Merawat Relasi Menjauhi Sikap Egosentris

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

29 Hari yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Yubal Awega Nawipa. Foto saat acara malam keakraban "MAKRAB" IPMANAPANDODE Yogyakarta dan Solo 2020.

 

Oleh Yubal Awega Nawipa

 

OPINI, KABARMAPEGAA.COM--Keberadaan kita di dunia adalah sebagai seorang utusan, dititipkan melalui keluarga dan sedang berada ditengah-tengah masyarakat, membawa datang dengan sebuah misi besar demi mewujudkannya. Misi tersebut bermakna sebagai  sebuah tanggung jawab yang melekat disetiap individ dan ia semacam hak asasi manusia yang otomatis melekat sejak lahir yang kemudian menjelma menjadi kewajiban kita untuk menjalankan. Dimanakah tempat merealisasikan kewajiban tersebut? Tentu saja jawabannya adalah dimana pun kita berada disitulah tempat untuk beraksi mengaktualisasikannya.

 

Menjadi garam dan terang dalam berorganisasi, berdunia, bersuku, bermasyarakat, berpolitik, berpemerintahan, dan dalam berdesa itulah wujud nyata tempat dimana kita berada. Tetapi ternyata kita tidak hanya berada  didunia nyata, apalagi kemunculan teknologi dan informasi dan berbagai macam sarana lainnya memudahkan kita untuk saling berinteraksi dengan komunitas yang lain diseberang melalui media social seperti Fb, IG, WA menunjukkan bahwa kita juga ada di dunia maya, bahkan itu pengaruhnya sangat besar dan kuat.

 

Semua orang itu berharga, penting dan dibutuhkan karena selain manusia terlahir dengan kecenderungan berbuat baik juga ada  jiwa konstrukstif dan destruktif tergantung mau menggunakan perspektif yang mana. Namun tulisan ini menyarankan alangkah baiknya kehidupan mesti mengarah untuk mengonstruksi karena sejatinya salah satu makna pecahan dari misi tadi adalah manusia sebagai alat yang berguna menkonstruksi/membangun kebersamaan dengan tujuan yang baik; bukan merencanakan yang jahat melainkan berbuat baik dan saling memuliakan sesama dan kepada Allah khalik bumi manusia dan segala isinya.

 

Selanjutnya sebagai intisari dari pemahaman ini adalah bagaimana merawat relasi dan Menjauhi Egosentris. Topik ini sebetulnya jika ditelusuri lebih dalam agak luas cakupunnya, karena itu maka saya mempersempit ruang kajiannya hanya pada organisasi. Dari ruang lingkup organisasi ini saya mau mendaratkan dan membumikan sedikit saja  kaitannya dengan topik ini.

 

Kalau definisi dari organisasi itu terlalu banyak yang diutarakan oleh ahli-ahli tetapi intinya dari semuanya itu disimpulkan ada beberapa orang dalam satu wadah bekerjasama. Melihat dinamika perkembangan dunia ini, dunia semakin tidak jelas lagi. Tidak jelas karena sedang dimotori oleh orang-orang yang mementingkan diri sendiri diatas kepentingan bersama. Sementara   orang-orang benar juga menghilang sehingga jadinya orang-orang pembenaran yang menguasai dunia memimpinnya dengan sekehendaknya sendiri tanpa mempertimbangkan ukuran orang lain. Melayani tetapi dengan ukuran sendiri adalah tradisi buruk yang dipelihara.

 

Mengapa bisa begitu? Siapa yang salah? Diamnya orang-orang benar atau jujur ditengah ketidakjelasan adalah kesalahan besar yang dianggap pilihan paling tepat. Banyak orang pintar sudah hadir di dunia tetapi dengan kelemahan manusia tadi dapat  berpotensi menyalahgunakan kepintarannya demi kemakmuran pribadi. Hidup manusia sudah semakin kacau balau  tanda-tandanya bisa kita lihat bahwa seorang Dokter dengan kepintarannya merusak Kesehatan, Bank merusak Ekonomi, Guru merusak pengetahuan, bahkan Pers mendistorsi informasi sehingga semuanya bermuara pada ketidakjelasan. Kita yang lain bisa apa? Bisa mengambil Langkah perubahan tapi dengan cara apa dan bagaimana?

 

Kita mengakui bahwa manusia mempunyai kelebihan, kemampuan, juga banyak keterbatasan dan kelemahan. Dengan adanya varian ini maka setiap individu diinjeksi  dengan peran dan tupoksi yang berbeda-beda tidak lain tujuannya untuk menyembatangi jurang perbedaan tadi supaya ada ketergantungan dalam arti symbiosis mutualisme untuk kait-mengait, merancang dan membentuk hubungan yang kuat demi kelangsungan hidup manusia di planet bumi yang fana, baik melalui jejaring maupun tatapan langsung.

 

Sebetulnya berbedaan itu bukanlah suatu masalah justru karena ada perbedaan makanya ada tanggungjawab supaya orang mempunyai rasa tanggungjawab untuk  saling mengisi pada bagian kelemahan dan kekosongan dengan tujuan akhir hidup yang Bahagia. 

 

Nah, apabila ada seorang melihat kelemahan/kekosongan pada saudaranya, jangan biarkan!  baiklah segera untuk menegur/menasehati sebagai perwujudan saling mengisi atau melengkapinya. Satu istilah/ slogan yang paling menarik yang sedang tren macam “mencegah lebih baik dari mengobati,” Seperti dimuka saya bilang dunia rusak karena orang-orang yang tahu atau jujur ini terus secara perlahan diam merasa bukan tanggungun jawabnya, atau meghindari dari kenyataan akibatnya perkembangannya tidak bisa diprediksi lagi.

 

Sembunyi diri dibalik kesenangan dan kebahagiaan pribadi sambil  menonton berita di TV tentang  kegelisahan dan tangisan orang lain dari kursi sofa adalah perbuatan yang benar-benar buruk dan sebagai awal dari kehancuran relasi kita terhadap sesama. Dalam hal ini kita  harus terjung lebih jauh  menjadi bagian dari penderitaan itu, harus  merasakan apa yang dirasakan oleh sesama dan bersama-sama  mencari solusi dan menyelesaikan masalahnya.

 

Intinya harus mengutamakan orang lain ketimbang urusan pribadi.  Persepsi kita selama ini tentang apa untungnya bagi saya harus kita gantikan dengan apa yang akan saya lakukan terhadap orang lain. Sebenarnya orang-orang yang menganut Sikap ego  pun bisa membuat perubahan diluar tetapi sayangnya mereka tidak  merasa puas pencapaianya, sehingga kapanpun, atau dimanapun orang-orang yang paham ego secara radikal apapun yang mereka lakukan hasilnya akan tetap sama.

 

Jurang  perbedaan yang tercintang antara penganut egosentris dan altruis seperti berikut; kalau egosentrisme melakukan perubahan dengan ukurannya sendiri sehingga orang jarang betah disana karena tempatnya tidak nyaman sedangkan altruisme adalah langkah yang baik karena selalu mengutamakan atau memengtinkan orang lain daripada dirinya sendiri sehingga tidak jarang banyak orang berkerjasama membangun dan mewarnai komunitasnya dengan tidak lelah.

 

Sikap egosentris adalah akar dari hampir semua masalah pribadi maupun kolektif bahkan sampai global hingga dimana-mana. Diakui atau tidak, kita semua punya masalah itu. Jika anda mungkin merasa tidak egosentris, ijinkan saya bertanya: Ketika melihat foto kelompok anda, siapakah orang pertama yang anda cari…..? Pasti mencari diri anda sendiri. Begitu juga saya. Kita semua mencari diri kita sendiri sebelum mencari dan melihat orang lain dalam foto itu. 

 

Jika foto kita terlihat bagus kita berkata, “fotonya bagus sekali”, hahaha, meskipun orang lain mungkin matanya tertutup, mulutnya terbuka, atau kepalanya menoleh, atau mungkin agak suram pada di bagiannya. Apabila seperti itu selama ini sebaiknya mulai sekarang kita ambil komitmen untuk tidak melakukannya lagi. Sebab tanda ini mengindikasikan bawah kita masih memeluk  egosentris yang dimana pendapat kita didasarkan pada seberapa baiknya penampilan kita atau ukuran kita.

 

Jadi apa yang salah dengan menjadi sedikit egosentris? Menurut saya ini bisa memunculkan masalah yang berunjung perpecahan dalam organisasi. Karena orang egosentrisme tidak bisa menjaga keberlangsungan komunitasnya.

 

Sebagai solusi keluar dari sikap egosentris pertama kita mesti  mementingkan/mengutamakan orang lain sebab melalui itulah jalan merawat relasi antara kita. Memang awalnya sulit untuk memilih atau berubah dari mengutamakan diri sendiri menjadi mengutamakan orang lain tetapi janganlah putus asa  sebab proses membutuhkan waktu.

 

Harus ingat juga bahwa mengutamakan orang lain bukan Cuma sesekali saja tetapi baiklah untuk dijadikan sebagai gaya hidup. Karena kepemimpinan yang sukses dan bermakna selalu berbicara tentang orang lain dan dengan sengaja pula melayani orang berdasarkan ukuran bersama. Bahagia akan datang dan kita capai apabila persepsi kita berubah dari apa yang akan saya terima menjadi apa yang akan saya berikan.

 

Catatan: Kita semua adalah manusia, manusia itu sendiri punya perasaan maka saling menjagalah Perasaan; dicubit sakit, Lapar harus makan, kalau panas usahakan jaket atau payung.

 

Penulis adalah mahasiswa papua, kuliah di pulau Jawa.

#Mahasiswa dan Pemuda

#Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait