MEMORY ‘77

Cinque Terre
Aprila Wayar

21 Hari yang lalu
CERPEN

Tentang Penulis
Freelance Journalist
By. Dewi Candraningrum

 

Repost: intersastra.com

Kata mereka, masa lalu tak dapat diubah. Ya, memang tak ada pilihan bagiku selain menerima tanpa mempertanyakannya. Mempertanyakan masa lalu sama dengan membuka luka lama yang kusimpan di lubuk hati yang paling dalam. Takdir memang tak berpihak kepadaku, tetapi bertahan untuk terus hidup adalah kemenanganku atas masa lalu.

Sang surya belum lagi menunjukkan wajahnya dengan sempurna saat roda mobilku bergelinding keluar dari garasi rumah. Hari ini aku tidak menuju kantor seperti biasanya, aku menuju sebuah hotel berbintang yang terletak tidak jauh dari Lingkaran Abepura guna menghadiri sebuah pelatihan bagi perempuan yang dilaksanakan sebuah lembaga swadaya masyarakat internasional. Pelatihan ini melibatkan beberapa kelompok perempuan seperti aktivis, mahasiswi, jurnalis, pimpinan agama, dan lain-lain.

Pimpinan kelompok kerja kami mendapat undangan rapat mendadak bersama Gubernur Papua pagi ini, padahal ia sangat antusias mengikuti pelatihan ini pada hari pertama, kemarin.

Ya, aku dapat merasakan semangat dalam ceritanya saat kami makan malam bersama kemarin. Kami baru saling mengenal dalam hitungan bulan, tetapi ia satu-satunya teman baik yang kumiliki saat ini, walau jabatan kami berbeda.

Setelah aku tiba di hotel itu, seorang karyawan di meja resepsionis menyapa, “Ibu akan menghadiri pelatihan perempuan?”

“Iya,” singkat saja jawabku.

“Silakan langsung ke lantai tiga, Bu, bisa menggunakan lift di sebelah sini,” katanya lagi sambil mengarahkanku.

Selama berada di dalam lift, kusiapkan kata-kata dengan baik di dalam hati untuk menjelaskan ketidakhadiran pimpinanku.

Setelah melakukan registrasi, aku memasuki ruangan. Rupanya pelatihan baru akan dimulai. Ruang pertemuan dipenuhi tidak lebih dari 15 perempuan. Ada seorang laki-laki yang berdiri di bagian depan ruangan. Mungkin dia salah satu pemateri, pikirku.

Tak ada satu pun peserta yang kukenal, kecuali Mama Yusan. Ia adalah seorang aktivis perempuan yang pernah mengunjungi kampungku hampir delapan tahun yang lalu. Saat itu Mama Yusan mengumpulkan perempuan-perempuan di kampung dari segala umur untuk bercerita tentang apa pun. Mulai dari kekerasan di dalam rumah tangga hingga kekerasan oleh negara. Ah, waktu yang terlalu lama untuk mengingat seseorang.

Tentu ia tidak ingat padaku di masa lalu tetapi ia tahu siapa aku di masa kini karena jabatanku sebagai anggota sebuah lembaga kultural Papua yang dibangun oleh negara berdasarkan Undang-undang Otonomi Khusus 2001. Ya, sungguh aku merasa dunia ini tidaklah adil. Seringkali seseorang akan melekat di dalam ingatan orang lain karena, jabatan atau kekayaannya. Tidak karena hal yang lainnya.

Tempat duduk peserta dibentuk persegi sehingga kami dapat saling melihat wajah peserta yang lain. Aku memilih duduk di kursi sudut yang masih kosong, bersebelahan dengan seorang perempuan muda yang mengenakan kemeja hitam dan celana jeans berwarna biru. Kedua tangannya terus sibuk di atas tuts laptop sedangkan matanya awas memperhatikan isi ruangan.

Beberapa menit berlalu, mataku tak dapat beralih dari wajah pemateri di tengah-tengah ruangan. Ia berbicara sambil berjalan berkeliling di tengah. Kadang berhenti untuk memperhatikan wajah peserta.

Kacamata yang bertengger di atas hidung sudah cukup menunjukan kecerdasannya. Yah, walau tentu tidak semua orang berkacamata demikian. Cara ia mengenakan jilbab ungu yang digelung menutupi rambut ala perempuan Afrika ini sangat menarik. Wajah Melayunya biasa saja, tetapi penguasaannya terhadap materi pelatihan langsung menyedot perhatian semua peserta, termasuk aku.

Map berisi jadwal pelatihan dan peralatan tulis kuraih. Dari jadwal pelatihan kuketahui namanya Nur, ia salah satu pendiri lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang hukum, khususnya isu perlindungan anak dan perempuan, berbasis di Jakarta. Pantas saja, pikirku.

Di sela-sela pelatihan, kami disajikan dua kali permainan untuk mengeksplorasi wawasan. Permainan tebak kata sangat menarik bagiku. Peserta diminta menyebut satu kata yang berhubungan dengan perempuan dan gender. Yang bias atau tidak mampu menjawab diberi hukuman. Yah, hukuman paling besar paling hanya diminta menyanyi atau berjoget. Aku mendapat begitu banyak kosakata baru dan aku suka. Sayangnya, materi harus berakhir pada saat jam istirahat makan siang.

“Hai,” sapa bersamaan dengan tepukan lembut mendarat di pundakku saat antre mengambil makanan.

Aku langsung menoleh. Nur tersenyum melihatku. Ah, hatiku langsung gembira. Entah mengapa aku merasa sangat menyukai perempuan ini karena pengetahuannya yang luas dan cara memberi materi yang mudah kupahami tanpa membuat aku merasa kecil karena tidak tahu apa-apa.

“Kamu baru datang hari ini?” tanyanya.

“Ya, aku sebenarnya hanya mengganti pimpinan yang berhalangan hadir hari ini,” jawabku.

Aku memilih duduk sendiri di sebuah meja kosong di dekat pintu keluar ruang makan. Aku belum percaya diri untuk bergabung dengan perempuan-perempuan yang lain. Perempuan muda yang tadi duduk di sampingku datang dan bergabung di mejaku. Kami bertukar senyum singkat. Ia bercerita bahwa ia seorang jurnalis yang ditugaskan media online tempatnya bekerja untuk meliput jalannya pelatihan ini. Pantas saja ia tidak terlibat dalam berbagai aktivitas di dalam ruangan tadi—ia hanya duduk di depan laptop, sesekali tangannya menari di atas laptop.

Tak terasa, sesi kedua pelatihan setelah jam istirahat makan siang pun dimulai. Saat itu, baru setengah dari peserta telah berada kembali di kelas. Rupanya tadi mereka keluar gedung hotel. Ada yang merokok, sebagian lagi memakan pinang.

“Kita akan mencoba melihat lebih dalam berbagai persoalan kekerasan militer yang terjadi di Papua berdasarkan data dan pengalaman yang kita miliki,” kata Nur.

Hatiku berdebar mendengar kata-kata Nur. Ada rasa khawatir yang mulai menyelinap perlahan. Hanya aku yang dapat mengerti perasaan ini. Perasaan yang menghantuiku di bawah alam sadar. Perasaan yang tak ingin kuperlihatkan kepada siapa pun, perasaan yang entah apa namanya. Ingin rasanya kukubur dalam-dalam.

Sungguh, aku kesulitan menggambarkan perasaan ini dengan kata-kata. Yah, karena memang tidak ada satu kata dalam bahasa apa pun yang mampu menjelaskan rasa ini. Ada gelisah, sakit hati, sedih, terluka, benci, dendam, ingin memberontak, ingin marah, ingin memukul—tapi pada siapa?

Kelas mulai tenang, seorang perempuan sedang memberikan beberapa temuan dari penelitian yang dilakukannya terkait isu ini. Beberapa peserta mulai terkantuk-kantuk.

“Ayo semua bangkit berdiri,” tiba-tiba suara Nur memenuhi ruangan.

Aku yang sedang serius mendengar pemaparan langsung berdiri. Sebuah game dimainkan agar kami tidak suntuk. Setelahnya, kami diajak duduk bersama dengan membentuk lingkaran. Musik instrumen Taize dibunyikan melalui sound system. Nur meminta kami menutup mata. Ia mengajak siapa pun yang ingin bercerita tentang apa saja pengalaman kami yang menyakitkan. Kali ini ia tidak lagi menyinggung kekerasan militer.

Seorang perempuan setengah baya memulai kesempatan ini dengan menceritakan kesedihannya kala anak perempuan satu-satunya diperkosa keponakan kandungnya. Ia menangis sambil menceritakannya. Ia hanya ingin berbagi beban. Sudah cukup sanksi sosial yang diterima anaknya.

“Seandainya diizinkan, biarlah aku yang menanggung semua ini, bukan anakku,” katanya menutup testimoni.

Beberapa peserta lain mulai terisak-isak. Ya, mungkin karena pengaruh musik, suasana menjadi begitu syahdu. Tiba-tiba saja tanganku terangkat, aku juga ingin memberi testimoni. Sedetik kemudian, aku bimbang, tetapi Nur sudah berjalan mendekatiku.

“Silakan, Ibu Selfi,” kata Nur.

“Ini kisahku saat berusia 10 tahun. Kampung kami dihancurkan aparat keamanan. Aku sedang bermain bersama Paulina, saudara sepupuku yang terpaut empat tahun lebih tua, di sungai saat itu. Saat mendengar bunyi tembakan beruntun, kami berlari kembali ke kampung,” kuawali kisahku.

Saat sampai, lanjutku, kampung kami telah sepi. Honai ibu dan kami sepi, demikian juga dengan honai laki-laki. Selain kami berdua, ada beberapa anak lain, laki-laki dan perempuan yang juga baru sampai ke kampung dan mulai panik. Setelah beberapa menit berlalu, kami sadar kalau kampung memang benar-benar kosong.

Di tengah kepanikan kami, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan beruntun dari dalam hutan di belakang kami. Paulina langsung menarik tanganku. Kami berlari sekencang-kencangnya ke arah hutan di depan kami. Paulina tidak juga berhenti berlari meski aku sudah sangat lelah.

“Mereka ada di belakang kita,” kata Paulina dalam bahasa ibu kami.

“Tapi mengapa mereka mengejar kita?” aku bingung. “Apakah mereka akan membunuh kita?”

Aku tidak ingin memercayai apa yang kulihat di belakang. Dua laki-laki Melayu berseragam militer mengejar kami dengan tangan menenteng senjata. Kaki terasa kaku. Aku terjatuh, dan sudah tidak lagi sanggup berlari.

 “Teruslah berlari, Paulina! Selamatkan dirimu!” teriakku.

Saat sadar aku terjatuh, Paulina kembali dan pada saat itulah kedua tentara itu menodongkan senjata ke arah kami. Paulina berusaha meraih noken yang sebelumnya digantungkan melingkari kepalanya.

“Berdiri!” perintah salah satu tentara itu.

Aku berdiri perlahan. Tak lama, naluri perempuanku langsung bekerja. Keduanya menatap payudara Paulina dengan tatapan yang kini kupahami sebagai tatapan penuh berahi. Mereka juga menatapku, walau sebenarnya lebih tepat memandangi buah dadaku yang baru akan tumbuh. Oh Tuhan, aku benar-benar ketakutan. Di mana ayah dan saudara-saudara laki-lakiku, batinku. Aku hanya berharap ketakutan ini dapat membunuhku.

Semuanya berlangsung singkat. Paulina diperkosa di depan mataku! Aku tidak dapat melakukan apa-apa untuk membantunya. Hanya dalam hitungan detik, tentara yang satunya melakukan hal yang sama kepadaku. 

Paulina dipaksa bangun dengan sali yang berlumuran darah.

“Sakitnya luar biasa,” kataku setelah kedua tentara itu berlalu.

Aku dan Paulina hanya dapat saling menguatkan di tengah hutan rimba karena kami tidak tahu harus ke mana. Kami kehilangan orangtua dan rumah. Aku masih belum mendapat haid saat itu, tetapi malang nasib Paulina. Ia hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki. Paulina kemudian memilih untuk mengakhiri hidupnya.

“Setelah dewasa, aku mengetahui kalau peristiwa yang kami alami itu dikenal dengan Kasus ’77 di Jayawijaya, tetapi aku menyebutnya Memori ’77.”

Ya, memori yang tak ingin kukenang. Kenangan yang menghancurkan masa depanku sebagai perempuan. 

Kisahku menjadi satu-satunya kisah di akhir pelatihan ini. Nur dan semua rekan perempuan memelukku. Aku seperti terlahir kembali, mendapat dukungan moril adalah hal yang tak pernah kuterima selama ini.

Hatiku rasanya damai setelah menceritakan Memori ‘77 yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Peristiwa yang menjadi rahasia terbesar yang kusimpan rapat-rapat untuk diriku sendiri.

Aku bercerita banyak dengan Nur seusai pelatihan. Ia memintaku untuk belajar memaafkan masa lalu agar langkahku ke depan lebih ringan. Ya, aku akan memulainya dengan memaafkan diriku sendiri yang tidak mampu memaafkan masa lalu.

Kulihat jurnalis perempuan muda tadi mendekati kami dengan perlahan-lahan. “Maaf, Ibu Selfi, kalau boleh saya ingin bilang, saya sungguh-sungguh mengagumi kekuatan Ibu membagi cerita yang sangat pahit itu. Saya merasa sangat murka mendengar ketidakadilan seperti itu masih saja terjadi. Karena itu, Bu, untuk melawan ketidakadilan itu, dengan penuh tanggung jawab saya—saya ingin minta izin kepada Ibu untuk menuliskan kisah tadi menjadi berita,” katanya dengan hati-hati. “Bisa dengan menyebut nama atau anonim, terserah Bu Selfi. Saya juga akan memperlihatkan tulisan saya itu dulu kepada Ibu untuk disetujui terlebih dahulu sebelum diterbitkan. Ini kartu nama saya supaya Ibu Selfi bisa menghubungi saya kalau ada apa-apa. Boleh saya minta kartu nama atau alamat email Ibu juga?”

Kulirik Nur. “Kupikir ada baiknya kisahmu ditulis dan dibagikan ke seluruh dunia untuk menguatkan perempuan lain yang berada dalam posisi yang sama atau bahkan lebih sulit,” katanya. “Tapi keputusannya terserah kepadamu.”

Aku tahu apa yang ingin kulakukan. Kuanggukkan kepala ke arah jurnalis itu. Ia meremas tanganku, berterima kasih berkali-kali atas kepercayaanku kepadanya, dan berlalu.  

Perjalananku pulang ke rumah petang ini terasa berbeda. Rasanya seperti beban berat yang kupikul puluhan tahun telah terangkat. Aku tidak lagi merasa berada di bawah tekanan yang mengimpit tubuhku hingga nyaris tak dapat bergerak selama ini. Aku seperti terlahir kembali. Paling tidak, aku tak perlu berupaya menjadi seperti orang lain. Aku akan menjadi diriku sendiri sejak hari ini. Setidaknya dengan tetap bertahan hidup, aku telah menang atas masa laluku.

Pikiranku kembali pada kenyataan bahwa bila berita tentangku akan dimuat dalam surat kabar atau media online besok, aku telah siap menghadapi semua konsekuensinya—karena hidup itu milik pemenang kehidupan! (*)

Source: https://www.intersastra.com/fiksi-fiction/memory-77 

Baca Juga, Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait