABARMAPEGAA.com- Pemerintah Provinsi Papua dan Papua Barat  harus prioritaskan  mama-mama pengrajin  noken Papua dengan cara mengadakan Peraturan Daerah (Perda) yang khusus membahas soal warisan budaya tak benda.

Hal tersebut dikatakan penggagas noken warisan Dunia, Titus Pekei kepada media ini,  Senin (10/08).

"Mama-mama noken berharap DPRP, DPRD kabupaten atau kota adakan Perda khusus tentang warisan budaya takbenda atau warisan dunia noken ini, khusus di tanah Papua," harap jelas tokoh pejuang Noken Papua ke Unesco, Titus Pekei.

Hal ini penting karena menurut Pekei, kita sama-sama medorong mama-mama pengrajin noken di  Provinsi Papua dan Papua Barat tetap memepertahankan; merawat dan tentunya juga menjunjung tinggi nilai-nilai budaya yang tertuang dalam noken itu sendiri.

Lebih lanjut, Titus Pekei mengatakan, "Pemda, baik Papua maupun Papua Barat, segera siapkan tempat jual, pasar, galeri, pengaturan harga."

Tapi, pengamatan Titus, sejauh ini Pemda tidak serius melihat mama-mama pengrajin noken.

"Pemerintah daerah harus bantu mama-mama noken yang trampil bikin noken sebab selama ini mereka  disepelehkan," katanya.

Noken adalah identitas orang asli Papua. Noken tergolong warisan budaya manusia komunitas kebudayaan dunia.
Untuk itu, tegas Pekei, siapa pun dia merendahkan noken warisan dunia berarti sama hal merendahkan warisan budaya, dan dengan begitu sudah pasti  dirinya seperti orang tidak berbudaya.

Belakang ini, aparat keamanan Indonesia diduga membatasi, menekan bahkan mengambil noken rajutan mama-mama Papua dan Papua Barat.

"Militer Indonesia (TNI-Polri) melarang, membatasi, menekan bahkan mengambil noken buah karya tangannya berarti telah  merendahkan diri kamk," katanya.

Menurut Pekei, Noken hasil keringat mama harus dibayar bukan asal disita. Ambil sepihak dengan seenaknya.

"Harus hargai talenta mama-mama  noken yangg kreatif bisa nyulam noken warna apa saja termasuk warna merah putih biru, hitam, coklat, rumah honai, bintang, busur panah, bola, pulau, bendera, dst," beber Pekei.

Untuk itu dirinya berharap, semua pihak termasuk aparat keamanan mesti paham soal ini. "Tidak ada barang yang gratis. Jika mau sita atau mau ambil silahkan bayar terlebih  dahulu tanpa ambil seenaknya saja."

"Noken sudah menjadi hasil usaha mama-mama noken. Hargai itu,  tanpa sepelehkan kedepan," pinta Pekei.

Sementara itu, salah satu mama-mama pengrajin  noken Papua,  Andalinda Pekage merasa kesal terhadap pemda yang lalai memperhatikan mereka pengrajin noken.

"Selama ini pemerintah tidak pernah memperhatikan kepada kami mama-mama penjual noken di Pasar Sanggeng, Manokwari, Papua Barat," ujar  Andalinda Pakage saat wawancarai di Pasar Sanggeng, Senin, (10/05).

Pada kesempatan itu, Andalinda juga menceritakan rutinitas mama-mama pengrajin noken di Papua Barat.

"Sebelum pergi ke pasar untuk jual noken, pagi-pagi sekali  kami biasa siap-siap. Setelah itu, rapikan rumah, masak makanan buat  anak dan keluarga kami," jelas Andalinda Pakage yang selalu jual noken anyaman asli Nabire, di Pasar Sanggeng Manokwari ini.

Tidak hanya mereka (mama-mama) tetapi kataAndalinda Pakage, ada juga mahasiswi yang datang jualan di Pasar tersebut. 

 "Mama-mama yang anaknya sudah masuk sekolah, mereka juga biasa antar anak-anak mereka ke sekolah, lalu mereka biasa datang jual noken di Pasar,"  katanya.

Untuk mahasiswa,  dari hasil jualan noken untuk keperluan uang kuliah dan kos mereka.

"Ade-ade mahasiswa dorang, hasil dari jualan noken,  biasa bayar uang semester dan uang kos, dan makan minum setiap hari," katanya.

Sementara untuk mama-mama, hasil dari jualan noken selain kebutuhan di rumah dan anak sekolah,  mereka juaga pakai untuk ongkos mobil ojek.

"Hasil dari itu kadang habis di ojek dan bayar taksi karena pemerintah belum pernah siapkan mobil buat kami," tuturnya terharu. 

Mama-mama pengrajin noken duduk bermandi  terik, hujan dan debu sepanjang hari. 

"Pemerintah harus melihat kami mama-mama Papua, bangun kami punya  pondok jualan kusus untuk mama-mama Noken Papua di  sekitar Pasar Sanggeng," tutupnya. (Jefry Giay).

 

Editor: Manfred Kudiai

Baca Juga, Artikel Terkait