Massa Aksi Jogja Minta Papua Merdeka Sebagai Solusi Mengakhiri Rasisme

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

26 Hari yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Massa aksi Jogja, Minta Papua Merdeka Sebagai Solusi Mengakhiri Rasisme, di Nol Kilo Meter Yogyakarta. (Foto: Anselmus Gobai/KM)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Ratusan Massa di Yogyakatarta yang terdiri dari Mahasiswa dan Rakyat Indonesia turun aksi  long March ke Titik Nol Kilo Meter, Malioboro Yogyakarta, Selasa (20/8). Masa yang turun aksi ini menyikapi sikap Rasisme terhadap Orang Papua yang akhir-akhir ini ramai di bicarakan di media massa. Aksi kali ini di motori oleh Persatuan Rakyat untuk Pembebasan Papua Barat (PRPPB) dengan tema aksi “Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri untuk Mengakhiri Rasisme dan Penjajahan di West Papua.”

 

Dalam pernyataan sikap yang diterima media kabarmapegaa.com,  dengan tegas memaparkan tindakan represif yang dilakukan oleh aparat keamanan (TNI dan POLRI) dan ormas sipil reaksioner terhadap mahasiswa Papua dan kelompok Solidaritas semakin menjadi-jadi.

 

“Dalam satu bulan terakhir ini saja tercatat ratusan aktivis mahasiswa ditangkap oleh aparat keamanan saat hendak melakukan aksi demonstrasi damai di beberapa kota seperti Ternate, Ambon, dan Malang. Bahkan untuk Malang, massa aksi mendapat serangan verbal dan fisik. Mereka dimaki menggunakan nama binatang sekaligus dipukul, dan dilempari oleh Ormas Reaksioner serta aparat berpakaian preman. Akibatnya 6 orang terluka parah,” tulis PRPPB.

 

Menurut PRPPB, represifitas tidak berhenti di situ. Ke-esokan harinya tanggal 16 Agustus 2019 sekitar pukul 16:00 WIB mahasiswa Papua yang sedang berada di asrama Kamasan Papua Surabaya dikepung oleh TNI/POLRI, Ormas, dan SATPOL PP. Seperti yang terjadi di Malang, mahasiswa juga mendapatkan makian bernada rasis dari massa yang mengepung. Pengepungan juga disertai dengan perusakan fiber penutup pagar Asrama Kamasan Papua. Mereka menuduh mahasiswa Papua telah merusak bendera Merah Putih dan membuangnya ke selokan. Seiring waktu berjalan massa yang mengepung bertambah semakin banyak. Mereka meneriakan yel-yel seperti, "Usir Papua" dan "Bunuh". Sementara penghuni asrama sebanyak 15 orang harus mengamankan diri ke dalam aula asrama.

 

“Selama berjam-jam mereka terjebak di dalam aula, tanpa ada makanan dan minuman. Pukul 02:00 WIB dini hari, dua orang Mahasiswa asal Surabaya berinisial " AL" dan "AR" Mencoba masuk dan memberikan makanan saat mobilisasi mulai berkurang, namun setelah makanan sampai keduanya langsung digelandang oleh kepolisian ke Polrestabes Surabaya,” jelasnya.

 

 Pagi harinya (17 Agustus 2018) sekitar pukul 10:00 WIB massa kembali berdatangan. Pukul 13:30 WIB mahasiswa Papua  yang tidak tinggal di asrama (sebanyak 28 orang) datang dengan maksud memberikan makanan pada penghuni asrama yang terjebak di dalam.

 

“Keadaan di luar semakin ramai. Yel-yel terus menggema. Sekitar pukul 14:45 polisi dengan bersenjata lengkap berhasil merangsek masuk ke dalam asrama. Mereka berkali-kali menembakan gas air mata. 42 orang yang berada di asrama diangkut paksa menuju Polrestabes Surabaya menggunakan mobil Dalmas. Penangkapan ini disertai dengan pemukulan hingga menyebabkan mahasiswa Papua mengalami luka di sekujur tubuhnya. Polisi beberapa kali mengeluarkan suara tembakan sembari mendorong para mahasiswa untuk segera naik ke atas mobil Dalmas. Pukul 15:50 WIB mahasiswa Papua tiba di Polrestabes Surabaya dan langsung ditempatkan di salah satu ruangan. Polisi memintai mereka keterangan dan identitas.”

 

Inisial nama-nama mahasiswa yang terluka di Asrama Kamasan Surabaya, antara lain: 1) E.W , Perempuan ( 19  )  dapat pukulan/tonjok, 2) N. K Laki-laki ( 24 ) tangan kanan keseleo akibat didorong untuk tiarap di mobil Dalmas, 3) A. U Laki-Laki ( 56 ) Dipopor pada alis mata, 4)  K. Laki-Laki (23 ) Dipukul di pelipis, 5) F.P Laki-laki ( 33 ) Kena tembakan gas Air Mata di kaki.

 

Setelah Surabaya, TNI, Intel dan Ormas juga mendatangi Asrama Papua, kos-kosan Papua di Semarang, Jakarta, Jember, Bali, Bogor, dan Solo. Kelompok reaksioner itu kembali mengepung asrama Papua Makassar pada 19 Agustus di Sore hari. 

 

“Maka, Rasisme, penyebutan monyet papua, merupakan bagian dari penjajahan yang berkepanjangan di West Papua. Penjajahan Indonesia telah mengakibatkan pembantaian terhadap orang Papua dalam rangkain operasi militer paska pendudukan kolonial Indonesia. Penjajahan mengakibatkan orang Papua kehilangan sumber produksi, kekayaan alam diambil keluar oleh penjajah dan pemodal, dan menciptakan ketergantungan bagi rakyat West Papua.”

 

Berdasarkan peristiwa Surabaya, Malang, dan sejumlah kota lainnya yang dilanda pengepungan, penangkapan, pemukulan, dan didiskriminasi secara rasial, itu tidak terjadi karena kebetulan saja selain diproduksi dari rezim berkuasa. Penguasa menciptakan gagasan rasisme, memprovokasi warga untuk saling menyerang antara sesama kaum tertindas. Itu dilakukan hanya untuk mempertahankan status quo kekuasaannya dan memperpanjang penjajahan,

Massa aksi berada di Jalan Kususmanegara, long March ke Titik Nol KM. (Anselmus Gobai/KM)

Atas kejadian-kejadian represif  tersebut maka PRPPB menyatakan sikap:

  1. Mengutuk pelaku pengepungan Asrama Kamsan Papua Surabaya, dan penyerangan aksi damai di Malang, pemaksaan pemasangan Spanduk dan bendera di Asrama Papua Semarang serta pemukulan yang berujung pada penangkapan di Ternate dan Ambon.
  2. Tangkap dan adili aktor dan intelektual pelaku dalam pengepungan Asrama Kamasan Papua Surabaya dan penyerangan aksi mahasiswa Papua di Malang (15 Agustus 2019)
  3. Kepolisian Resort Kota Besar Surabaya, KODIM Surabaya dan Pemerintah Daerah Surabaya bertanggung jawab atas Pembiaran terhadap TNI, Pol PP dan Ormas Reaksioner yang dengan sewenang-wenang mengepung dan merusak Asrama Kamasan Papua.
  4. Pecat anggota-anggota TNI dan Satpol PP yang memulai provokasi penyerangan Asrama mahasiswa  Papua di Surabaya
  5. Hentikan rasisme! Manusia Papua bukan Monyet!
  6. Tangkap dan adili pelaku pemberangusan ruang demokrasi di Surabaya, yang mengakibatkan 5 orang terluka berat dan belasan lainnya luka-luka ringan.
  7. Ganti segala kerusakan materil dan immateril akibat dari penyerangan Asrama Kamasan Surabaya!
  8. Hormati dan Lindungi hak kebebasan berkumpul dan mengemukakan pendapat sebagaimana yang di maksud dalam konstitusi.
  9. Hentikan Aparat TNI/Polri provokasi warga yang tak tahu?menahu tentang politik Papua Merdeka dan NKRI Harga Mati.
  10. Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri untuk mengakhiri rasisme dan penjajahan di West Papua.

 

“Kemanusiaan yang adil dan beradab hanya mungkin tercapai apabila penjajahan, diskriminasi rasial, dan penindasan di atas dunia segera dihapuskan,” terangnya.

 

Sementara itu, pantauan media kabarmapegaa.com di lapangan,  masa aksi kumpul di titik nol asrama mahasiswa Papua (Kamasan 1) Yogyakarta, Jl. Kususmanegara, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada pukul  sekitar pukul 11.25  selanjutnya melakukan long murch ke titik Nol. KAsi dikahiri pada  pukul 15.13 WIB dengan membacakan pernyataan sikap.

 

Kondisi masa menutupi  ruas jalan Kusumanera, sehingga sempat sedikit membuat kemacetan di sepanjang jalan Kusumanegara. Didalam aksi  kali ini berjalan lancar dan pulang dalam keadaaa baik. Walaupun sebelumnya Sri Sultan sempat minta supaya Warga Papua di Yogyakarta Tak Perlu Demo. Namun massa tetap bergerak sambil menyanyian  Iyel-iyel yang dinyanyian oleh masa "Manusia bukan monyet lawan tasisme" serta bergantian orasi sepanjangan jalan Kusumanegara.

 

 

Pewarta: Anselmus Gobai

Editor: Manfred Kudiai

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait