Menjual Tanah Adat Papua Berarti Tidak Menyelamatkan Generasi Masa Depan Orang Asli Papua

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Penullis adalah Yoseph Bunai, Mahasiswa Pasca Sarjana, STFT Fajar Timur Abepura Papua.

 

 

Oleh Yoseph Bunai*

 

1.Pendahuluan,

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM--Kesatuan sosial menjadi paling penting bagi Orang Asli Papua dalu hingga sekarang. Kesatuan sosial itu dibangun dalam kehidupan bersama maupun lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Kesatuan lingkungan di antaranya seperti tanah, dusun, lahan, hutan, kali atau sungai, semua ini menjadi tempat dan pusat kehidupan bersama. Hal ini dipentingkan  untuk melindungi dan melestarikan kehidupan bersama tersebut. Karena, baik keselamatan makhluk hidup (alam) dan juga demi keselamatan generasi penerus yang akan datang kelak. Selain itu juga, manusia yang menjaga relasi antara sesama dan lingkungan alam di sekitarnya. Relasi itu memungkinkan masyarakat untuk melestarikan dan menjaga kebersamaan demi nilai keutuhan ciptaan.

 

Orang Asli Papua (OAP) memberikan apresiasi yang cukup tinggi terhadap tanah, di mana mereka memandang tanah sebagai ibu (mama) yang memberikan sumber hidup bagi kehidupan secara turun-temurun sampai hari ini. Tanah Papua tentu dimiliki secara komunal (bersama) dan juga tanah terbagi menjadi hak milik perorangan seperti dusun, lahan, sungai, kali, hutan, dan lain sebagainya. Tempat-tempat itulah yang menjadi pusat kehidupan bagi masyarakat Orang Asli Papua (OAP) yang telah dilindungi oleh adatnya.

 

Tanah Papua yang luas dan kaya itu telah diwariskan kepada generasi berikutnya secara terus-menerus sebagai modal kehidupan. Mereka sangat peka terhadap hak ulayatnya. Karena itu, Tanah Papua yang dianggap luas dan besar diawasi dan dilindungi secara sakral. Oleh karena itu, hal ini dapat dikatakan juga bahwa lingkungan yang membawa dampak positif untuk keselamatan hidup Orang Asli Papua (OAP) maupun keselamatan generasi berikutnya. Namun sebaliknya, jika masyarakat tidak menjaga alam, maka akan membawa dampak negatif bagi masyarakat OAP pula.

 

1.Hidup Orang Asli Papua Yang Tergantung Pada Alam,

 

Suku asli Papua mengenal dan mengetahui dua gaya hidup yang telah dihidupinya sekian lama. Gaya hidup suku tertentu dengan cara hidupnya yang nomaden (berpindah-pindah). Sedangkan sebagian suku Papua lainnya dengan gaya hidup menetap. Kedua gaya hidup yang telah hidupi Orang Asli Papua memiliki tanah yang telah dilindungi oleh hukum adat. Adat Papua telah melindungi tanah, baik tanah milik suku nomaden maupun suku menetap, sehingga orang lain tidak sembarangan mengambil hak-hak warisan atau tidak sembarangan memasuki tanah adat yang sudah dipetakan secara adat oleh setiap suku yang ada di Papua.

 

Mata pencarian masyarakat Orang Asli Papua (OAP) semuanya tergantung pada Alam. Tanah yang merupakan “mama” sebagai modal hidup yang harus dilindungi, dijaga dan dilestarikan. Cara perlindungan Orang Asli Papua (OAP) terhadap alam adalah disapa alam, bercocok tanam, berjalan di hutan, menghormati alam dan lainya.

 

2. Kehidupan Orang Papua dalam Kekwatiran yang Bersifat Membahayakan OAP,

 

Tempat pusat kehidupan dan tanah leluhur tersebut dibongkar dan dihancurkan oleh berbagai macam hal saat-saat ini. Papua sebagai tanah perebutan oleh orang lain untuk mencari kekayaan hidup. Papua sebagai lahan investasi pra-proyektor. Papua menjadi tempat ilegal login untuk kepentingan seseorang tanpa dilindungi dan dijaga. Papua menjadi tempat jual-beli tanah.

 

Akankah hidup masyarakat asli Papua menjadi baik selagi Orang Asli Papua (OAP) berlomba-lomba menyerahkan Tanah kepada Orang lain atau menyetujuhi tanah adat tersebut untuk dijadikan sebagai lahan para kapitalis, dengan berbagai tawaran dan janji-janji yang meyakinkan masyarakat demi masa depan OAP yang lebih baik?.

 

Penulis menganggap bahwa, tawaran tersebut hanya untuk kepentingan tertentu. Perlu ada kesadaran diri bahwa menjual habis tanah dengan uang, kita akan menjadi pembantu di lahan milik orang lain dan hasilnya akan dinikmati oleh orang lain di atas tanah kita sendiri. Dalam hal ini, pemerintah setempat perlu menghargai orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membentuk lembaga adat demi melindungi masyarakat bersama alamnya.

 

Seharusnya tanah dihargai dan dihormati, bukan untuk dijual-belikan dan diserahkan kepada orang lain. Tanah adalah tempat di mana orang hidup. Tanah adalah di mana orang melakukan aktivitas kehidupan. Mari kita menyadari kembali akan kehidupan manusia Papua pada masa silam dan kehidupannya di atas tanahnya. Hidup manusia Papua pada masa silam tidak ada istilah jual-beli tanah.

 

3.Peredaran Dana di Indonesia akan Mempengaruhi Warga pada Jalan Sesak,

 

Ketidakseriusan mengatur Dana Otonomi Khusus (OtSus) untuk Papua telah menghancurkan kesadaran masyarakat untuk mempertahankan kehidupannya. Dulu sebelum adanya Program Otonomi di Papua, kebanyakan orang hidup tanpa tergantung pada uang. Tetapi justru hidup dalam kebahagian dan sejahteran dari hasil alamnya. Program pemerintah, mulai dari masanya gubernur provinsi Papua Barnabas Suebu SH yang memperdayakan masyarakat dengan cara TURKAM dengan membagi uang 100 juta per-kampung adalah sebuah usaha mengelolah kampung dari masyarakat itu sendiri. Baginya anggaran dibagi habis untuk proyek, maka rakyatnya tidak akan maju. Pembangunan di semua Negara, akan maju jika rakyatnya sendiri yang mengelola pekerjaan (Arsip Jubi 24 Juni 2010).

 

Program tersebut berjalan hingga kini, mala uang respek untuk dua propinsi pada tahun 2019 sudah ditamba menjadi 12,66 triliun dan rencananya pada tahun mendatang 2020 akan menamba menjadi 13,54 triliun (https:databoks.katadata.co.id. Sumber: Kementerian Keuangan “Kemenkeu” 2019). Dampak negatif bagi masyarakat dalam pembagian anggaran dana tanpa adanya kontrol oleh pihak terkait maka hal itu akan terjadi. Kemungkinan Tanah Papua secara sinergi dan simultan (serentak bersama) menjual tanah, hanya karena pemerintah telah membuka wawasan mengenai uang.

 

Masalanya adalah setelah memakai uang, orang mulai mengupayakan uang dengan cara menjual tanah dan harta milik mereka. Kenyatannya bahwa tanah milik sekolah, kesehatan, gereja, yang sudah diserahkan orang tua secara cuma-cuma sebagai tempat belajar mengajar, sebagai tempat perawatan dan tempat beribadatpun diminta bayar oleh pemilik tanah. Seharusnya tidak perlu dibuat dan dilakukan oleh masyarakat pemilik tanah. Hal ini diakibatkan kesepakatan bersama yang belum terjalin dengan benar. Dalam bentuk apapun untuk menjual tanah demi mendapat uang adalah usaha yang keliru sebagai manusia yang beradab.

 

Kemudian Otonomi khusus juga merupakan satu bentuk penanganan masalah kemiskinan di Papua melalui pendidikan. Kenyatan menyebutnya bahwa setiap pendidikan SD, SMP, dan SMA yang ada hanya tinggal bentuk bangunan tanpa guru pengajar. Apakah Papua tidak ada tenaga guru sehingga setiap sekolah hanya ditangani satu dan atau dua guru saja? Penulis mengangap kekosongan guru pengajar dan kekosongan tenaga medis di setiap daerah, karena kurang adanya kesadaran diri setiap orang. Kemudian hal berikutnya dana OtSus mempengaruhi tenaga pengajar dan medis atas ketidakteraturan dalam pengawasan pemerintah setempat.

 

Di Papua beberapa Kabupaten berupaya mendatangkan tenaga pengajar (guru kontrak) dan tenaga medis dari tempat lain. Apakah beberapa guru seperiti salah satunya kampus UNCEN jayapura yang sekian tahun mencetak sekian banyak guru orang asli Papua tidak diberi kebebasan terhadap profesi yang diraih sebagai guru? Dalam hal ini pemerintah perlu mendatai tenaga pengajar di setiap kampus, bahkan bila perlu membiayai secara utuh dalam perkulihan sebagai guru. Karena, merekalah yang akan menggantikan pengajar di setiap sekolah yang disebut-sebut tidak ada guru itu. Penulis berpikir bahwa setelah selesai sarjana keguruan yang telah dibiayai tidak mungkin akan kemabali ke tempat lain melainkan akan kembali tempat asalnya untuk menangani sekolah yang kekosongan tenaga pengajar tersebut. Sebaliknya juga dengan profesi yang lain seperti dokter, manteri dan lain-lainnya.

 

Dengan demikian penulis menggaris-bawahi, bahwa ketidaksadaran dibangun dalam setiap diri orang untuk tidak melepaskan secara cuma-cuma tanah yang adalah mama. Dampak utama adalah kurang adanya pengetahuan dasar tentang pemanfaatan alam. Oleh karena itu,  pengetahuan secara kaya dan memadai harus berdasar dari SD, SMP, dan SMA. Sebab, tanpa adanya pengetahuan, orang tidak mampu berpikir panjang untuk memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA), tetapi justru orang akan berlomba-lomba untuk menjual modal hidup dan harta kekayan tanah Papua itu sendiri. Sehingga guru-guru pengajar yang nangur perluh diperhatikan.

 

5.Tidak merusak tanah dan menjual tanah adalah keharusan bagi umat beragama,

 

Kepemilikan tanah adat dan pemanfataan atas tanah, hendaknya diatur dan dilindungi oleh semua orang. Tanah bukan dijadikan oleh yang maha Pencipta untuk diperkosa dan dijual, namun diperbolehkan untuk memenuhi setiap kebutuhan para pemilik tanah tersebut. Tanah telah diatur dalam perlindungan adat. Tanah bukan tempat berbisnis yang wajar bagi penguasa.

 

Tanah Papua adalah tanah yang sudah ada dan disediakan untuk masyarakat setempat.Dengan adanya perkembangan zaman, Papua menjadi lahan kerja untuk kebutuhan bersama. Papua merupakan tempat di mana setiap manusia dijadikan,  lahan penghasilan berskala besar yang diperuntukan bagi pemilik proyek dan juga dimiskinkan bagi pemilik tanah. Hal demikian perlu dilihat dan diperjuangkan atas hak yang telah dimiliki sebagaimana dijelaskan dalam Ajaran Sosial Gerja (ASG) “Pertanian yang menyediakan bagi masyarakat barang-barang yang dibutuhkannya untuk kelangsungan hidupnya sehari-hari, mengandung arti mendasar yang sangat penting. Situasi-situasi yang tidak adil banyak melanda negara-negara sedang berkembang dan kita perlu peka akan hal ini” (ASG Art 21).

 

Menjual tanah adalah meperluas lahan kapitalis untuk mendorong segala bentuk ketidak adilan yang akan berdampak pada masyarakat tersebut. Hendaknya berhak melindungi ketidak adilan yang terjadi melalui proyek-proyek dan juga melalui pemerintahan setempat. Masyarakat menyerakan tanah untuk membangun pustu setiap kampung, sekolah setiap kampung tetapi kenyataanya semuanya hanya tinggal bangunan. Obat-obatan yang tidak dilengkapi. Buku pelajaran tidak disediakan, hanya bangunan kosong tanpa fasilitas sekolah dan pendidikan yang baik. Kemudian melalui pemerintah juga, para pengusaha telah berupaya mengelolah alam yang didalamnya menjanjikan tenaga kerja yang akan mengangkat martabat masyarakat setempat. Namun, kenyataanya tidak diperlakukan demikian.

 

Arus perkembangan zaman membuat sebagian manusia tidak seutuhnya memenuhi hak dasarnya. Sebagaimana ditegaskan dalam Ajaran Sosial Gereja (ASG) Art 14 “tiap orang berhak atas kerja, atas peluang untuk mengembangkan bakat kemampuan serta pribadinya dalam menjalankan profesinya, atas upah wajar yang memungkinkan dia beserta keluarga, hidup dengan layak dibidang materil, social, budaya dan rohani”. Mereka ini adalah golongan paling lemah yang menjadi korban-korban kondisi hidup yang tak layak manusiawi, merongrong hati nurani dan merugikan keluarga, (art 11). Para kontraktor atau beberapa proyek-proyek sebelumnya sudah mengalami ketidakpuasan atas perjanjian-perjanjian dengan warga setempat yang sedang beroperasi merupakan pembelajaran untuk kita saat ini. Sehingga para pemilik Tanah Papua harus sadar akan pengalaman sebelumnya. Maka menjual tanah dan menyerakan tanah adat ke proyek berarti masyarakat tetap akan mengalami perlakuan yang telah dialami sebelumya.

 

Wacana pemekaran bila ditawarkan untuk menyejahterakan masyarakat melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lainya berarti masyarakat belum menyadari pembangunan sebelumnya, bahwasannya tanpa fasilitas yang lengkap di setiap kampung untuk masyarakat. Dalam hal itu masyarakat sadar kembali dengan pengalaman sebelumnya. Apa manfaat dari menjual tanah dan memberikan lahan terhadap pengusaha-pengusaha dan pemerintah itu. Stop jual tanah sudah, stop berikan tanah untuk pemekaran pemerintahan sudah, tanah dan alam bukan hanya milik generasi kita sekarang ini tapi, ingat juga kepada generasi berikut,  kita punya anak-anak yang sedang menyusu saat ini dan kelak.

 

Penullis adalah:  Yoseph Bunai, Mahasiswa Pasca Sarjana, STFT Fajar Timur Abepura Papua.

 

#Budaya

#Pemerintahan

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait