Membesarkan Anak Seorang Diri Bukan Perkara Mudah

Cinque Terre
Aprila Wayar

1 Tahun yang lalu
LAINNYA

Tentang Penulis
Freelance Journalist
Ryan Saroy (Dok. Pribadi)

 

Perempuan kuat adalah dia yang mampu tersenyum di pagi hari seakan-akan ia tidak menangis malam tadi. – anonim -

Pernikahan indah bak kisah cinderela adalah mimpi rahasia setiap anak perempuan. Dan setiap perempuan ingin mewujudkannya pada saat dewasa. Demikian juga dengan Ryan Saroy, seorang perempuan Papua yang akhirnya memilih membesarkan sendiri anak-anaknya karena mahligai pernikahannya kandas di tengah jalan.

Kebanyakan perempuan memilih diam dan menerima saja keadaan yang menimpanya, seburuk apapun itu. Hanya sedikit perempuan yang mau membawa masalahnya ke publik dengan berbagai resiko yang dihadapi. Baik dari pihak keluarga maupun masyarakat.

“Banyak perempuan mengalami hal yang saat ini sedang saya alami, hanya saja mereka tidak mau memunculkannya di ruang publik. Mungkin karena malu, atau juga karena tekanan dari pihak-pihak tertentu,” kata Ryan, panggilan akrab karyawati sebuah bank milik pemerintah di Kabupaten Lanny Jaya, Provinsi Papua.

Ia bersyukur mendapat kesempatan melayani masyarakat Papua melalui pekerjaannya sekarang. Walau pada masa kuliahnya, ia ingin sekali menjadi seorang pengacara, menerapkan ilmu yang diperoleh selama berada di bangku kuliah. Ya, seiring berjalannya waktu, keinginan tersebut harus dikubur dalam-dalam karena kesempatan bekerja di bank lebih terbuka lebar. Apalagi pada saat itu, ia memiliki tanggung jawab membesarkan Queentiano Rachquel Paul Saroy yang biasa dipanggil Quello, putra pertamanya seorang diri. 

“Masyarakat menilai anak diluar pernikahan adalah aib tetapi tidak untuk saya. Awalnya saya juga merasakan tekanan dari pandangan banyak orang, apalagi ayah biologis Quello lari dari tanggung jawab tetapi saya selalu percaya kalau anak adalah pemberian Tuhan,” kata perempuan yang lahir dengan nama asli Adriana Kontantina Mince Saroy.

Bagi Ryan, Quello adalah penyemangat dalam hidupnya. Apalagi begitu banyak perempuan yang menginginkan anak tetapi tidak juga diberi kesempatan. Ia hanya belajar menerima dan mensyukuri itu.

Perjalanan waktu mengantarkan perempuan berdarah Moor – Ansus ini memasuki mahligai rumah tangga. Sayangnya, kisah cinta yang berawal manis ini harus kandas di tengah jalan karena kehadiran perempuan lain. Kadang ia merasa seperti tak direstui alam semesta mengecap sedikit indahnya cinta. Walau tak terima dimadu, Ryan belum mampu mempertegas status pernikahannya ini karena tempat kerja sang suami berada di luar Papua. Artinya proses perceraian akan menyita waktu dan menghabiskan banyak biaya.

“Saya bingung dengan situasi ini karena suami tidak juga memperjelas status pernikahan kami. Padahal saat ini ia sudah tidak menafkahi saya lahir batin,” ujarnya.

Saat sang suami memilih hidup bersama perempuan ketiga bersama dua anak hasil perselingkuhannya, Ryan memilih tetap tekun bekerja dan fokus pada tumbuh kembang anak-anaknya. Ia mengaku sakit hati melihat akun perempuan selingkuhan suaminya memajang foto suami dan anak-anak buah perselingkuhan mereka di akun sosial media tetapi tak ada yang dapat dilakukannya saat ini.

Kepada penulis pada Minggu Paskah (12/04/2020), Ryan menceritakan pahit manisnya membesarkan anak-anak seorang diri. Ia belajar banyak dari perjalanan hidupnya ini. Ia diajar untuk belajar bersyukur karena saat ‘badai’ itu menimpa rumah tangganya, ia memiliki pekerjaan yang dipercaya Tuhan untuk dikerjakannya.

“Penting bagi perempuan untuk sekolah tinggi dan memiliki penghasilan sendiri. Jaman sudah banyak berubah. Perempuan harus siap menghadapi situasi terburuk dalam hidupnya,” kata alumnus SD YPK Betlehem Wamena ini seperti menyemangati dirinya sendiri.

Bagi semua perempuan dimanapun berada yang juga memiliki anak perempuan, ia mengingatkan pentingnya sekolah bagi anak perempuan agar mandiri secara finansial di masa depan. Tentunya agar tidak dianggap remeh oleh suami atau pasangannya.

“Sekalipun harus makan nasi dengan garam, kuliahkanlah anak gadismu setinggi langit,” kata alumnus Fakultas Hukum, Universitas Janabadra, Yogyakarta ini.

Pernikahannya pada 2015 lalu di Jayapura itu menyisakan luka batin yang membutuhkan waktu untuk menyembuhkannya. Baginya, kelahiran Katriel Shelomita Vidette Saroy dari pernikahannya adalah berkat indah lain yang diberikan Tuhan dalam hidupnya.

“Secara hukum, status saya masih istri sah tetapi saya menganggap diri saya sendiri adalah single parent,” kata anak bungsu dari delapan bersaudara ini.

Saat ini Ryan sedang  memperjuangkan hak anak, buah pernikahannya disamping ia juga memperjuangkan pasal penelantaan keluarga oleh sang suami. Setelah itu ia akan mempercepat proses cerai. Ia mengaku tidak ingin melalui  proses mediasi  agar lebih cepat mendapat putusan pengadilan.

Pada 2018 lalu, lanjutnya, persis pada bulan maret, pihaknya mencoba membuka gaya berpikir suami dengan membuat laporan ke instansi tempatnya bekerja terkait disiplin pegawai (kasus perselingkuhan) tetapi sampai saat ini pihaknya belum mendapat putusan langsung. Dengan demikian, proses pidana tentang kekerasan dalam rumah tangga hingga proses cerai belum dapat dilakukannya. Walau kecewa, ia memilih bersabar dan menunggu waktu yang tepat.

Tentu bukan kebetulan Ryan memahami dengan baik tentang hukum perceraian dan kekerasan dalam rumah tangga. Jauh sebelum berumah tangga, saat masih di bangku kuliah, skripsi yang ditulisnya untuk mendapat gelar sarjana hukum berkaitan erat dengan dua hal ini.

“Terlalu banyak tantangan dalam proses perceraian dan juga dalam membesarkan sendiri anak-anak,” ujar perempuan Papua yang terlibat menjadi peneliti dalam Project Selamatkan Manusia dan Hutan Papua, FOKER LSM Papua tahun 2010 ini.

Persoalan tidak dapat dihindari dan ia yakin diberi kemampuan menyelesaikan setiap masalahnya. Di saat tidak ada pengasuh, atau orang tua tempat ia menitipkan anak-anaknya tidak terlalu sehat ketika ia harus berangkat kerja, ini menjadi saat-saat berat dan membingungkan.

“Saya harus segera mencari orang untuk menjaga sementara anak-anak saat saya ke kantor. Syukurlah selalu ada jalan keluar. Dan hal berat lainnya adalah bila ada salah satu diantara kedua anak ini yang sakit,” ucap alumni SMP Negeri 2 Wamena ini lagi.

Pada kesempatan ini Ryan yang belajar dari pengalamannya berpesan kepada perempuan-perempuan tangguh di mana saja yang sedang membesarkan anak seorang diri, tetap semangat menjalani hidup dan jangan lupa bersyukur pada Tuhan.

“Anak-anak yang dibesarkan satu orang tua biasanya lebih kuat secara mental. Jangan pernah menyerah karena selalu ada pelangi setelah hujan,” ujarnya.

Di akhir wawancara, Ryan mengutip Joseph Campbell, seorang penulis Amerika yang hidup di awal abad 20: Ketika orang-orang menikah karena mereka pikir itulah kisah cinta sepanjang hidup, mereka akan berpisah sesegera mungkin karena semua kisah cinta berakhir dengan kekecewaan. Pernikahan adalah sebuah pengakuan dari identitas spiritual. (*)

Baca Juga, Artikel Terkait