Mengapa Budaya Non Papua Menguasai Budaya Papua

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Tahun yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Pakaian adat "koteka moge"Papua suku Mee. saat acara syukuran pastor S Yogi Komopa.

 

 

Oleh Emanuel Muyapa,

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM-- Budaya adalah kebiasaan moyang yang turun temurun untuk setiap generasi penerusnya. Selain itu, Budaya juga bisa di artikan sebagai suatu rutinitas kehidupan manusia sesuai geografisnya, E Muyapa.

 

Perkembangan dunia semakin berkembang dari zaman ke zaman, hingga sekarang. Gaya dan strategi kehidupan manusiapun ikut berkembang, Namun pada zaman sekarang sangat di sayangi dengan kelestarian budaya lokal (budaya Papua) karena terkonsentrasinya anak-anak zaman sekarang terkait dengan budaya luar.

 

Budaya saya Papua merupakan salah satu yang sedang diikutsertakan oleh budaya luar atas kelestarian budaya lokal yang sebenarnya, jadi saya sering bertanya tentang diri saya "Apakah saya takut memakai" KOTEKA " sebagai alat budaya Papua untuk melindungi diri ?. saya ambil waktu untuk spekulasi diri atas kelestarian budaya yang sejatinya.

 

Bukan saya sendiri yang terlibat dengan masalah ini, namun sebagian besar anak-anak zaman sekarang juga, sebab ada bukti -bukti yang sering saya saksikan di kalangan anak-anak Jaman sekarang , Seperti; teman lelaki mengenakan anting-anting, teman perempuan mengenakan celana dan lainnya.

 

Meski telah di tonton tontonan, tetapi belum diijinkan apa yang disetujui teman-teman itu dengan ketertinggalan budaya lokalnya.

 

Namun, dalam artikel ini, sebagai salah satu yang membantah, ingin uraikan beberapa pendapat sejahu ini dengan terancamnya budaya kita orang Papua dari budaya non Papua:

 

1. Salah Bergaul dengan Teman,

 

Sebenarnya, Manusia adalah makhluk sosial yang harus diajak berinteraksi dengan sesamanya agar dapat memenuhi kebutuhan yang sulit.

 

Ketentuan-ketentuan khusus yang diatur oleh orang tuanya dalam pergaulan agar tidak terjebak dengan hal-hal yang tidak ada di Inginkan. Kini pun bejalan dengan ketentuan - ketentuan ini belum bisa di ragukan dengan keberhasilannya, karena kebanyakan orang tidak di lakukakak apa yang di tuturkan oleh ketentuan moyangnya.

 

Hal ini dapat di sebabkan dari pergaulan kita yang tidak berlandas pada konteks kehidupan seseorang yang kita temani, jadi ini kita harus peratikan, sebab ujung-ujungnya akan bisa membawah kita untuk lupakan budaya dan kebiasaan-kebisaan hidup moyang kita yang benar-benar universal.

 

Selain itu, Perlu pula di hindari dengan pergaulan yang tidak jelas (pergaulan dengan teman lelaki yang suka pakai anting-anting dan perempuan yang suka pakai celana) karena soh budaya luar, pakai budaya barat yang ditampilkan di tanah ini (tanah papua) untuk jebak anak milenial papua dalam budayanya!

 

2. Belajar Budaya Jawa di Sekolah,

 

Salah satu poin yang dapat membantah budaya saya adalah pelajaran seni dan budaya yang saya bahas di sekolah, bukan karena belajar jati diri saya yang sebenarnya namun budaya luar yang dipahami.

 

Siapakah yang tahu dengan buku-buku seni & budaya yang sedang disetujui oleh siswa / i se tanah papua adalah budaya jawa, terutama dan budaya luar Papua pada umumnya. Setiap manusia harus memiliki kekayaan budaya lokalnya dalam berbagai sektor kehidupan yang ada.

 

Sejahtera ini, melalui diskusi penulis tidak ada pembelajaran budaya lokal di Papua sebelum kadang-kadang praktik, namun itu pun hari-hari tertenu saja, akan diperoleh tidak ada peralatan dan perlengkapan sebagaiamana yang sesuai dengan pembelajaran di sekolah, sehingga dapat digunakan di suruh pakai pakaian adat lokalnya, namun seandainaya jika ada berbagai perlengkapan yang sesuai dengan isian buku-buku di sekolah oleh guru otomatis bisa saja suruh siswa nya untuk melakukan yang berlandasan pada buku pembelajarannya.

 

Meski demikian, saya sebagai salah satu pelajar juga akan memberikan argumen kepada guru yang diminta di sekolah dengan alasan yang jelas terkait dengan pembelajaran budaya Jawa melalui buku-buku di sekolah ini. Untuk itu juga di harapkan bagi pihak yang berhak ambil tindakan dan tentukan Regulasi yang tepat agar budaya lokal tidak tersingkir dari Budaya luar!

 

 3.Kurang Sensitif Pada Budaya Sebenarnya,

 

Saya sedang berdomisili di kabupaten Amungsa di tengah kota. Namun, di sini tidak ada yang memiliki perlengkapan instrumem adat yang sebenarnya entah mengapa saya bisa gitu, di kota yang sedang di domisili ini sudah di kenal dengan adat pribumi yaitu "Adat kamoro" jadi di sini saya di tuntut tanpa terkecuali harus bisa menonton dengan menonton Kamoro "SEKA" dan akhirnya tidak ada ruang untuk memperaktekan Budaya dan adat saya sebenarnya.

 

Ini bukan salahkan ke budaya yang memengaruhi, tetapi semua kembali ke pihak oknum seperti halnya dengan semua segmen sehingga muncul konkulusi yang akurat tentang semua yang tergantung pada masing-masing individu.

 

Oleh karena itu, hal ini menuntut kita untuk memiliki kepekaan terhadap kelestarian budaya kita masing-masing. Maka ciptakanlah suatu yang sensitif untuk memaknai budaya dan adat secara keseluruhan dan universal, agar tetap ada dengan norma dan kaidah yang benar.

 

Sangat menyenangkan bagi setiap orang untuk pelakunya. Dengan tanpa ada halangan pun budaya akan berubah dalam kehidupan manusia, jadi budaya adalah hal yang harus tetap di mulai teguh dengan norma yang berlaku.

 

4. Budaya saya teramcam,

 

Budaya saya terancam dari budaya lain, karena kami sendiri orang Papua tidak menghargai budaya kita, kita ingin mencintai budaya orang lain. Pada hal kita bukan berasal dari mereka, kita Papua berasal dari budaya kita sendiri yaitu tete nene leluhur kami sendiri. Tolong pikirkan itu baik !!

 

Ini juga, sebenarnya kesalahan bermula dari diri pribadi sebagai pelakunya, karena sejahu ini budaya saya Papua yang sebenarnya telah di aduk baurkan dengan budaya luar atau orang lain. Ini melalui renungan sementara saya, mungkin di sebabkan oleh beberapa isi kata atas yang mana sudah di ulas.

 

5. Pesan,

 

Sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran yang sehat dapat dirubah menjadi yang lebih baik dari harapan saya.

 

Ayah mama, adik kaka, dan pe-cinta budaya Papua, mari kita lestrikan budaya sesuai pribadi oleh Sang Pencipta dengan budaya seluruh Papua tanpa campur tangan budaya lain, agar kedepannya lebih baik di banding sekarang dan sebelumnya. Berpikir positif dan ingin berubah pasti berubah!

 

Penulis Adalah anak mudah Papua yang sedang belajar di bangku pendidikan SMK Timika Papua, CR4 KM.

#Budaya

Baca Juga, Artikel Terkait