Memahami tentang Papua Punya Multi Intelektual

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Tahun yang lalu
PENDIDIKAN

Tentang Penulis
judul, Memahami tentang Papua Punya Multi Intelektual, dan foto dan logo di satukan (Foto A Gobai/KM)

 

Oleh, Demi Nawipa

OPINI KABARAMAPEGAA.COM--Sebelum saya menjelaskan dalam bentuk tulisan ini dengan sudut pandang saya tanpa dasar teori apapun terkait judul tersebut, saya mengucapkan selamat merayakan hari besar "Qurban Adha" bagi saudara sesama manusia yang beragama Islam di Indonesia dan Papua, semoga kita selalu dapat diberkati dan dilindungi oleh Tuhan yang universal sebagai Pencipta Alam Semesta beserta segala isinya.

 

Pada hari selama 1 jam yaitu sekitar pukul 13:00 sampai pukul 14:12, waktu Jawa, saya telah membaca tanpa memahami baik dan utuh tentang sebuah buku yang berjudul "Sejarah Australia Selayang Pandang, yang ditulis oleh Drs.J.Sabari", dalam pengantar buku itu beliau sendiri mengakhiri dengan kalimat "penulis yakin bahwa isi buku ini masih sangat kurang", kalimat ini menjadi sebuah pemikiran yang saya merasa bertanya bahwa mengapa penulis ini menyampaikan begitu. Setelah saya membaca isi buku itu banyak penjelasannya yang benar diulas hanya dengan sejarah masa lalu, namun banyak yang salah dan tidak ulas lebih dalam, khususnya yang terkait dengan Pulau Papua serta flora dan fauna yang sangat sama dan bersatu dengan benua kanguru (Australia). Dalam buku itu juga suku-suku asli Australia tidak diulas lebih dalam, tetapi saya apresiasi penulis buku ini memberikan sebuah gambaran yang sangat bermanfaat bagi para pembaca termasuk pula saya.

 

Penulis buku ini, menjadi sebuah contoh kecil yang perlu ditiru kita semua yang mempunyai beragam intelektual dalam hidup yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan serta komunikasinya.

 

Kita (Papua) juga lagi mempunyai multi intelektual, bahkan ada pula yang mempunyai intelektual paksa (hanya disebut-sebut intelektual) tanpa mengukur diri dengan inteligensi yang dimilikinya secara nyata. Maka, kita (Papua) yang punya multi intelektual ini perlu memahami terkait satu contoh intelektual penulis buku yang saya sebutkan itu, biar kedepan itu result intelektualnya benar-benar mendarat di diri kita demi kepentingan masa depan Papua yang pasti.

 

Saya kembali menulis terkait judul itu, bahwa benar kita perlu memahami dan merenung diri bahwa, walau kita mempunyai multi intelektual, tetapi apakah kekuatan intelektual kita itu sudah menjadi nyata benar demi menjaga warisan budaya, flora-fauna, manusia lokal (local societies) yang tersisah, serta Papua secara integral? Kalau tidak dan ragu membuktikannya maka mengapa kita sering disebut-sebut sendiri "saya intelektual"? apakah kalau kita tanpa sebut saya intelektual-intelektual di muka publik akan menjadi rugi dalam hidup ? tentu tidak, namun pantas sering terjadi begitu karena memang kita (Papua) perlu memahami tentang multi intelektual itu serta isi kadarnya mulai dari hal-hal yang kecil seperti; membaca, menulis, berdiskusi dan mempraktekkan dalam hidup demi kebaikan dan keselamatan sesama rakyat yang lagi menderita dan semakin tak berdaya itu.

 

Terkait dengan ulah para multi intelektual itu, sering memunculkan masalah yang sangat merugikan demi keluarga, sahabat, sesama marga, sesama suku, dan bangsa serta sesama manusia yang beda agama; seperti contoh kecil yang saya bisa jelaskan itu, saat pemilihan kepala daerah kabupaten Paniai & kabupaten Deiyai di propinsi Papua bahwa mengapa setelah dilakukan pemilihan masalah mereka dibawa ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait hasil ulah para pelaksana PILKADA ( KPU & Panwaslu) adalah disebut sebagai orang-orang hebat dan intelektual, dan mereka sendiri menjadi tim sukses bagi para kandidat tertentu lagi, kalau seperti demikian pelaksana PILKADA yang independen itu siapa ? lalu masyarakat yang punya hak mutlak yang telah memberikan suara menjadi bingung dan korban dalam kepentingan politikus itu. Jadi, kita sama-sama kategorikan intelektual seperti ini, tergolong apa ? soalnya Papua punya multi intelektual berkembang semakin pesat dan bertumbuh subur ini...!! apakah intelektual model begini kategori intelektual bias politikus lokal demi membangun kepentingan elit busuk dan koruptor secara sistematis yang dibangun dari pemerintah pusat (center government) ? terkait ulasan itu kita renungkan dan memahami demi masa depan Papua yang lebih baik.

 

Kita memahami baik juga bahwa Papua (kita) punya multi intelektual, yang seharusnya benar-benar menyatakan dan mendaratkan keadilan, kejujuran dan kebenaran di tengah-tengah masyarakat lokal yang lagi berubah dan diubahkan tatanan hidup mereka yang seharusnya dibangkitkan kembali kebiasaan basis hidup mereka sebagai bagian keutuhan budaya disertai nilai-nilai warisan budayanya.

 

Maka, untuk memahami kita (Papua) punya multi intelektual yang saya maksud itu, saya membagi beberapa kategori intelektual orang Papua tanpa teori, namun saya menulis berapa kategori berdasarkan realitas yang terjadi di Papua, yaitu:

 

1). Bapak-Bapak Intelektual

 

Menurut saya, kita orang Papua pernah punya dan lagi punya bapak-bapak intelektual. Mereka itu punya pengalaman yang sering dan selalu diceritakan di kalangan umum, mulai dari kampung masing-masing di Papua sampai di negara-negara asing. Bapak-bapak intelektual Papua itu menurut saya ada dua, yaitu; mereka yang telah meninggal dunia dan tinggalkan cerita kebaikan untuk Papua menjadi sebuah sejarah hidup dan yang kedua adalah mereka yang telah mengikuti dan tahu benar tentang sejarah Papua dan lagi hidup menjadi Bapak bagi kita Papua hari ini dan ke depan.

 

Bapak-bapak intelektual Papua masa lalu, adalah Markus Wonggor Kaisiepo, Nicolas Jouwe, Tagahma, runaweri, songgonau, Viktor Kaisiepo, Awom, Aronggear, Yakon Prai, Rungkorem, Dr. Wainggai, Ondawame Octo, Arnold Ap, Theys Eluway, Pater Nato Gobai, Agus Alia Alue, Frans Wospakrik, Wospakrik (fisikawan), dkk-nya yang lain. Sedangkan Bapak-bapak intelektual Papua pada masa kini yang perlu diikuti oleh generasi muda Papua adalah banyak dari tokoh agamawan Papua, akademisi Papua yang selalu mengabdi di sekolah atau kampus demi memajukan SDM masa depan Papua, para pekerja LSM dan wartawan Papua, para penulis buku untuk Papua tanpa dipengaruhi elit politik pemerintah, para PNS dan politikus partai yang selalu membangun daerah tanpa diskriminasi, tanpa korupsi, dan selalu bersuara jeritan masyarakat asli Papua yang lagi berubah dalam kehidupan modern. Dan mereka ini yang selalu melandaskan membaca buku, menulis, berdiskusi, bersuara, dan lain-lain yang baik.

 

2. Intelektual Teori Diam

 

Saya maksud para intelektual Teori Diam adalah mereka yang benar-benar kuliah sampai keluar negeri dan memperoleh gelar doktor dan magister tetapi tak pernah tahu penelitian dan pengabdian di tengah-tengah orang asli Papua yang lagi berubah dengan ancaman style hidup modern. Dan, mereka ini sangat mudah dapat dipengaruhi oleh kepentingan asing melalui pemerintah pusat dengan cara dimanfaatkan ilmu pengetahuan secara teori yang dimiliki menjadi jembatan penelitian yang pada akhirnya menghancurkan tatanan hidup masyarakat lokal.

 

3). Intelektual Boneka Jakarta

 

Saya dapat kategorikan intelektual boneka Jakarta, yang ada di Papua adalah mereka yang sering dan selalu beli-beli ijazah sarjana, magister, bahkan sampai doktor tanpa diikutkan proses kuliah (aturan akademik di perguruan tinggi), oleh karena ada kepentingan terselubung antara Jakarta dan Papua yaitu dengan kalimat dibuktikan untuk mempercepat pembangunan SDM Papua dalam era Otsus di Papua. Namun, mereka tidak sadar bahwa melalui metode ini selalu memberi pupuk para koruptor biar dilahirkan terus koruptor-koruptor baru sampai benar-benar Papua menjadi hancur.

 

4). Intelektual Coba-coba

 

Intelektual Coba-Coba (coba-coba intelektual) adalah semua generasi muda Papua yang sudah menjadi sarjana dan lagi belajar di perbagai perguruan tinggi di dunia. Dalam kategori ini, termasuk saya.

 

Generasi kita ini adalah calon intelektual menuju ke tahapan benar-benar menjadi intelektual. Namun, untuk menjadi seperti bapak-bapak intelektual atau menjadi seperti intelektual boneka Jakarta dan atau seperti intelektual diam teori itu tergantung dan pengujian proses belajar kita, sebab sebuah garis proses belajar kita (pengalaman belajar) itulah yang akan menjadi kekuatan dan penentu ke masa depan kerja kita yang akan disebut intelektual.

 

Jadi, saya hanya sampaikan bahwa perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ini sangat pesat, maka kita harus menghadapi itu dengan kesabaran yang tinggi dalam proses belajar kita, tanpa melupakan membaca buku, menulis, berdiskusi, serta menghidupkan kembali belajar bahasa Inggris tanpa melupakan bahasa lokal demi masa depan Papua yang benar-benar intelektual demi mempertahankan integritas bangsa Papua dalam bingkai "satuPAPUA" yang maju dan maju negara.

 

5). Intelektual Kerja

 

Menurut saya intelektual kerja adalah orang yang selalu kerja keras dalam perjuangan hidupnya dalam bidang dan talenta yang dimilikinya berdasarkan budaya. Intelektual kerja juga merupakan orang yang selalu tak mau kerja dalam sistem orang yang mempunyai kepentingan para politikus musiman, sehingga selalu membangun ekonomi, pendidikan, dan pemahaman kerja yang dimulai budaya hidup dari keluarga dan sesamanya di kampung, lalu mulai berpikir ke daerah sesuai bukti intelektual kerjanya kemudian lagi berpikir demi sebangsa dengan kerjasama berbasis saling menghargai dan dihargai bahkan sampai saling mendukung untuk mewujudkan satu tujuan sebagai sebuah bangsa yang ingin bebas dari penjajahan ekonomi kapitalis, ancaman dari militerisme dan kolonisme secara sistematis yang dibangun oleh negara penjajah.

 

Itulah ulasan terkait judul di atas yang perlu kita memahami bersama, lalu mulai berpikir lagi terkait kondisi yang selalu terjadi perubahan dalam hidup kita sebagai manusia yang mempunyai inteligensi yang tinggi dan kemampuan itu benar-benar dibumikan intelektualnya demi bumi manusia yang lagi menjadi rebutan kepentingan bangsa non Papua dari negara-negara lain.

 

Pada akhirnya, saya mohon maaf para pembaca tulisan ini, bila ada kata-kata yang menyinggung perasaan anda, tetapi tulisan itu sebagai bagian dari saling berbagi pikiran yang baik demi masa depan yang lebih baik. Akhir kata "bukakanlah mata untuk membaca, peganglah penah di tangan untuk menulis, berpikirlah untuk berdiskusi lalu fungsikanlah ketiganya itu untuk bertindak (kerja) demi masa depan Papua yang lebih baik (Kabarmapegaa.com.)

Penulis adalah Mahasiswa Papua, Sedang Menempuh Kuliah di Pulau Jawa.

Baca Juga, Artikel Terkait