Mama Malaikat Tak Bersayap, Ajarilah Aku Bersama Berjuang dalam Penderitaan

Cinque Terre
Frans Pigai

4 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Redaktur Artikel Media Online Kabar Mapegaa (KM)
Ilst, Mama Saat Menyusui/KM

 

Oleh, Frans P*)

 

OPINI, KABARMAPEGAA.com – Mama, disaat ini memang anakmu sulit untuk menjawab, tentang pertanyaan hatimu yang terpendam, sejak kau melahirkanku ini untuk menyelamatkan tanah, air dan hutan rimba ini (tanah Papua), dikala jua di balik jeruji ini.

 

Mama semua itu kita berpikir bahwa milik kita, namun yang punya orang lain dan mereka yang merajalelah di sini mama. Mama akankah kita akan memilikinya kembali?

 

Mama berikan pencerahan kepadaku agar aku bisa memperjuangkan, untuk memiliki kembali, namun mama aku sulit untuk merebut lahan aku dan airki mama. Mama akankah itu menjadi cerita dongeng bagi mereka yang diluar sana tentang aku, mama?

 

Saya tahu bahwa mama kamu dalam tekanan. Saya tahu, mama kamu dibawa trauma dulu hingga kini kau di jeruji besih. Kerinduanmu di wajah anakmu membuatku tak berdaya sayang mamaku.

 

Sayang mama, saya akan berjuan dan berjuang karena kau ajarkan derita bersama di balik jeruji besih ini. Sampai saya mengambil semua yang sudah direbut dari mereka.

 

Mama, di balik jeruji ini kau sudah ajarkan betapa penderitaan dalam perjuangan ini. Mama penderitaanmu, penderitaanku juga.

 

Kini, tak peduli apa kata mereka? Biarkan aku berhak bersuara dan mengambil sikap untuk terus berjuang. Tanpa ada kata menyerah. Tanpa mereka tahu perjuanganku yang hakiki bersama rakyat tertindas. Aku punya cara  pandang tersendiri untuk  berjuang bersama rakyat tertindas.

 

Mama, Malaikat Tak Bersayap

Kasih pahit dan manis Mama sepanjang masa. Surga ada di telapak tangan Mama. Di balik terali besih, kau pun tak lelah menyusuinya. Mama, kau perempuan pemberani dan hebat, kau relah berkorban demi anak dan seluruh rakyat tertindas di negri penuh kehancuran ini.

 

Itu adalah beberapa pepatah yang seringkali kita dengar. Yang menggambarkan bagaimana begitu besarnya kasih seorang Mama kepada anaknya, tentunya di balik jeruji yang kejam.

 

Sejenak kita melihat atau mengingat bagaimana kita lahir ke dunia ini, dimana seorang Mama dengan susah payahnya membawa kita di dalam perutnya selama 9 bulan penuh. Kita akan melihat begitu besarnya kasih seorang Mama di dalam menjaga anaknya di dalam perut.

 

Setelah kita lahir, seorang Mama akan menjaga anaknya dengan cara menyusuinya, kemudian merawat kita hingga dewasa.

 

Parjuangan Mama, mesti kita patut dan mensyukuri atas segala bentuk pengorbanan yang hakiki. Karena apapun yang terjadi di dunia ini, tidak pernah ada kata mantan anak ataupun mantan Mama. Tidak pernah ada.

 

Hubungan antara Mama dan anak, begitu erat sampai kapan pun. Tidak salah kalau dunia memberi penghargaan dengan adanya di hari penuh perjuangan ini. Mama, ajarkan aku terus berpuing dalam lemahnya jiwaku. Terus berpadu, berjuang di balik jeruri yang tak adil ini.

 

Monyet Pigai. Medan Juang, 17 September 2019

Baca Juga, Artikel Terkait