Mendengarkan Suara yang Tak Terdengar

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

7 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Anak-anak Papua – IST

 

Oleh: Miquiel Takimai)*

Siapa yang bisa dengarkan Anak Aibon Bicara?

‘Anak Aibon’. Kata ini tak asing bagi kita dalam kehidupan sehari-hari kita. Bahkan kita sering melihat mereka di emperan pasar, di pinggiran jalan, bahkan di depan tokoh di Pagi hari. Pada waktu-waktu tertentu, mereka tak luput dari wacana kita. Seakan suara kita yang paling ada dan harus dihargai. Saking besarnya suara kita hingga selanjutnya lupa akan mereka. Entah itu karena berakhir dengan perdebatan, ataupun membuat kesimpulan yang kosong buat mereka. 

Kita pun berwacana harus begini, harus begitu, begini boleh, begitu boleh, dan seterusnya. Kita lupa bertanya kamu butuh apa? Yang ada didalam pikiran kita, di mana orang tua mereka, di mana dia berasal, di mana rumahnya, itu juga jika sempat kita pikirkan. Jika tidak, mereka sama seperti “sampah kota” di dalam benak kita. Memang terkadang kata itu terasa cocok buat mereka sebagai ejekan tetapi hal itu adalah hal yang paling kasar dari ketidakpedulian kita.

Boleh saja kita menggelengkan kepala dengan mengatakan, “di mana orang tua mereka? di mana rumah mereka?” Ataupun pernah mempertanyakan itu secara langsung. Walaupun terkadang dengan berwajah ganas mengatakan itu. Bahkan, sekali-kali kita meneriaki mereka untuk kembali ke tempat mereka? ataupun menyuruh mereka pergi ke sekolah dan sejenisnya sambil mengusir mereka. Tetapi, kita tidak pernah berfikir untuk datang mempertanyakan kenapa ko di sini dengan penuh kasih lalu mendengarkan dia. 

Sebenarnya, mereka itu hanya membutuhkan kasih sayang. Mereka ada di sana karena di rumah orang tuanya tidak memperdulikan lagi karena kesibukannya sendiri. Entah itu akibat permasalahan di dalam keluarga, karena latar belakang ekonomi. Ada juga yang terlantar karena orang tuanya meninggal, dan ada juga karena orang tuanya melantarkannya dengan sengaja. Itu adalah beberapa akibat dari mereka harus terlantar. Saya sadar juga bahwa uraian saya di sini juga tidak sepenuhnya mewakili kesakitan mereka, kepedihan mereka, bahkan tangisan mereka. Kesakitan mereka tidak cukup untuk menggambarkannya melalui kata-kata. 

Memang, itu tugas pemerintah untuk melindungi dan mengayomi segenap masyarakat, entah itu masyarakat yang terdengar suaranya, hingga yang tidak terdengar suaranya. Tetapi kenyataannya, yang bersuara pun penuh tanda tanya dalam usaha mereka. Dengan demikian, mereka adalah suara yang tetap tidak akan terdengar. Kan ada panti asuhan? Justru itu yang kita harus bertanya balik, kenapa dia tidak mau bertanya. Tetapi, toh itu pun solusinya jatuh dalam skema berfikir kita. 

Mereka mempunyai mulut tetapi, tidak ada tempat dan kesempatan untuk berbicara. Oleh karena itu, jangan heran jika mulut mereka hanya ditutup dengan kaleng dan botol yang berisi aibon untuk mereka cium. Mereka butuh tempat untuk menceritakan apa yang mereka rasakan. Mereka butuh kesempatan untuk kita mendengarkan mereka. Tangisan mereka, ketertindasan mereka, kesakitan mereka, kesedihan mereka akibat terhimpit jaman yang membentuk kita tidak mau memperdulikan mereka. 


Penulis adalah Alumni Universitas Sanata Dharma)*

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait