Memperingati Hari Internasional Mengakhiri Impunitas atas Kejahatan terhadap Jurnalis

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

21 Hari yang lalu
INFORMASI

Tentang Penulis
Berfose bersama setelah nobar "A thousand Cuts." (Doc.KM)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.COM--Demokrasi perlahan mati seperti sayatan kecil. Kehancuran demokrasi menjalar ke banyak tempat karena peran media sosial, buzzer, dan para pembajaknya.

 

Kerusakan demokrasi itu tergambar dalam film A Thousand Cuts. Aliansi Jurnalis Independen Yogyakarta dan Dapur Umum Mess 56 menggelar nonton film dan diskusi film tersebut.

 

Sebanyak 50 orang menyaksikan kisah jurnalis Filipina, Maria Ressa yang bertahan dari serangan Presiden Rodrigo Duterte dan kebencian di media sosial di Jogja National Museum, Selasa, 2 November 2021.

 

Kegiatan itu bagian dari refleksi peringatan Hari Internasional untuk Mengakhiri Impunitas atas Kejahatan terhadap Jurnalis setiap 2 November. Tanggal yang sama dipilih untuk memperingati pembunuhan dua jurnalis Prancis di Mali pada 2013.

 

Di berbagai negara kejahatan dan serangan terhadap jurnalis semakin menjadi-jadi di tengah merosotnya kualitas demokrasi. Pembungkaman dan pemenjaraan Pemimpin Redaksi Rappler, Maria Ressa oleh Presiden Filipina, Rodrigo Duterte adalah potret serangan terhadap kebebasan pers.

 

Peraih Nobel Perdamaian Tahun 2021 itu dihukum atas tuduhan pencemaran nama baik dan penggelapan pajak setelah Rappler menerbitkan tulisan tentang operasi perang Duterte terhadap narkoba, yang menewaskan ribuan orang di Filipina.

 

Sineas keturunan Filipina-Amerika Serikat Ramona S. Diaz mengangkat kisah Maria Ressa dan serangan terhadap kerja jurnalis di tengah kebencian yang menyebar melalui media sosial.

 

Film dokumenter berdurasi 140 menit itu membantu jurnalis dan masyarakat pro-demokrasi untuk memahami pentingnya kebebasan pers dan independensi. Kondisi yang tak beda jauh juga ditemui di tanah air.

Sejak 1996, AJI mencatat ada delapan kasus pembunuhan wartawan yang masih gelap. Kasus pembunuhan wartawan Harian Bernas Fuad Muhammad Syafruddin adalah satu di antaranya, yang tetap tidak terungkap sejak 25 tahun silam. Kasus yang diduga berhubungan dengan berita korupsi yang ditulis Udin itu memberikan catatan buruk hukum pidana dan utang kepolisian Indonesia.

 

Ada pertautan antara kerja Maria Ressa dengan jurnalis Udin. Mereka sama-sama membongkar kejahatan di tengah rezim otoriter. Maria bekerja di tengah kepemimpinan Duterte yang otoriter, seksis, dan mengabaikan hak asasi manusia. Udin bekerja di tengah rezim kekuasaan Orde Baru Soeharto yang bengis.

 

Selepas menonton film itu,  moderator dari AJI Indonesia, Bambang Muryanto dan dua narasumber mendiskusikan film tersebut. Pengajar Ilmu Hubungan Internasional Fisipol Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Diah Kusumaningrum mengatakan situasi hancurnya demokrasi di Filipina sama dengan Indonesia.

 

Mahasiswa, akademisi, seniman, masyarakat sipil ditekan. Demonstrasi isu publik misalnya pelemahan KPK dan penyerobotan lahan digencet habis-habisan.

 

Situasi demokrasi kian genting. "Masyarakat sipil penting untuk bersolidaritas merebut demokrasi dari para pembajak, bukan hanya mempertahankan demokrasi," kata Diah.

 

Pembicara lainnya, relawan Task Force Kekerasan Berbasis Gender Online, Pitra Hutomo menyebutkan kekuatan anti-demokrasi menguasai media sosial, menyerang fakta. Teknologi informasi lewat media sosial berbagai platform tidak lepas dari kepentingan atau keuntungan pemilik modal atau perusahaan.

 

Dari situasi yang terjadi saat ini, perlu solidaritas bersama melawan kebohongan dan kebencian yang disebarkan di media sosial. "Dari Maria Ressa, orang belajar bahwa jurnalisme membawa harapan dan kemenangan melawan kabar bohong," kata, Ketua Panitia Nonton Bareng Film A Thousand Cuts," Aprila Wayar.

 

(Manfred Kudiai)

#Rilis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia

Baca Juga, Artikel Terkait