Manis Itu Racun

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

11 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Marthen .A. Kadepa, Mahasiswa Papua Yang Saat Ini Sedang Menempuh Pendidikan Di Salah Satu Universitas STBA LIA (Sekolah Tinggi Bahasa Asing) Di Tanah Kolonial Daerah Istimewa Yogyakarta

 

 

Oleh: Marthen .A. Kadepa

  

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM--Manis adalah salah satu jenis rasa di lidah manusia. Manusia lebih menyukai rasa manis dibanding rasa pahit. Berdasarkan penelitian, detektor rasa manis lebih banyak dibandingkan dengan detektor rasa pahit. Hal ini berdasarkan dugaan bahwa sejak zaman nenek moyang rasa manis lebih diasosiasikan dengan energi sedangkan rasa pahit lebih diasosiasikan terhadap racun (https://warstek.com/2015/11/21/manis/). Hingga kini orang masih meyakini serta mempertahankan bahwa manis adalah sesuatu jenis makanan yang paling baik sebab mereka berasumsi bahwa rasa manis itu dapat memberikan rasa yang sangat lezat dan memuaskan pada lidah mereka.

 

Contoh paling gamblang yang bisa kita lihat bersama adalah ‘Gula’.  Semua orang tahu dengan pasti bahwa gula adalah salah satu jenis makanan termanis yang paling terkenal di dunia. Gula selalu menjadi salah satu bahan makanan terfavorit oleh semua orang di dunia. Banyak orang menyukai makanan manis yang mengandung banyak gula. Namun, gula ternyata dapat membuat orang kecanduan. Tidak hanya itu, bahkan gula bisa disebut sebagai zat yang benar-benar beracun yang dapat menyebabkan kerusakan serius pada tubuh.

 

Gula tidak hanya berbahaya, tetapi juga merupakan suatu zat yang benar-benar beracun,” klaim Dr. Robert Lustig, professor pediatric di University of California, yang menjadi terkenal karena kuliah di Youtube, seperti dilansir Geniusbeuaty, Jumat (11/11/2011).

 

Menurut Dr. Robert, gula mengarah pada perkembangan sindrom metabolic diperparah oleh obesitas, yang meningkatkan risiko hipertensi, diabetes dan penyakit jantung.

 

Dokor menganggap bahwa fruktosa menjadi penyebab masalah ini karena ditandai dengan toksisitas meningkat jika dibandingkan dengan glukosa. Jadi, bahkan dengan kecil kalori, efek negatif lebih terlihat.

 

Sudah jelas, bahwa mengosumsi manisan berlebihan, lebih banyak insulin dilepaskan. Insulin yang mengubah gula menjadi sumber energy instan, yang menjelaskan sentakan energy tinggi dari donat atau sepotong kue. Setelah tinggi insulin dilepaskan, kadar darah gula mulai berkurang dengan cepat sehingga terjadi masalah tak lama setelah makan makanan manis.

 

Selain mengubah gula menjadi energy, insulin juga merangsang penyimpanan lemak. Oleh karena itu, semakin banyak gula anda makan maka lebih banyak insulin yang diproduksi. Akibatnya, semakin besar kemungkinan anda akan kenaikan berat badan.

 

Selain menyebabkan obesitas (kegemukan) kerusakan gigi, gula juga dikaitkan dengan kondisi kesehatan yang lebih serius, termasuk perubahan suasana hati, penurunan sistem kekebalan dan diabetes. Tidak hanya itu disamping itu  jika kita mengomsumsi gula terlalu berlebihan maka gigi kita bisa dipastikan hancur akibat kemanisan tersebut.

 

Fakta telah membuktikan dengan gamblang bahwa mengosumsi makanan atau minuman yang mengandung gula secara berlebih-lebihan akan menyebabkan kerusakan besar pada tubuh kita sekalipun gula kelihatan bagus dan begitu disenangi kebanyakan orang serta senantiasa dapat memberikan rasa manis cukup memuaskan pada lidah kita. Tapi adakalanya, dari rasa manis dan enak itu dapat merusak dan membunuh tubuh kita.  Maka dari itu, jadilah orang yang bijaksana dalam mengosumsi makanan ataupun minuman sebab rasa manis atau lezat di bibir belum tentu sebaik itu didalamnya.

 

Meskipun demikian, gula atau jenis makanan lain yang mengandung gula atau bahkan memberikan rasa secara konstan senantiasa dipandang sebagai salah satu jenis bahan makanan yang begitu rumit untuk dihindarinya atau kata yang lebih tepatnya lagi berhenti untuk tidak mengosumsinya lagi. Mengapa demikian? Karena faktanya manusia memang lebih menyukai yang manis dan enak saja ketimbang yang rasa pahit.

 

Semua orang tentu memilih yang rasa manis. Lagi pula, jika saya diperhadapkan pada dua pilihan manis dan pahit maka tentu saja saya akan memilih yang manis. Demikian pula anda. Orang tidak mungkin menyukai yang pahit atau beda rasanya sebab mereka tahu bahwa yang pahit itu menyebabkan racun ataupun sesuatu yang membahayakan pada kesehatan tubuh mereka. Bayangkan, zaman sekarang ini orang menyukai yang manis-manis saja ketimbang yang pahit. Itulah kecanduan kita manusia. Hati dan pikiran manusia selalu menghasratkan kemanisan ketimbang kepahitan padahal belum tentu manis itu baik.

 

Selain itu, makanan yang biasa kita komsumsi. Dalam kasus ini penulis ambil ilustrasi singkong. Kita semua tahu bahwa singkong adalah salah satu bahan makanan paling enak dan manis yang tentu saja dikomsumsi hampir kebanyakan orang. Singkong atau sering disebut dengan ketela pohon inipun disukai hampir semua orang termasuk saya sendiri. Tentu saja anda juga pasti suka itu dan mengosumsinya (singkong). Mungkin menurut kita itu bahan makanan yang bagus tetapi jika kita salah mengolahnya maka kesalahkelolahan itu akan menyebabkan sesuatu kecelakaan fatal bagi kesehatan tubuh kita bahkan kematian.

 

Hal ini telah di rilis dengan jelas dalam artikelnya  Dewi Anggraini - detikFood Rabu, 14 Nov 2018 19:00 WIB. Negara beriklim tropis memiliki tumbuhan ini. Singkong bahkan jadi salah satu sumber kalori di sana. Singkong bisa dimasak dengan berbagai cara, bisa dibuat menjadi roti, kerupuk, minuman, dan puding. Tapi ada satu fakta yang tak banyak diketahui orang, singkong mengandung lebih dari satu jenis sianida. Karena itu, jika tidak diolah dengan benar, konsumsi singkong dalam jumlah besar bisa sebabkan kelumpuhan bahkan kematian. Untuk lebih jelasnya lagi saudara bisa baca di (https://food.detik.com/info-kuliner/d-4302011/hati-hati-6-bahan-makanan). Di sana ia menjelaskan dengan gamblang dan lebih detil tentang beberapa bahan makanan yang mungkin tidak hanya meracuni tubuh kita tetapi juga bisa menghadirkan kematian pula.

 

Namun, saya berpendapat bahwa menyukai manis lebih ketimbang beda rasanya (pahit) itu bukanlah suatu sejarah atau hal baru yang terjadi namun ada akar historisnya. Hal itu tidak mengherangkan. Manusia pertama telah melakukannya. Kita semua mesti tahu akan sebuah kisah dari sejarah awal kejatuhan manusia pertama di Taman Eden dimana Adam dan Hawa memilih untuk tidak menaati pada ketetapan dan titah TUHAN Allah.

 

Adam dan Hawa lebih memercayai serta menaati pada rayuan si iblis yang penuh licik dan tipu daya itu. Mereka berdua memilih untuk tidak taat pada perintah Tuhan. Mereka lebih mempertahankan serta menuruti kehendak bebas mereka dengan memetik dan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat yang dilarang Tuhan itu. Sebagai akibatnya, Tuhan mengusir mereka berdua untuk keluar dari Taman Eden itu di tempat dimana Tuhan perama tempatkan mereka untuk mereka mendiami serta memelihara segala sesuatu yang Tuhan taruh di Taman Eden itu dan kemudian pada ahkirnya mereka berdua pun hidup terpisah jauh dari Tuhan.

 

Mungkin kita bisa berkata bahwa perbuatan itu salah dan tolol! Iya benar. Seyogianya, mereka telah salah dan telah melakukan suatu tindakan yang benar-benar memalukan. Karena tindakan itu adalah merupakan sebuah tindakan pelanggaran akan ketetapan dan titah Tuhan sendiri. Namun, kita tidak bisa menghakimi ataupun menyalahkan mereka sekalipun perbuatan itu salah dan menyakiti hati Tuhan. Mengapa saya mengatakan demikian? Karena memang sifatt dasar kealamiaan atau originalitas manusia. Manusia suka memilih jalan pintas saja dan suka menyendiri. Manusia lebih menyukai yang manis-manis dan enak saja ketimbang yang pahit. Manusia suka menaati pada kehendak bebasnya ketimbang tetap taat pada otoritas Sang Pencipta. Padahal kebebasan terhadap kehendak bebas (free will) adalah kutuk.

 

Adapun pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat itu! Buah pohon itu dipandang amat sangat cantik, elok, manis serta menarik perhatian orang. Lagi pula, buah dari pohon itu segar dan matang betul tentu rasanya pun sangat sedap juga dapat memberikan rasa kepuasan dilidah. Ditambah lagi, kata-kata manis dari si ular licik yang penuh meyakinkan dan mengharatkan. Penasaran, kan? Siapakah yang bisa menolaknya buah selezat seperti itu? Tentu semua orang mau, bukan? Ya tentu saja.  Anda dan saya pun pasti menyukainya. Apalagi buah itu dapat memberikan pengertian. Karena buah itu kelihatan sedap dan menarik perthatian dan hasrat maka Adam dan Hawa pun tidak tahan-tahan untuk memerik dan memakan buah dari pohon itu. Tapi kemudian apa yang terjadi selanjutnya? Sebagai akibatnya, tali hubungan mereka dengan TUHAN putus disitu dan mereka harus keluar dari Taman Eden itu. Tidak hanya itu tetapi kemudian segala tatanan hidup mereka pun hancur sekalipun mereka tidak langsung mati secara kematian fisik. Jadi, saya mau katakan kepada anda bahwa apa yang kelihatan enak atau manis dilidah kadang bisa jadi racun dan kadang bisa menyebabkan kematikan kekal terhadap tubuh fisik kita sekalipun rasa manis itu memberikan kepuasan di mulut.

 

Selanjutnya, racun tidak hanya bisa datang lewat makanan atau minuman tertentu yang mungkin kita komsumsi akan tetapi bisa juga datang lewat perkataan yang diucapkan dari mulut kita. Mari kita perhatikan dengan saksama nas Firman Tuhan di bawah ini:

 

Agar kita tetap jaga lidah kita terhadap yang jahat dan bibir kita terhadap segala macam ucapan-ucapan yang menipu”. Baca di (1 Petrus 3:10). Juga firman Tuhan mengatakan bahwa “Apa yang keluar dari mulut kita itulah yang menajiskan orang”. Baca juga di (Matius 15:18)”.

 

Ingat, Tuhan telah mengajarkan sekaligus telah mengingatkan kita dengan tegas agar kita tetap selalu jaga lidah kita terhadap kata-kata yang cemar, kasar, kotor dan tidak senonoh yang melukai dan menyakiti hati orang.

 

Tim nasional sepak bola Prancis harus kehilangan satu pemain dalam pertandingan Piala Dunia 2010 di Afrika selatan. Atas kesepatan semua delegasi Prancis Piala Dunia, Federasi Sepak Bola prancis (FFF) memulangkan Nicolas Anelka. Bukan karena penampilannya di pertandingan yang membuatnya “ditendang” pulang, tetapi karena tindakannya menghina pelatihnya, Raymond Domenech dengan kata-kata kasar di ruang ganti setelah babak pertama melawan Mexico berakhir. Terlebih Anelka menolak minta maaf atas perkataannya itu. Wakil Presiden FFF, Noel Le Graet mengatakan Anelka telah keterlaluan ketika mengatakan taktik Domenech.

 

Menjaga lidah kita tetap mengatakan sesuatu yang baik di tengah keadaan yang buruk memang tidak mudah, tetapi sesungguhnya kita bisa melakukannya jika kita memiliki penguasaan diri yang cukup baik. Jika kata-kata kita positif dan membangun, berkatlah yang orang lain terima saat mendengar dan mengikuti ucapan kita. Namun, jika perkataan kita negative, jangan menyalahkan orang lain jika mereka melakukan sesuatu yang buruk karena menuruti ucapakan kita. banyak orang pintar dan notabene terpandang, reputuasinya hancur karena kurang cakap menjadi lidah. Banyak pula orang yang dianggap bodoh dan biasa-biasa saja, dihormati banyak orang karena bijak dalam bertutur kata serta tahu kapan waktunya bicara dan kapan waktunya diam. Adakalanya kita memang harus diam, tetapi adakalanya kita harus bicara (Richard T. G. R. Kata-kata ini saya pinjam dari dalam bukunya yang berjudul “ CHARACTER BUILDER Menjadikan Anda Pribadi yang Berkarakter Seperti Yesus.” hal 12)

 

Jadi, berhati-hatilah dan jagalah lidahmu sebijak mungkin dengan segala kewaspadaan dan berusahalah untuk selalu mengeluarkan perdaharaan kata-kata yang baik lewat lidahmu karena memang lidah tidak punya tulang tapi ia mampu mematahkan tulang.   Dalam artian lewat kata-kata manis yang kita tuturkan dari mulut kita ke orang dapat melahirkan luka paling dalam yang menyakitkan. Itu sebabnya, saya mau tekankan bahwa kata-kata manis itu racun mematikan yang tidak hanya bisa membunuh kesehatan tubuh kita tetapi juga dapat menghancurkan seluruh tatanan hidup kita sekalipun kata-kata itu kelihatannya sedap didengar.

 

Selanjutnya, kita bisa lihat presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) yang sudah banyak kali berkunjung ke Papua dengan beragam janji-janji manis dan halus yang dilontarkan kepada orang Papua untuk membangun pembangunan di Papua dengan alasan kesejahraan dan kenyamanan bagi orang Papua dan tanah Papua.

 

Di lain sisi kita tidak bisa dipungkiri bahwa memang Jokowi telah berhasil membangun beberapa pembangunan di Papua seperti jalan trans serta pembangunan-pembangunan infrastruktur lainnya. Tetapi pertanyaannya kemudian adalah bahwa ‘Apakah pembangunan infrastruktur ini dapat mensejahterakan kehidupan orang asli Papua? Apakah pembangunan infrastruktur itu adalah keinginan dan kebutuhan hakiki bagi orang asli Papua? Apakah pembangunan infrastruktur itu sesungguhnya ideology Bangsa Papua Barat? Apakah pembangunan infrastruktur ini jalan satu-satunya penyelesaian terhadap semua pelanggaran hak asasi manusia (HAM) pembunuhan, pencurian, perampasan, pemerkosaan dan pendudukan illegal yang sudah sedang terjadi di atas bumi cenderasih Papua yang tak kunjung habis ini?

 

Jawaban dari semua pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas adalah ‘TIDAK’. Sebab justru karena pembangunan infrastruktur hadir di tanah Papua menyebabkan orang Papua punah habis-habisan tanpa diproses secara hukum baik di hukum nasional maupun juga hukum internasional. Tidak hanya manusia yang dibunuh tetapi juga tanah dan kekayaan pun turut dirampok dan dicuri habis-habisan secara tidak adil dan illegal oleh orang-orang tak kenal dari luar yang masuk di tanah Papua seenaknya seakan-akan mereka punya kuasa. Jadi, kita harus menyadari bahwa bagi orang Papua semua pembangunan infrastruktur yang di bangun oleh presiden Jokowi di Papua itu tidak ada gunanya akan tetapi hanya menambah kekerasan dan penderitaan terhadap rakyat Papua di atas tanah leluhur mereka sendiri. Bahkan hingga saat ini rakyat Papua masih meyakini bahwa kedatangan Presiden Jokowi ke Papua bukan mensejahterakan atau mendamaikan manusia dan tanah Papua namun sebaliknya, untuk merusak, menghancurkan dan menghabiskan sisa kekayaan dan manusia Papua di Papua.

 

Sebagai tambahan, contoh lain yang bisa kita lihat adalah perempuan sundal Samaria yang menggodai anak lelaki mudah dengan kata-kata penuh rayuan hanya untuk memuaskan hasrat kepuasan sementara. Memang kata-katanya terlihat begitu manis, halus, indah didengar juga menghasratkan hati namun kemanisan dan kehalusan kata itu belum tentu semanis seperti yang kita bayangkan atau kita pikirkan namun manis itu bisa jadi racun yang mematikan. Karena apa yang kita anggap baik, indah, cantik, dan manis dari luar menurut sudut pandang kita kadangkala tidak selalu semanis seperti itu didalamnya.

 

Oleh karena itu, saya mau menyimpulkan tulisan ini sekaligus merekomendasikan kepada anda bahwa berhati-hatilah dalam mengosumsi bahan makanan yang mengandung manis sekalipun memberikan rasa kepuasan di mulut karena apa yang enak di lidah kadang jadi racun yang beresiko fatal bagi tubuh kesehatan. Juga berhati-hatilah dalam menuturkan kata-kata sekalipun kata-kata itu tampaknya sedap didengar di telinga karena lidah adalah faktor penentu utama membangun dan merusak atau memberkati dan memgutuk baik hidupmu maupun juga hidup orang lain. Manis itu racun.

 

Penulis Adalah Mahasiswa Papua Yang Saat Ini Sedang Menempuh Pendidikan Di Salah Satu Universitas STBA LIA (Sekolah Tinggi Bahasa Asing) Di Tanah Kolonial Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

#Pemerintahan

#Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait