Melihat Peran Pemerintah dan Makna Tersembunyi   Natal-Seminar-Tahun Baru Ipmanapandode se- Jawa Bali

Cinque Terre
Manfred Kudiai

6 Hari yang lalu
TULISAN

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Team Koor Ipmapapara Malang dengan Busana Adat saat Ibadan Natal Ipmanapandode se-Jawa Bali di Malang. (Foto: Doc. KM)

 

Oleh, Manfred Kudiai

 

Perkembangan kegiatan Natal Seminar dan Tahun Baru Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai Deiyai (Ipmanapandode)  se-Jawa Bali yang tiap tahun bergulir itu membawa dampak yang positif bagi  mereka yang merayakannya dengan serius.  Namun memiliki berbeberapa catatan yang harus diperhatian setiap pelajar dan mahasiswa yang mengikutinya. Catatan yang dimaksud di sini adalah mengapa para senior, atau alumni mengkonsep kegiatan ini. Pada awalnya ide atau gagasan adalah baik , untuk menciptakan persatuan dan kekeluargaan untuk mewujudkan misi bersama dalam menjaling hubungan antar sesama (Pelajar dan mahasiswa).

 

Hal ini tetunya tidak terlepas dari adanya atau berdirinya organisasi Ipmanapandode di setiap kota studi (Jawa-Bali). Dengan ini, pelajar dan mahasiswa diminta supaya berlajar bertanggungjawab dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut yang tak lepas dari sebuah arti pengorbanan. Mengorbankan kepentingan pribadi ( Kuliah) dan mengutamakan kepentingan bersama. Hal ini nyata setiap kota studi yang mengambil bagian (Kepanitiaan) dalam kegiatan ini.

 

Mengorbankan kuliah walau tujuan pelajar dan mahasiswa ke tanah Jawa untuk melanjutkan kuliah. Tetapi jaman menunut agar setiap pelajar dan mahasiswa tidak hanya  belajar semata di kampus tetapi diajak juga untuk belajar bertanggungjawab pada sebuah kepercayaan diberikan dan itu terbukti dari tahun ke tahun.

 

Dimulai sejak tahun 1998

 

Pertama kali Ipmanapandode menyelenggarakan kegiatan ini di kota studi Bandung,  Natal dan Seminar memasuki tahun 1998-1999.  Selanjutnya di kota studi Jakarta, tahun 1999/2000 kemudian selanjtnya dipercayaan kepeda kota studi Yogykarta-Solo pada tahun 2000/2001 seterusnya pada tahun 2001/2002 ke Jawa Timur yakni kota studi Surabaya. Pada tahun 2002/2003 ke Jawa tengah yakn kota studi Semarang-Salatiga.  Lalu  kembali lagi ke  Jawa Timur, Malang  pada  tahun 2003/2004  dan setelah dari Malang  kembali lagi ke Bandung pada tahun 2004/2005. Selanjutnya pada tahun 2005/2006 di Jakarta, kemudian pada tahun 2006/2007 di Bali. Setelah dari Bali, tahun  2006/2007 kota studi Yogyakarta-Solo.

 

Natal, seminar dan tahun yang diselenggarakan ini menimbulkan peningkatan peserta, (pelajar dan Mahasiswa). Banyak catatan bagi para pendahulu namun sayangnya saat itu belum ada yang menjelaskan secara tulisan sehingga semua pengalaman itu hilang ditelang waktu. Mungkin masih ada di ingatan para pendahulu jika melakukan wawancara dengan pihak-pihak (para alumni) yang teribat dalam kegiatan tersebut.

 

Untuk Natal, Seminar dan Tahun Baru  Ipmanapandode se-Jawa Bali pada tahun 2007 /2008, para pendahulu (Alumni.red) mencari dana dengan melakukan berbagai kegiatan. Kegiatan pecarian dana  dilakukan di luar Pulau Jawa. Seperti di Kota Nabire.  Kepanitiaan ini, pertama kali membuka turnamen sepak Bola di Nabire serta turnamen lainnya. Dan kegiatan ini dilakukan oleh kepanitiaan selanjutnya sehingga Piala Ipmanapandode se-Jawa Bali di Kota Nabire saat ini telah menjadi Piala yang bergensi atau selalu dinantikan oleh peminat Bola Kaki di kota Nabire. Dan kegiataan tersebut disambut baik oleh KONI Nabire dengan alasan kegiatan ini berdampak posisf untuk melahirkan bibit pemain bola kaki yang siap di pakai di Nusantara. Salah satu contohnya pemain sepak Bola, Ricky Kayame dari klub Koteka di Nabire yang selanjutnya bergabung dengan persipura kemudian saat ini sedang dipakai oleh Persebaya Surabaya.

 

Tahun ke tahun peserta Natal, Seminar dan Tahun Baru  Ipmamanapandode se- Jawa Bali melancat. Hal ini dikarenakan banyak pelajar dan mahasiswa dari empat kabupaten yang melanjutkan kuliah di Pulau Jawa dan Bali, seperti pada tahun 2008/2009 di Semarang, Jawa Tengah.

 

Pada tahun selanjutnya pada tahun 2009/2010 di Surabaya, disusul lagi pada tahun selanjutnya di Bogor 2010/2011; tahun 2011/2012 di Yogyakarta; tahun 2012/2013 di Malang; tahun 2013/2014 di Bandung, tahun 2014/2015 di Semarang; tahun  2015/2016 di Surabaya; tahun 2016/2017 di  Jakarta; tahun 2017/2018 di Yogyakarta dan tahun ini, 2018/2018 di kota studi Malang.

 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sejak 2007 pelajar dan mahasiswa yang berasal dari Nabire, Paniai, Dogiyai dan Deiyai  berbanjiran di Pulau Jawa. Peserta seminar dan tahun baru tiap tahu meningkat, sehingga kepantiaan yang dibentuk banyak yang mengorbankan banyak hal untuk mendaptkan atau mengumpulkan dana guna menyukseskan kegiatan tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa, mau dan tidak mau setiap kota studi yang ditunjuk sebagai panitia harus ada yang yang berhenti kuliah (cuti satu semester atau dua semester).

 

Belajar Pengorbanan

 

Bagi Junior yang tergabung dalam Ipmanapandode akan keliru  tetapi bagi yang senior atau yang sering ikut kegitan Natal ini akan mengerti dengan arti kata pengorbanan. Kata pengorbanan sering kita dengar dan bahkan kita ucapkan. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita mengetahui makna yang sesungguhnya dari kata tersebut?

 

Agar lebih mudah untuk memahami topik ini, maka alangkah baiknya, pertama-tama kita mengetahui defenisi kata tersebut. Pengorbanan berarti tindakan seseorang yang memberikan sesuatu (benda, dsb.) yang sebenarnya sangat (masih) bermanfaat besar bagi sang pemberi (dia merasa rugi), yang diberikan sebagai tanda bakti atau kesetiaan kepada seseorang - berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi II, 1991 halaman 526. Sebab itu jelaslah bahwa semua pengorbanan adalah sesuatu yang diberikan tetapi tidak semua yang diberikan adalah pengorbanan, hanyalah pemberian yang kita berikan kepada orang lain dimana yang kita berikan itu masih sangat bermakna bagi kita, itulah yang dikategorikan sebagai pengorbanan.

 

Berikut adalah satu hal yang sangat perlu kita benahi dalam hidup kita agar dengan melakukan hal itu kita layak dikategorikan berkorban bagi Allah yaitu Waktu. Semua manusia mempunyai waktu yang sama yaitu 24 jam dalam satu hari-satu malam. Masing-masing kita tentu perlu mengaturnya supaya kita tidak ketinggalan didalam segala musim. Dari tahun 2013 saya mengamati  bahwa ada sebagian anggota Ipmanapandode yang mengambil bagian penting dalam Kepanitiaan Natal dan Seminar Ipmanapandode se- Jawa Bali , mereka mengorbankan waktunya (untuk Kuliah). Saya katakan demikian karena waktu yang seharusnya dipakai untuk kuliah, mengerjakan tugas menyusun skiripsi dan lain sebagainya, justru dipakai untuk mengerjakan tugas dan kepercayaan Ipmanapandode di setiap kota studi. Padahal Kuliah merupakan kewajiban setiap mahasiswa dan Pelajar tentunya. Tetapi banyak yang tidak melihat hal itu. Semata-mata hanya dipergunakan untuk diri sendiri dan tidak mau mengorbankan waktunya untuk mendukung program-program yang dilaksanakan oleh kepanitiaan yang bersangkutan. “Berbahagialah mereka yang bekerja untuk kepentingan banyak orang dibandingkan dirinya sendiri.”

 

Pengorbanan itu baik adanya jika dimaknai dalam kehidupan sehari-hari. Sukses dan tidaknya kegiatan tergantung pada kesiapan dan kekompakan serta keterbukaan terhadap orang-orang yang dipercayakan dalam hal ini bagi kepanitiaan yang terbentuk. Hal ini sebetulnya  persoalan kecil dari dari persoalan mendasar yang telah di jalankan oleh kepanitiaan dari tahun ke tahun yang berakhir dengan sebuah arti kepuasan telah belajar  melayani. Dan melayani inilah yang sulit di praktekan dalam sebuah  kegiatan.

 

Belajar Bertanggungjawab

 

Dengan kegiatan ini, mengajak pelajar dan mahasiswa untuk belajar bertanggungjawab terhadap sebuah kepercayaan yang diberikan oleh Pelajar dan Mahasiswa yang tergabung dalam Ipmanapandode se-Jawa Bali.  Intinya kita (Pelajar dan mahasiswa) melalui kegiatan Natal ini mengajak untuk belajar bertanggungjawab selain  menimbah ilmu di bangku kuliah. Terkadang bagi yang ikut serta dalam kegiatan ini mengutamakan pelayanan. Mereka mengharapkan sebuah pelayanan yang baik. Sedangkan pegorbanan itu dirasahkan oleh mereka yang berjuang mendatangkan dana ratusan juta untuk menyukseskan kegiatan tersebut.

 

Mereka (Panitia.red) akan diarahkan pada sebuah nilai yang akan memberikan sebuah makna yang tersebunyi. Arti dari nilai kepuasan. Seperti yang dijelaskan oleh senioritas Marinus Goo dalam tulisannya yang mengatakan: Napak Tilas Kegiatan Natal dan Seminar Se-Jawa Bali 27 Desember 2018- 1 Januari 2019.

 

Suka-Duka dalam  Kegiatan Natal , Seminar dan Tahun Baru Ipmanapandode se- Jawa Bali [1]

 

Sebagai manusia apa pun kegiatan, sekalipun paling kecil tentu saja dapat ditemukan kesalahan atau kelalaiannya, apalagi kegiatan Natal dan tahun setingkat mahasiswa yang melibatkan hampir seribuan orang. Dalil ini bukan menutup kesalahan, namun dalam kehidupan sering ditemukan hal ini di mana-mana. Kelalaian yang terjadi bukan dilupakan, melainkan diratapi dengan satu sikap “metanoia” demi perubahan, dalam istilah “lepas-sambut”, secara sederhana melepaskan 2018 dan dambut 2019: dengan pemahaman apriori tidak mengatakan tahun 2018 adalah “tidak baik” sedangkan tahun 2019 adalah “yang paling baik”, melainkan secara batiniah: melepaskan hal-hal “yang buru” dan menyambut atau meningkatkan “hal-hal yang baik” dalam istilah yang dikenal dalam hampir seluruh kegiatan Natal dan seminar “perubahan, perbaikan dan persatuan” yang berpuncak pada tingkat rohani yakni “memperoleh hikmat kekudusan.” Tentang ini akan direfleksikan lebih dalam di bagian bawah.

 

Walaupun terjadi aneka kegagalan dalam perayaan ini, namun toh pada akhirnya “selesai”. Selesainya kegiatan Natal dan Seminar IPMANAPANDODE Se-JaBa secara tidak langsung mau menunjukkan bahwa “perayaan Natal dan Tahun Baru” telah dilaksanakan dan pernah mengalami. Maka, yang menjadi “ratapan” adalah “kenyataan” bahwa masih ada kegagalan-kegagalan kecil yang menjadi pembelajaran ke depan dan sekaligus menjadi “harapan” walaupun ada kegagalan “ada kesuksesan” di mana semua acara telah selesai: dengan ilustrasi “dari sampah akan tumbuh tanaman yang lebat dan menghasilkan buah yang banyak.” Artinya, biarlah segala kegagalan, kelalaian dan kesalahan yang terjadi dalam kegiatan ini menjadi suatu pembelajaran untuk ke depan, selanjutnya: apa yang baik, yang bernilai, yang terindah dan benar, dan berhikmat dan kudus menjadi satu kekuatan untuk menghadapi badai di tahun 2019 dan seterusnya.

 

Maknai Kegiatan Natal, seminar dan Tahun Baru Ipmanapadode se- Jawa Bali

Kegagalan dan kesuksesan disimpulkan sebagai “pengalaman manusiawi”. Pengalaman itu merupakan sejarah perjalanan yang diartikan sebagai “jejak atau napak tilas: satu rekaman akan kehidupan”. Perekaman harus dijalankan mulai dari sekarang agar sejarah tidak dilupakan. Salah satu caranya adalah dengan “menulis”. Mecatat secara ketat dan rapih agar menjadi satu dokumen, satu kesaksian nyata tentang kehidupan, menjadi sebuah pengungkapan realitas. Dalam materi jurnalis pemateri menekankan “pentingnya pemberitaan, membagikan informasi secara benar dan jujur” untuk membongkar realitas: demi menjaga kejujuran dan kebenaran tentang kehidupan. Menulis adalah satu cara perlawanan mencapai puncak kemerdekaan, untuk melawan lupa dan sekaligus menjadi cermin untuk memantau situasi yang mendorong ke arah yang lebih baik dan lebih menyelamatkan. Menulis itu butuh proses latihan yang panjang dan terus-menerus.

 

Aneka perlombaan yang diselenggarakan makin membuat para mahasiswa dan pelajar makin dilatih untuk perlunya meningkatkan daya kreasi dan inovasi, bukan sebatas membentuk watak “bagaimana mengalahkan orang lain atau lawan.” Jadi perlombaan bukan pertama dan utama bagaimana saya mendapatkan juara, malainkan bagaimana saya menjalankan peran, tugas dan fungsi yang diberikan: apakah bertanggung jawab atau tidak? Apakah sesuai atau tidak? Maka harapan di puncak perlombaan adalah pemberian diri yang terbaik untuk sesama mahasiswa dan pelajar (IPMANAPANDODE) Se-JaBa. Jadi perlombaan bukan soal juara atau tidak, melainkan bagaimana melalui perlombaan itu saya memberikan satu kejutan, satu kreasi dan inovasi demi membangun kesadaran bersama bahwa “persiapan itu penting”. Yang dimaksud adalah sebelum berlomba perlu adanya latihan, persiapan, sehingga di puncak dapat menyumbangkan karya, kreasi yang terbaik. Yang akhirnya, apa yang terbaik dari karya manusia dapat disatukan dalam karya Allah yang menyelamatkan.

 

Mengangkat kearifan Lokal

Menurut wikipedia kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri. Kearifan lokal (local wisdom) biasanya diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi melalui cerita dari mulut ke mulut.

 

Kearifan berasal dari kata arif. Arif memiliki dua arti, yaitu tahu atau mengetahui. Arti kedua cerdik, pandai dan bijaksana. (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

 

Kata arif seperti yang dijelaskan oleh Faris [2],  yang jika ditambah awalan “ke” dan akhiran “an” menjadi kearifan berarti kebijaksanaan, kecendekiaan sebagai sesuatu yang dibutuhkan dalam berinteraksi. Melayani orang, adalah orang yang mempunyai sifat ilmu yaitu netral, jujur dan tidak mempunyai kepentingan antara, melainkan semata-mata didasarkan atas nilai-nilai budaya dan kebenaran sesuai ruang lingkupnya.

 

Kata lokal, yang berarti tempat atau pada suatu tempat atau pada suatu tempat tumbuh, terdapat, hidup sesuatu yang mungkin berbeda dengan tempat lain atau terdapat di suatu tempat yang bernilai yang mungkin berlaku setempat atau mungkin juga berlaku universal (Muin Fahmal, 2006).

 

Kearifan lokal diartikan sebagai “kearifan dalam kebudayaan tradisional” suku-suku bangsa. Kearifan dalam arti luas tidak hanya berupa norma-norma dan nilai-nilai budaya, melainkan juga segala unsur gagasan, termasuk yang berimplikasi pada teknologi, penanganan kesehatan, dan estetika. Dengan pengertian tersebut maka yang termasuk sebagai penjabaran “kearifan lokal” adalah berbagai pola tindakan dan hasil budaya materialnya. Dalam arti yang luas itu maka diartikan, “kearifan lokal” itu terjabar dalam seluruh warisan budaya, baik yang tangible maupun yang intangible (Edy Sedyawati, 2006).

 

Wacana seputar local wisdoms atau kearifan lokal, biasanya selalu disandingkan dengan wacana perubahan, modernisasi, dan relevansinya. Hal ini bisa dimaklumi sebab wacana diseputar kearifan lokal pada prinsipnya berangkat dari asumsi yang mendasar bahwa, nilai-nilai asli, ekspresi-ekspresi kebudayaan asli dalam konteks geografis dan kultural dituntut untuk mampu mengekspresikan dirinya ditengah-tengah perubahan. Pada sisi lain ekspresi kearifan lokal tersebut juga dituntut untuk mampu merespons perubahan-perubahan nilai dan masyarakat.

 

Kearifan lokal itu tidak ingin hilang dari peredaran nilai sebuah masyarakat. Kearifan lokal didefinisikan sebagai kebijaksanaan atau nilai- nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan-kekayaan budaya lokal seperti tradisi, petatah-petitih dan semboyan hidup (Nasiwan, dkk, 2012).

 

Menurut Wales, sebagaimana dikutip oleh Nasiwan, dkk (2012) kearifan lokal dapat dilihat dari dua perspektif yang saling bertolak belakang. Yakni extreme acculturation dan a less extreme acculturation. Extreme acculturation memperlihatkan bentuk-bentuk tiruan suatu budaya yang tanpa adanya proses evolusi budaya dan akhirnya memusnahkan bentuk-bentuk budaya tradisional.

 

Less extreme acculturation adalah proses akulturasi yang masih menyisakan dan memperlihatkan local genius adanya. Yakni adanya unsur-unsur atau ciri-ciri tradisional yang mampu bertahan dan bahkan memiliki kemampuan untuk mengakomodasikan unsur-unsur budaya dari luar serta mengintegrasikannya dalam kebudayaan asli.

 

Selebihnya, nilai-nilai kearifan lokal mempunyai kemampuan untuk memegang pengendalian serta memberikan arah perkembangan kebudayaan. Oleh karena itu kebudayaan merupakan manifestasi kepribadian suatu masyarakat. Artinya identitas masyarakat tercermin dalam orientasi yang menunjukkan pandangan hidup serta sistem nilainya, dalam pola serta sikap hidup yang diwujudkan dalam tingkah laku sehari-hari, serta dalam gaya hidup yang mewarnai peri kehidupannya.

 

Kedudukan lokal genius ini sangat signifikan dalam konteks sebuah eksistensi kebudayaan suatu masyarakat atau kelompok. Hal ini disebabkan karena merupakan kekuatan yang mapu bertahan terhadap unsur-unsur yang datang dari luar dan yang mampu pula berkembang untuk masa-masa yang akan datang. Hilangnya atau pudarnya local genius, berarti pula memudarnya kepribadian suatu masyarakat, sedang kuatnya local genius untuk bertahan dan berkembang menunjukkan pula kepribadian masyarakat tersebut.

 

Menurut Edi Sedyawati (2006) setiap masyarakat tradisional, yang dalam kasus Indonesia itu berarti setiap suku bangsa, mempunyai kekhasannya dalam cara-cara pewarisan nilai-nilai budayanya. Pada masa Jawa Kuno, yaitu ketika bahasa Jawa Kuno digunakan sebagai bahasa resmi dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat berbagai kegiatan pendidikan yang dapat diketahui dari data artefaktual maupun tekstual. Kegiatan pendidikan disini adalah dalam arti luas, yakni yang bersifat formal, nonformal, dan informal.

 

Yang disebut pendidikan formal pada masa kini adalah yang ditandai oleh kurikulum yang jelas, serta sistem evaluasi yang jelas juga baku. Disamping itu untuk setiap program dan jenjang studi diberikan keterangan tanda tamat belajar, baik berupa ijazah maupun diploma. Adapun yang dimaksud dengan pendidikan nonformal adalah tidak diikat oleh keketatan masa studi maupun kurikulum yang standar.

 

Sedangkan pendidikan informal tidak diikat oleh batas-batas waktu maupun tingkatan, dan tujuannya adalah untuk secara umum memberikan informasi ataupun menanamkan watak, moral maupun nilai-nilai budaya ataupun keagamaan. Segala pertemuan insidental, maupun segala sesuatu yang disampaikan melalui media massa dapat tergolong kategori ini. Pada masa Jawa Kuno, saran pendidikan informal ini dapat dicontohkan oleh ajaran-ajaran yang disampaikan melalui rangkaian relief di candi-candi, pembacaan karya sastra, pertunjukan teater, maupun pelaksanaan upacara-upacara yang mengandung makna sosial religius.

 

Hal ini yang diangkat dari tahun ke tahun dalam kegiatan Natal, Seminar dan tahun baru Ipmanapandode se- Jawa Bali dengan mengadakan lomba pentas budaya, lomba cerdas-cermas Budaya, Lomba  cerita dongen dalam bahasa ibu.  Sehingga sudah dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini bukan semata-mata hanya pertemuan bersama kerabat (pasar, keluarga dll) apalaggi dianggap buang-buang waktu melainkan menggali indentitas diri [siapa saya, dari mana saya,  kemana setelah dari sini dan kepada siapa akan saya peraktekkan  semua ilmu pengetahuna yang saya belajar].

 

Mengangkat Minat dan Bakat

Dalam kegiatan ini tidak sebatas memaknai kelahiran Yesus serta menyambut tahun baru bersama pelajar dan mahasiwa sebagai bagian dari senasip menempuh studi di tanah rantau yang kemudian disebutnya anak rantau  berkesempatan untuk berkumpul bersama berbagi cerita merayakan kelahiran. Tetapi kesempatan ini juga memberikan panggung bagi meraka yang memiliki bakat untuk menampilkan apa yang telah mereka perolah [bakat dan minta] sebab belajar ataupun bekerja pada bidang-bidang yang diminati terlebih lagi didukung dengan bakat serta talenta yang sesuai, akan membawa gairah dan memberi kenikmatan dalam mempelajari atau menjalaninya.

 

Sayangnya seringkali pelajar dan mahasiswa memilih suatu jurusan atau bidang studi karena terbawa dan ikut teman-temannya, atau memilih bidang yang sedang popular, tanpa sempat mencerna lebih dahulu dan memahami bidang yang akan dipelajari, menjadi apa setelah selesai sekolah  atau kuliah. Lebih jauh lagi mengenali bidang pekerjaan seperti apa yang bisa digelutinya sesuai dengan latar belakang pendidikannya tersebut.

 

Mengembangkan minat dan bakat seperti yang yang dijelaskan oleh Ninik Wayati edisi Juni 16, 2009 (MENGEMBANGKAN BAKAT DAN MINAT) bertujuan agar seseorang belajar atau dikemudian hari bisa bekerja di bidang yang diminatinya dan sesuai dengan kemampuan serta minat dan bakat yang dimilikinya sehingga mereka bisa mengembangkan kapabilitas untuk belajar serta bekerja secara optimal dengan penuh antusias.

 

Sebelum 2013 penulis belum ketahui bagaimana alumni menyelenggarakan Natal, Seminar dan Tahun baru bersama Ipmanapandode se- Jawa Bali, namun pada  dasarnya sama. Kegitan-kegiatan ini telah dirumuskan oleh pendahulu dan itu yang diteruskan oleh generasi ke generasi walaupun dari tahun ke tahun ada perubahan. Perubahan ini ditandahi dengan perubahan jaman tentunya.  Konsep dari kita untuk kita itu kembali diterapkan oleh Ipmanapandode se- Jawa Bali  sejak tahun 2013 hingga 2018 kini di Malang.

 

Campur tangan Pemerintah

Kegiatan Natal, Seminar dan tahun Baru Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire Paniai Dogiyai Deiyai (Ipmanapandode) se- Jawa Bali yang tanpa alpa sejak 1998 – kini (2018) akan terus ada dan dilaksanakan ini perlu adanya campur tanggan pemerintah dalam upaya menyukseskan kegitan ini. Kegiatan semacam ini merupakan rencana yang tepat bagi setiap mahasiswa dan pelajar yang sedang menganyam studi di Jawa Bali.  Sebab melalui kegiatan ini, mereka (Pelajar dan mahasiswa) berkumpul untuk saling mengenal serta mengembangkan minat dan bakat serta kearifan lokal yang ada.

 

Setiap tahun jumlah mahasiswa dan pelajar meningkat, dengan demikian kerja-kerja yang dilakukan oleh kepanitiaan menguras tenaga dan waktu, seperti yang telah dijabarkan diatas. Walau itu bagian dari belajar bertanggungjawab dan berkorban. Berdasarkan data yang dikumpulkan, di Malang tahun ini meningkat seratus mahasiswa setelah di Jogja yang mencapai 900 pelajar dan mahasiswa. Dan di Malang mencapai 1000 lebih peserta belum lagi tahun-tahun yang aka datang. Jumlah yang bukan sedikit. Untuk itu perlu adanya perhatian dari pemerintah keempat kabuaten yang ada. Alasannya, Ipmanapandode se-Jawa Bali dengan kegiatan natal, seminar dan tahun baru ini menjadi lebih efisien, meningkatkan daya saing dan kualitas.

 

Perhatihan atau campur tangan pemerintah yang dimaksud di sini adalah mengalokasikan dana, untuk membantu melancarkan kegiatan tersebut dan jangan dianggap kegiatan yang membuang-buang waktu kuliah atau jam belajar bagi mahasiswa, bilah perlu untuk tahun selanjutnya yang jatu di kota studi Bogor nanti, setiap pemerintah mengirmkan perwakilan untuk menyaksiakan kegaiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pelajar dan mahasiswa  yang tergabung dalam Ipmanapandode se- Jaw Bali.  Hal ini dilakukan guna memamtau suapaya  meringankan beban kepanitiaan untuk kepanitiaan selanjutnya dalam upaya menyiapkan segala kegiatan.

 

Tidak dapat dipungkiri bahwa, setiap kota studi, harga makan dan minum serta tempat kegiatan tiap tahun meningkat, dengan menigkatnya harga juga menambanya jumlah pelajar dan mahasiswa maka dana yang dibutuhkan juga akan meningkat jumlahnya. Pemerintah harus mendukung kegiatan ini. khususnya kabupaten Paniai sejak 2016 telah di bahas dalam anggaran pendapatan daerah, dan tahun selanjutnya pemerintah Paniai membantu dana Rp 50 juta terpelas dari dana tugas akhir dan pemondokan bagi mahasiswa Paniai se- Indonesia.

 

Pejabat pemerintah yang peduli dengan kegiatan ini telah membuktikan keterlibatan mereka dengan menyumbangkan dana secara individu, seperti Yakonus Dumupa (bupati Dogiyai) yang mana membantu dana 100 Juta waktu natal, seminar dan tahun baru yang diselenggarakan oleh Ipmanapandode Jogja- Solo, kemudian disusul lagi oleh PJ Kabupaten Deiyai, FX Mote, memberikan dana 100 juta untuk kegiatan di Malang tahun ini, serta PF. FI yang pernah membantu 10 juta di Ipmanapandode Joglo  dan di Malang (Nominalnya belum diketahui). Serta para alumni  se- Jawa bali yang antusias mendukug kegiatan ini yang saya tidak dapat sebutkan satu per satu.

 

Campur tangan para pejabat ini telah memberikan nilai positif bagi pengembangan sumber daya manusia namun diharapkan kedepan pemerintah harus mendukung program kerja yang dilakukan oleh Pelajar dan Mahasiswa ini bukan secara individu melainkan diambil ahli oleh bidang terkait dalam sistem pemerintahan yang ada di empat kabupaten untuk mengaktifkan peran mahasiswa dan pelajar  dalam peningkatan Sumber Daya Manusia di kota studi kemudian kemabali membagun daerah masing-masing.

 

Mengapa campur tangan pemerintah sangat diharapkan?

 

Sebagaimana yang dijelaskan Yusrin Ahmad Tosepu (edisi Maret 31, 2018) di websitenya bahwa Mahasiswa adalah sekelompok masyarakat yang dapat dikategorikan sebagai kelompok tertentu yang dapat dikenali dengan melihat beberapa ciri, baik fisik maupun konsep ideal yang dimilikinya. Sementara, dalam konsep ideal mahasiswa, ia adalah golongan masyarakat yang biasanya dikenal sebagao golongan masyarakat yang memiliki cita-cita ke depan, menjadi penyeimbang antara pemerintah dan masyarakat, dan biasanya selalu berpihak kepada masyarakat, tidak pada kekuasaan.

 

Persoalan pembangunan daerah sangatlah penting guna memberikan sumbangsih terhadap kemajuan di tingkat nasional. Pembangunan daerah yang dimaksud adalah sektor pemberdayaan  masyarakat. Baik pembangunan dalam bidang ekonomi, dan pendidikan. Keduanya menjadi Tolak ukur kemajuan suatu daerah. Salah satu langkah pemerintah dalam mengatasi pembangunan daerah adalah menetapkan kebijakan otonomi daerah. Bahkan sampai kepada level desa. Dengan tujuan agar daerahlah yang menjadi pendorong kemajuan bangsa. Agar daerah itu sendiri yang merancang dan menentukan nasibnya sendiri.

 

Dengan demikian, pemerinatah daerah jangan menganggap kegiatan ini hanya bernuangsa berkumpul atau seremonial belaka tetapi dengan kegiatan ini, pelajar dan mahasiswa menggali potensi yang di milikinya serta mengangkat keraifan lokal sebagaimana yang dijelaskan diatas.

 

Otonomi daerah sebagai salah satu produk strategi pemerintah perlu disiapkan secara cermat dan profesional. Strategi pemecah kebuntuan oleh pemerintah daerah dalam hal mengentaskan kemiskinan dan pemerataan pembangunan. Mahasiswa sebagai bagian daripada masyarakat, memiliki fungsi dan peran yang sangat strategis dalam hal pemberdayaan masyarakat lokal dan pemerataan pembangunan. Yaitu tanggungjawabnya sebagai duta masyarakat untuk mentransformasikan pola pikirnya kepada daerah. Terkhusus mahasiswa yang tergabung dalam organisasi mahasiswa kedaerahan yang secara tujuannya mengfasilitasi peran mereka[4].

 

Melihat kondisi mahasiswa yang memiliki jargon agent sosial of change (agen sosial perubahan) sampai hari ini masih menjadi pertanyaan bagi masyarakat luas. Suatu keharusan bagi mahasiswa untuk membantu menyelaraskan antara pemerintah dan masyarakat. Bersatu padu kearah pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing yang tinggi.

 

Untuk mewujudkan Tridarma perguruan tinggi , Pelajar dan Mahasiswa Ipmanapndode se- Jawa Bali selalu mengadakan berbagai kegaiatan di empat kabupaten yang ada, mengangkat bakat dan minat melalui turnamen, pelatihan, serta kerja bakti  yang menamakan kegiatan pencarian dana Natal dan Seminar Ipmanapandode se- Jawa Bali. Bahkan hal ini diabaikan oleh pemerintah yang ada. Padahal mereka (Panitia.red) mengabaikan kuliahnya untuk menyukseskan kegiatan tersebut. Dan diharapkan untuk kedepan pemerintah keempat kabupaten perlu bekerja sama dengan pelajar dan mahasiswa dalam melakukan pelatihan maupun kegiatan keolahragaan lainnya. Pemerintah yang ada jangan menganggap Ipmanapandode ataupun organisasi mahasiswa daerah lainnya yang ada dianggap kurang menunjang masa depan di bandingkan organisasi intrakampus.

 

Pernyataan seperti ini menurut saya sangat kurang tepat  sebab organisasi mahasiswa daerah sangat dibutuhkan mengingat fungsinya sebagai wadah pemersatu sesama mahasiswa perantau yang membutuhkan keluarga yang mampu menjaga dan membantunya selama berada jauh dari rumah. Juga sebagai sarana kontribusi para anak rantau untuk daerahnya, tentu dengan fokus pada pembangunan daerah.

 

Didalam Ipamanapndode maupun organisasi mahasiswa daerah lainnya tentu  terdapat kegiatan-kegiatan yang sangat bermanfaat salah satunya adalah merayakan Natal, seminar dan Tahun Baru. Serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Ipmanapandode di tiap kota studi  yang ada. Tak kala pentingnya juga untuk menjaga nilai-nilai budaya daerah agar tidak luntur di tengah arus modernisasi dan heterogenitas budaya yang ada di kampus. Selain itu juga berperan dalam menjaga semangat dan cita-cita untuk kembali membangun daerah setelah selesai agar tetap terjaga pada diri masing-masing anggota.

 

Pemerintah Daerah (Paniai, Dogiyai, Deiyai dan Nabire) jangan menganggap Organisasi mahasiswa daerah yang ada di tiap kota studi, (Ipmanapandode untuk sejawa bali), (Ipmanpanpandodei, untuk se Sulawesi) serta di setiap kota studi yang menyelenggaraan kegiatan yang merangkul satu Pulau itu,  bukan hanya sebagai tempat kumpul-kumpul anak rantau yang mencari hiburan karena banyak kesibukan dikampusnya, tetapi juga memberi manfaat bagi daerah yang ditempati juga daerah darimana mereka berasal yang nantinya setelah mereka kembali ke daerahnya msing-masing diharapkan akan lebih giat dalam membangun dan memajukan daerahnya.

 

Makna yang mendalam dirasakan dalam kegiatan Natal seminar dan Tahun baru ini adalah terciptanya suasana kekeluargaan dan tali persaudaraan kasih sayang yang sudah diperetat oleh faktor kedaerahan yang semakin erat dan meningkat. Jika sudah lebih akrab dan saling mengenal pribadi dan sifat masing-masing anggota, maka akan semakin mudah mahasiswa organisasi daerah dalam berkontribusi untuk daerahnya.

 

Untuk itu, akhir dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa keiatan Natal, Seminar dan tahun Baru Ipamandode se- Jawa Bali sebagai upaya memberikan kontribusi kepada daerah serta ikut andil dalam upaya membangun persatuan, maka hal ini menjadi problema yang rumit bagi setiap mahasiswa dan pelajar  dalam mencapai masa depan yang gemilang.

 

Kota studi merupakan tempat menimba sekaligus mengasah kamampuan intelektualitas  yang diasa melalui organisasi daerah sebagai seorang mahasiswa yang siap berperang dalam mengankat kearifan lokal serta upaya peningkatan skill dan softkill masing-masing. Sehingga kontribusi pemerintah  sangat penting untuk menunjang terhadap peningkatan kemampuan mahasiswa. Sebab hal ini merupakan upaya yang harus diperhatikan bagi setiap stacholder dunia pendidikan baik terhadap pemerintah dan kontribusi praktisi dan akademisi. Mengharapakan bantuan dari pemerintah untuk lebih memperhartikan kegiatan organisasi mahasiswa. Semoga suara kami didengar oleh pemerintah agar ditindak lanjuti kedepannya. Suara kami adalah suara seluruh masyarakat Papua khsusunya di Meepago  yang mengharapakan kemajuan pendidikan. Para perwakilan rakyat sudah seharusnya menyuarakan harapan kami agar terwujudnya masyarakat Papua yang cerdas dan tidak buta lagi dalam dunia pendidikan.

 

Untuk pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam Ipmanapandode Joglo diminta untuk hilangkan gensi, dan ikuti kegiatan yang membangun ini agar terciptanya rasa kekeluargaan yang utuh, menjaling misi yang sama untuk membangun Papua pada umumnya dan khusunya di Meepago tercinta. Dengan demikian, pesan dari akhir tulisan ini, dengan tegas penulis menghimbau agar menghargai pengorbanan Panitia, hilangkan gensi  kota studi dan berubah menjadi satu.

 

Refrensi:

 

[1] Marinus Goo. 2 Janari 2019. "Napak Tilas Kegiatan Natal dan Seminar Se-Jawa Bali 27 Desember 2018- 1 Januari 2019" “ttps://kabarmapegaa.com/Artikel/Baca/napak_tilas_kegiatan_natal_dan_seminar_se-jawa_bali_27_desember_2018-_1_januari_2019.html

[2] Fariz. 8 Agustus 2018. "Apa yang dimaksud dengan Kearifan Lokal?"https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-kearifan-lokal/116564.

[3] Ninik Wayati edisi Juni 16, 2009."MENGEMBANGKAN BAKAT DAN MINAT" https://bimbingankarir.wordpress.com/2009/06/16/mengembangkan-bakat-dan-minat/.

[4]  Yusrin Ahmad Tosepu. March 31, 2018. "Peran Mahasiswa dalam Peningkatan Sumber Daya Manusia di Daerah" http://yusrintosepu.wixsite.com/yoes/single-post/2018/03/31/Peran-Mahasiswa-dalam-Peningkatan-Sumber-Daya-Manusia-di-Daerah

 

 

Penulis adalah ketua Ipmanapandode Jogja-Solo, periode 2017-2019

 

 

 

#Budaya

#Pemerintahan

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait