Melalui Larasati, Pramoedya Bicara Isu Korupsi

Cinque Terre
Aprila Wayar

21 Hari yang lalu
NASIONAL

Tentang Penulis
Freelance Journalist
DIskusi Novel Larasati Karya Pramoedya Ananta Toer oleh Fawawi Club. (Dok. Fawawi Club)

 

Yogyakarta, KABARMAPEGAA.com – Bambang Muryanto, anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta mengatakan, melalui novel Larasati, Pramoedya Ananta Toer, novelis besar Indonesia bicara isu korupsi.

“Sejak dahulu, korupsi sudah terjadi: Seluruh kedudukan yang enak diambil orang tua. Mereka hanya pandai korupsi… angkatan tua itu sungguh bobrok. Hanya angkatan tua yang korup dan mengajak korup. Angkatan muda membuat revolusi melahirkan sejarah,” kata Bambang sembari mengutip salah satu quote novel Larasati dalam diskusi bulanan, Fawawi Club di Kafe Basabasi, Timoho, Yogyakarta, Kamis (20/08/2020) .

Menarik menurut Bambang  ketika ada bagian dalam karya sastra ini dimana diceritakan Larasati mendapat uang sebesar dua ribu Oeang Repoeblik Indonesia (Ori) dari Kapten Oding. Dari mana Kapten Oding mendapat uang sebanyak itu?

“Melalui tokoh bintang panggung, Larasati atau Ara, Pramoedya bercerita soal setting sejarah sekitar 1947 ketika Belanda datang lagi ke Indonesia dengan membonceng NICA. Dengan latar belakang situasi ini, Pramoedya mengungkapkan pandangannya tentang sejarah, para pejuang sejarah dan berbagai persoalan sosial yang masih relevan hingga saat ini,” katanya lagi.

Ada juga isu gender dalam novel ini, lanjut Bambang, Larasati adalah tokoh perempuan yang bekerja, madiri, dan bahkan ikut berjuang. Ia tidak mau ikut penjajah, walaupun kesempatan itu ada. Ia memilih republik.

“Ini adalah potret revolusi. Ada sosok pejuang, yaitu anak-anak muda yang tewas terkena meriam, pria TBC di penjara, pemuda-pemuda yang berjuang bersama Ara, Sersan Sopir yang mencuri mobil, orang-orang di Jakarta yang membantu gerilyawan, Kapten Oding. Ada juga sosok penghianat atau kolaborator seperti Djohan, Kolonel Soerjo Sentono dan Djusman,” ujar Bambang.

Bagi Bambang, kata-kata yang paling menyentuh dalam novel ini adalah ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, ada polisi dan militer. Hanya satu yang tidak ada: Keadilan.

“Membaca Larasati membuat saya menghayati bagaimana heroiknya para pejuang kemerdekaan Indonesia. Ada rasa ngeri yang dalam. Perasaan ini tidak saya dapatkan ketika menonton berbagai film perjuangan, apalagi yang dibuat sebagai propaganda pemerintah jaman Orde Baru,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, Mheii Warami, anggota Fawawi Club yang menjadi moderator dalam diskusi kali ini mengatakan novel ini sangat menarik dan ia hanya membacanya dalam sekali duduk.

“Bagian paling menggetarkan adalah saat Ara ditawan oleh pemuda Arab dan dijadikan budak seks. Padahal, setelah itu ia memiliki kesempatan lari tetapi tidak dilakukannya. Mengapa?” kata Warami. (*)

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait