Mengenal Lebih Dekat “Agama” Kejawen Urip Sejati

Cinque Terre
Aprila Wayar

19 Hari yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Freelance Journalist
Suroso (berbaju hijau) bersama beberapa Penganut Kepercayaan "Kejawen Urip Sejati" di Kabupaten Gunung Kidul, DIY. (KABARMAPEGAA/Aprila)

 

Yogyakarta, KABARMAPEGAA.com – Walau berbeda agama dan keyakinan, semua manusia yang hidup di bumi adalah umat Tuhan. Demikian salah satu nilai yang diyakini para penganut kepercayaan Kejawen Urip Sejati di Gunung Kidul Yogyakarta. Para pengikutnya diakomodir dalam Paguyuban Palang Putih Nusantara (PPN).

“Palang Putih Nusantara baru berdiri pada tahun 1992 oleh Prof. Dr. Ki Wisnoe Wardhana Suryodiningrat yang mewadahi para penghayat yang menganut Kejawen Urip Sejati,” kata Suroso, Wakil II Paguyuban Palang Putih Nusantara dalam Webinar “Praktik Baik” Penghayat Kepercayaan di DIY, Sabtu (19/09/2020).

Keyakinan ini diajarkan Gusti Bendoro Pangeran Haryo Suryodiningrat (Putra Hamengku Buwono VII), lanjut Suroso. Pangeran Suryodiningrat adalah pihak yang memprakarsai berdirinya organisasi petani Pakempalan Kawulo Ngayogyakarta (PKN) yang mengalami banyak perubahan nama dalam perjalanan sejarahnya dan hari ini dikenal dengan nama Paguyuban Palang Putih Nusantara (PPN).

PPN sendiri bukan bentuk ajaran spiritual tetapi wadah untuk memperjuangkan hak-hak para penganut Penghayat Kepercayaan sebagai warga negara ketika hak-hak mereka dikebiri atau dengan kata lain memperjuangkan harapan wong cilik. Jadi, ini adalah dua hal yang berbeda.

“PPN itu wadah atau tubuhnya, Kejawen Urip Sejati itu sebagai rohnya. Roh itu tidak dapat dilihat oleh mata,” katanya.

Menurut Suroso, praktik baik yang dilakukan Kejawen Urip Sejati dikonsep oleh Profesor Wisnoe dengan sembilan bidang budaya kehidupan manusia yaitu budaya pribadi, budaya sosial (kebrayan), ekonomi, politik, kesenian, ketuhanan, filsafat dan mistis.

“Kalau digambarkan adalah tumpeng. Pribadi paling bawah, jadi paling atas itu mistis atau Tuhan. Masing-masing segaris yang terpisah. Kalau dilihat dari atas ada sembilan lingkaran yang kalau berputar pada porosnya tidak akan bersinggungan. Tujuannya adalah untuk menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Suroso.

Inti dari ajaran Kejawen dikenal dengan ‘Sangkan Paraning Dumadhi,’ yang memiliki arti ‘dari mana datang dan kembalinya hamba Tuhan.’ Salah satu ajaran dalam Kejawen adalah membangun tata krama atau aturan dalam berkehidupan yang baik. Saat ini Kejawen telah banyak ditinggalkan pengikutnya karena ada anggapan bahwa Kejawen merupakan representasi dari kekunoan.  

KABARMAPEGAA.com dan Tim Liputan Penghayat Kepercayaan, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta mendapat kesempatan mengunjungi Suroso dan penghayat kepercayaan Kejawen Urip Sejati di Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul, Kamis (24/09/2020) dengan menempuh perjalanan hampir dua jam dengan mengendarai sepeda motor dari Kota Yogyakarta.

“Secara garis besar pada mulanya, pengikut ajaran Kejawen Urip Sejati terbagi menjadi dua, yaitu Pemuka Penghayat atau kelompok intelektual dan Pemangku Adat yaitu pihak-pihak yang memahami adat istiadat,” Suroso membuka cerita siang itu.

Tidak hanya Suroso dan keluarga, pertemuan siang ini juga dihadiri beberapa orang pemuda penganut Kejawen Urip Sejati yang berasal dari beberapa kampung terdekat.

“Aku kalau berangkat ke sekolah menggunakan tutup kepala, mengikuti agama mayoritas,” kata Anis, seorang remaja putri, penganut kepercayaan pada siang itu saat ditanya pengalamannya menjadi minoritas di sekolah.

Anis sebenarnya sangat keberatan dengan kondisi ini tetapi belum memiliki keberanian untuk menentukan sikap. Padahal, menurut pengakuannya, teman-teman sekolah dan juga guru-gurunya tahu kalau dirinya adalah seorang penganut Kejawen Urip Sejati.

“Yang paling meresahkan adalah pada saat presensi waktu sholat di sekolah. Aku tidak tahu soal itu dan aku sebenarnya tidak ingin membohongi hati nurani kalau aku sebenarnya sangat keberatan dengan aturan-aturan seperti ini. Mungkin karena di sekolah belum ada guru Penghayat saja sebenarnya,” katanya lagi.

Menoleh kembali pada sejarah PKN, menurut Suroso, sebenarnya memiliki perjalanan panjang yang sangat erat kaitannya dengan wong cilik sekaligus percaturan politik bangsa Indonesia sejak merdeka. Pangeran Surjodiningrat diangkat sebagai Pengawas Urusan Agraria, Pemerintahan Pusat Hindia Belanda di Jogjakarta pada bulan Juli 1928. Pada saat bekerja, ia banyak berjumpa masyarakat kecil dan mendengar keluhan mereka.

Motivasinya mendirikan PKN pada pertengahan 1930-an sepertinya cukup kuat karena pendidikannya sendiri yang terbatas, Pangeran Surjodiningrat menjadi orang yang peduli pada orang yang tidak berpendidikan. Karena posisinya sebagai Pengendali, ia akrab dan sedih dengan kondisi kemiskinan yang ada di daerah pedesaan Jogjakarta, tempat sebagian besar rakyat Kesultanan berdomisili.

Dalam kehidupannya, para penganut Kejawen melakukan berbagai ritual, jelas Suroso yang ditemui kembali oleh KABARMAPEGAA.com di Pendopo Wisnuwardana, Suryodiningratan, Yogyakarta, Selasa (29/09/2020) malam. Ada ritual ngeton, yaitu ritual memperingati hari kelahiran. Biasanya diperingati setelah 35 hari yang merupakan penggabungan hari dan pasaran. Misalnya seseorang lahir pada minggu kliwon, maka hari lahirnya akan diperingati pada minggu kliwon berikutnya.

“Kalau bayi itu sejak lahir itu ada ritual jenang ngrocot, dilanjutkan ritual sepa dilanjutkan ritual selapanan dan diakhiri ritual tedak sinten,” ujar Suroso

Ada juga ritual mantenan untuk pengantin yang dimulai dengan siraman, lalu dilanjutkan dengan ritual Midodareni yaitu ritual menurunkan wahyu Midodari untuk calon pengantin putri yang dilaksanakan pada malam sebelum akad nikah. Midodari dalam bahasa Indonesia berarti bidadari atau dewa perempuan.

“Dalam rangkaian ritual ini, ada sepasaran atau ritual lima hari setelah menikah yang bertujuan mendapat wahyu dari Midodari,” kata Suroso lagi.

Ada juga ritual panggih manten yaitu ritual dengan menggunakan kembang setaman, telur yang oleh sesepuh pengantin putri akan diambil kemudian dioleskan di kening pengantin perempuan lalu telur itu diletakkan di tanah untuk dipecahkan oleh pengantin laki-laki. Selanjutnya pengantin perempuan mijii atau membasuh kaki pengantin laki-laki sebagai simbol istri yang berbakti kepada suami.

Sebaliknya, laki-laki harus memberikan biji-bijian kepada istri sebagai lambang memberi nafkah. Ritual selanjutnya sungkem kepada orang tua dan mertua. Kemudian bisa dilanjutkan dengan wiwoho. Wiwoho atau resepsi itu tidak wajib.

“Sekarang jaman sudah berubah. Ritual wiwoho lebih didahulukan pengantin dan ritualnya justru ditinggalkan,” sesal Suroso.

Selain itu, Suroso mengatakan, sekarang ini siraman pada ritual midodareni itu sudah banyak ditinggalkan masyarakat luas. Tetapi tentu saja masih tetap dijalankan penganut Kejawen.

“Air yang digunakan siraman manten itu harus diambil dari tujuh mata air mata yang berbeda,” lanjutnya.

Ada juga ritual jenazah, ujar Suroso. Ritual ini dimulai ketika jenazah akan dimasukan ke tanah yang disebut surtanah. Artinya yang dari bumi kembali ke bumi. Setelah pemakaman, ada ritual selametan tujuh hari, 40 hari, 100 hari, satu tahun, dua tahun dan 1000 hari. Peringatan selanjutnya dilakukan setiap tanggal kematiannya dengan sesaji ketan, kolak dan kue apem serta minuman kesukaan almarhum atau almarhumah pada saat masih hidup.

“Biasanya ada air putih, teh, kopi dan rujak degan atau air kelapa,” pungkasnya. (*)

#Budaya

Baca Juga, Artikel Terkait