Natal APAP: Mama-mama Papua Dibawah Matahari, Berharga Di Mata Tuhan

Cinque Terre
Manfred Kudiai

21 Hari yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Suasana Ibadah Natal dan Tutup Tahun yang diselenggarakan oleh APAP di aula Gereja  Katolik Kristus Raja Malompo, Nabire, Papua. Rabu, (30/12). [Manfred/KM]

 

NABIRE, KABARMAPEGAA.com--Asosiasi Pedagang Asli Papua (APAP) melangsungkan ibadah natal dan tutup tahun bersama Mama-mama Pasar Papua  Nabire. Ibadah  tersebut dilangsungkan dari aula Gereja  Katolik Kristus Raja Malompo, Nabire, Papua. Rabu, (30/12).

 

Ada pun tema yang diangkat dalam natal bersama ini, yakni:  Mama-mama Perempuan Papua dibawah Matahari, Sungguh Berharga di Mata Tuhan.

 

Panitia penyelenggara Fransiskus Takimai mengatakan Natal seperti ini penting untuk dilaksanakan.  “Kami bikin Natal ini guna mempererat hubungan kami dengan mama-mama Pasar Papua,” jelas Fransiskus ketika diwawancara media ini.

 

Selain mempererat persaudaraan, kata Frans kami  merasa  anak yang terlahir dari rahim-rahim mama-mama, pejuang sejatih: yang  berjuang bermandi  terik, beralas tikar di emperan jalan, sepanjang trotoar serta di pinggiran pasar-pasar lokal yang mengabaikan hujan dan terik ini perlu merayakan natal bersama.

 

Pihaknya juga berharap agar   pemerintah  setempat  dapat melihat hak-hak mama –mama Pasar Papua. “Kegiatan ini kami adakan guna memberitahukan kepada pemerintah untuk melihat mama-mama kami dan  membangun pasar yang layak bagi mama-mama Pasar Papua,” harap Fransiskus Pekei

 

Sementara itu, Fransiskus yang akrab disapa Frans ini menceritakan kesiapan dan persiapan yang dilakukan oleh APAP.

 

“Untuk mengadakan kegiatan ini, kami mengalami banyak kendala. Kendala pada waktu yang amat sangat mepet serta tenaga yang terbatas. Tetapi, itu tdak membuat kami patah semangat. Buktinya kegiatan berjalan dengan meriah malam ini,” terangnya dengan nada yang kelelahan tetapi masih tegas secara ekpresi wajah.

 

Sementara itu, Frans juga berharap agar ada anak muda yang ada di Nabire agar sama-sama melihat nasib Mama-mama Pasar Nabire. “Untuk teman-teman yang mau bergabung, APAP terbuka bagi siapa saja yang peduli dengan persoalan Mama-mama Pasar Papua.”

 

Waktu yang  sangat mepet tidak membuat semangat mereka pudar dan rasa senang lahir dan dirasakan bersama, seperti yang dikatakan Frans. Dirinya sangat bersyukur dan bangga atas terlaksananya kegiatan Natal dan tutup tahun bersama Mama-mama Pasar Papua di Nabire. “Saya rasa bangga, walau waktunya mepet, bisa terlaksana dengan baik.” Terang  Frans.

 

Peserta yang diundang dalam kegiatan Natal bersama ini, pertama kepada Mama-mama Pasar yang datang dari wilayah Nabire Barat, Nabire Timur dan dalam Nabire kota.

 

“Hampir  semua organisasi yang ada di Nabire kami undang untuk datang  melaksanakan Natal bersama  mama-mama,” kata Frans.

 

Ketersediaan makanan dan kursi, lanjut Frans,  kali ini lumayan lebih dari tahun sebelumnya. “Untuk makanan, kami siapkan sekitar 300 lebih bungkus. Jumlah  yang cukup  itu kami siapkan sesuai dengan undangan yang kami sebar ke semua komunitas dan organisasi tapi mereka tidak datang. Mungkin mereka sibuk,” jelas Fransiskus lagi ketika ditanya terkait penyebaran undangan kepada komunitas-komunitas yang ada di Nabire.

 

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Umum APAP, Roberta Muyapa menyatakan Natal dan tutup Tahun 2020/2021 ini mengangkat tema tentang perempuan Papua, Mama-mama Pasar Papua.

 

“Parempuan Papua itu memang berharga di mata Tuhan tetapi yang terjadi di bumi, Papua tentunya, mama-mama Perempuan Papua berteduh dibawah matahari,” terang Roberta memperjelas tema kegiatan yang diambil pada natal tahun ini.

 

Roberta juga menjelaskan keberadaan APAP dan tujuan berdirinya APAP di Nabire. “Kita bersama bersujud-sujud, berdoa dan bernyayi di sini untuk tong semua sama-sama berjuang. Berjuang untuk  nasib hak bagi Mama-mama Pasar  Papua.”

 

Selanjutnya, suara-suara kerinduan akan nasib dan hak bagi mama-mama Pasar Papua datang dari mama-mama Pasar Papua itu sendiri. Kali ini diwakili oleh  Mama Korwa, dari wilayah Nabire Barat. Namun pertama-tama Mama Korwa mengungkapkan perasaan yang Mama korwa rasakan saat mengikuti perayaan Natal yang diselenggarakan oleh APAP Nabire ini.

 

“Sungguh luar biasa, kami bilang sebelumnya, kami mama-mama pasar ini ada apa, tapi ada anak-anak kami yang ikut merasakan nasib kami, dan berjuang bersama kami,” terangnya sambil meneteskan air mata di atas mimbar.

 

Kata Mama Korwa,  Mama-mama Pasar merindukan kegiatan seperti ini, sehingga dirinya berharap, untuk kedepan, tahun depan dan tahun berikutnya tetap merayakan Natal bersama kami Mama-mama Pasar.

 

“Kami rindu, merayakan natal bersama, bersama anak-anak kami yang kami besarkan bersama keladi, Ubi, Pinang dan sayur. Dan dari hasil ini kami sekolahkan anak-anak kami,” terangnya  dengann nada yang terharu yang disambut dengan tepuk tangan oleh peserta yang ikut merayakkan natal tersebut.

 

“Tuhan Yesus yang lahir dan datang ke bumi, memberkati  niat baik anak-anak kami ini, juga kepada semua yang peduli kepada kami. Juga kepada pembawa Firman, Ev. Jeckiel Ikomou yang membawakan sabda Tuhan. Kiranya Tuhan Yesus memberkati kitorang semua,” begitu doa perwakilan Mama-mama Pasar Papua di akhir sambutanya.

 

Lebih lanjut, Ev. Jeckiel Ikomou juga mengungkapkan rasa syukur atas diberi kepercayakan membawakan Firman Tuhan dalam kegiatan Natal ini.

 

“saya sangat senang sekali,  ketika saya dikasih kesematan bicara di tempat ini, dalam natal yang berbagia ini, bersama anak-anak kami yang peduli akan nasib dan hak mama –mama Pasar Papua serta Mama-mama Pasar itu sendiri,” terang , Ev. Jeckiel Ikomou.

 

Dalam kesempatan itu, Ev. Jeckiel Ikomou menasehati kepada anak-anak muda dan mudi yang terlena dalam kesenangan duniawi.  Sebelumnya, Ev. Jeckiel Ikomou menyanyikan lagu ratapan mengawali kotbanya.

 

“Anak-anak, kalian harus bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Untuk itu, kalian (anak muda) sekarang, untuk segera berhenti dari mabuk-mabukan, berjudi dan hal-hal negatif  lainnya yang merusak moral anak-anak. Dengan tegas saya melarang, stop dan stop dari sekarang, dari tempat ini. Sambutlah tahun baru dengan hati yang damai serta menjadi anak-anak muda yang berjiwa besar untuk mencari kebenaran dan keadilan di tanah ini.” Tegur  Ev. Jeckiel Ikomou dengan nada yang tegas.

 

Selanjutnya, EV. Jeckiel Ikomou menyampaikan kotbah dengan penuh semangat. Ia  menjelaskan  makna  dan kasih akan kelahiran Tuhan Yesu serta cinta dari Bapa-Nya kepada dunia yang ditandai dengan hari raya Natal.

 

“Anak muda yang peduli dengan Mama-mama Papua ini, sungguh luar biasa, kiranya Tuhan Yesus memberkati setiap perjuang ini,” papar Ev. Jeckiel Ikomou.

 

Masih dari tempat yang sama, dari partisipan yang dalam hal ini  diwakili  Komunitas Nabire Membaca (Koname) oleh Fauzan Al Ayyuby  diberi kesempatan  oleh panitia untuk menyampaikan  sambutan.

 

Dalam sambutannya, Fauzan menceritakan awal mula keterlibatannya dengan APAP melihat persolan Mama-mama Pasar Papua.

 

“Kami melihat atas apa yang diperjuangkan APAP ini tepat. Sebab, proses pembangunan yang jalankan pemerintah tidak sesuai dengan kebudayaan setempat, terutama di Nabire,” katanya.

 

Menurutnya, apa yang diperjuangan  APAP datang dari kegelisahan mama-mama Pasar Papua itu sendiri. “APAP tahu apa yang dirindukan oleh mama-mama Pasar Papua. Sebab yang dirasahkan betul akan dampak dari pembanguan ini adalah mama –mama Pasar Papua sehingga APAP menjadi penghubung menyampaikan aspirasi mama-mama Pasar Papua.”

 

Selanjutnya, pantauan dari media ini kegiatan Natal dan Tutup Tahun 2020/2021 berjalan meriah dan peserta yang datang pun beragam. Ada  perwakilan dari beberapa komunitas serta perwakilan Mama-mama Pasar dari Wilayah Nabire Barat, Nabire Timur dan Nabire Kota.

Pada Kesempatan itu, Penyair Papua, Aleks Giyai juga ikut hadir dan membacakan puisi hasil karyanya di depan mama-mama Papua serta peserta yang ikut ibadah tersebut.

 

Selain, acara puncak, ibadah dan makan bersama, Panitia juga sibuk menyiapkan transportasi bagi mama-mama Papua yang datang dari luar kota. Sementara itu, Ibadah Natal dan tutup Tahun kali  ini diadakan dengan tata cara beribadah  oikumene.

 

Panitia sudah siap di tempat sejak waktu ibadah yang dipasang disetiap undangan yang disebar. Mereka (Panitia/red) untuk menyukseskan kegiatan ini mengorbankan tenaga dan waktu.  Ibadah natal kali ini diakhiri dengan makan bersama dan berakhir pada pukul 20.00 waktu Papua.

 

(*)

#Budaya

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait