Natal Komunitas Mee A19: Merefleksikan Realita Hidup dan Memaknai Natal

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

18 Hari yang lalu
ROHANI

Tentang Penulis
Doc. Pribadi, Hendrikus. Ist.

 

Oleh, Hendrikus Gobai]*


Menyambut tahun baru 2021 dan sebagai kunci tahun 2020, Komunitas Mee A19 se-Jayapura gelar rekreasi bersama. Kegiatan ini dilakukan di alam terbuka tepatnya Pantai Kali Biru (Kamis, 31/12) belum lama ini.

 

Yang melandasi kegiatan ini harus dilakukan dan dengan  harapan mereka, merayakan  Natal bersama dan merayakan dengan gembira hari kelahiran bagi Yesus Kristus putra Allah.

 

Selain itu, refleksi ini dilakukan guna mempertanyaakan bahwa mengapa Natal tidak membawa kedamaian   setiap hidup kita dan di dunia tapi terutama di Papua.

 

Komunitas kami berpegang berprinsip dengan pertanyaan ini karena di Papua masih dalam stigma dunia maupun kedudukan bangsa Indonesia terhadap kehidupan rakyat Papua.

 

Kehidupan di Papua  sangat trauma dengan sistim yang di mainkan oleh Pemerintah Indonesua karena  merayakan hari natal 25 Desember itu hal biasa sama seperti hari kelahiran setiap kita secara individual. Tetapi yang luar biasa adalah Di Ndugama dengan Intan Jaya yang di rayakan dalam suasana yang tidak kondusif.

 

"Untuk itu, di rayakan hari natal tapi mengapa tidak ada kedamaian dan keselamatan atas selaga problem yang terjadi diatas tanah Papua, begitupun sama hal  tahaun baru 2021." Begitu pergumulan kami.

 

Di kutip dengan ayat Alkitab bahwa, sebab seorang anak telah lahir untuk kita orang berdosa di dunia ini, seorang putera telah diberikan untuk kita, lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai,  "Yesaya 9: 6"

 

Refleksi Hidup Pribadi

Tidak terasa bulan Desember sudah datang dan dengan itu di banyak negara suasana Natal sudah dapat dirasakan. Semua orang, Kristen dan bukan Kristen, dapat menikmati suasana itu karena hotel, pertokoan dan tempat wisata sudah dihiasi dengan pohon, hiasan dan lampu Natal.

 

Teringat saya hari perkembangan di papua, mendengarkan lagu-lagu natal di radio, HP, seolah hari Natal di luar rasa cinta atau  penuh kedamaian, apalagi dengan taburan salju di pohon-pohon dan diatas atap rumah-rumah itu hanya seseorang tertentu yang merasa bahwa memang yesus itu ada selalu lindungi dalam hidup ini.

 

Apa yang dibayangkan dan diharapkan manusia dengan datangnya hari Natal seringkali tidak sesuai dengan apa yang terjadi dalam kenyataannya.  Setelah dewasa kita menjadi sadar bahwa adanya Natal belum tentu membawa kedamaian dan keselamatan.

 

Di berbagai tempat, perayaan Natal terjadi di tengah peperangan, kemiskinan dan kekacauan, salah satunya  yang sedang terjadi di Papua yakni Penindasan, pemerkosaan, pembunuhan, melatarbelakangi, yang dilakukan melalui sistim pemerintah indonesia  terhadap  kehidupan rakyat Papua itu sendiri.

 

Bahkan, sekalipun banyak yang merayakan Natal di keluarga, di gereja atau negara, kedamaian itu seringkali sukar dirasakan, apalagi di saat pandemi ataupun zaman eraglobalisasi yang kini sedang berlangsung dan dengan adanya orang-orang yang ingin memakai kesempatan ini untuk membuat kebingungan dan kekacauan.

 

Menjadi pertanyaanku selagi masih ada nafas kehidupan kita di bumi ini sebagai berikut: Apa guna merayakan Natal jika kedamaian itu tidak ada? 
Dapatkah kita membayangkan Yesus yang lahir sebagai bayi kecil lemah lembut di palungan? Dan malaikat-malaikat yang menyanyikan lagu malam kudus?

 

Yesus sebenarnya datang ketika bangsa Israel sedang dijajah bangsa Romawi. Bagi mereka, situasi pada saat itu tentunya tidak damai. Tetapi, Yesus datang ke dunia bukan dengan maksud untuk mendamaikan manusia dengan manusia. Ia tidak datang untuk memberi ketenteraman, kepuasan dalam kehidupan duniawi. Ia datang ke dunia untuk memisahkan mereka yang mau didamaikan dengan Allah Bapa, dari mereka yang ingin mendekati Allah dengan cara mereka sendiri.

 

Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi, Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya, (Matius 10: 34-36).

 

Yesus adalah Raja Damai karena Ialah yang membawa damai antara Allah dan umat manusia. Murka Allah terhadap manusia yang tidak mau bertobat dari dosa mereka, terhadap mereka yang merasa dapat membeli karcis ke surga, atau yang merasa hidup mereka sudah cukup baik, tidaklah dapat dipadamkan kecuali melalui penebusan Yesus Kristus.

 

Hari ini biarlah kita sadar bahwa walaupun di dunia ini sering kita menjumpai berbagai hal yang tidak membawa kedamaian dan keselamatan di antara umat manusia, dalam keluarga, pekerjaan, negara dan bahkan gereja serta kehidupan perjuangan masing-masing kita, kita boleh yakin bahwa kita sudah didamaikan dengan Allah Yang Mahasuci tapi nayatanya khusus di Papua tidak ada kata damai dan keselamatan.

 

Sebagai simpul kami,  juga dengan  terdapat ayat adalah  "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik" (Roma 10: 15b).

 

Penulis adalah mahasiswa Papua kuliah di Jayapura]* 

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait