Nduga Menjerit

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

26 Hari yang lalu
PUISI

Tentang Penulis
Suasana warga sipil di Nduga / KM

 

Kaum jelata menjerit dibelantara,

Serpihan granat, memandikan kaum melata, bagai Hujan Salju berjatuhan dari Puncak Kabo.

Bercerai berai hidup demi sekongkolan tirani.

Teriakan minta tolong di Rimba ditelan Ledakan Bara Api.

Mata Dunia berabun bagai gelapnya Sang Surya.

 

Raga melemah mendaki Gunung,

Gua jadi Nasib tuk menghidupi,

Dedaunan di Rimbah jadi hidangan harian,

Disana Berbalut Raga dengan Batu dan Kayu.

 

Jahatnya Insani dibias sale,

Gelapnya awan sulit memutih,

Air mata darah bertubi-tubi dalam Sangkaran,

Ramainya terdengar Kicauan Burung pertanda Saran dicabik.

 

Melulu Gencarnya tiada gencat, Kalbu berkelana sukar,

Diiring ratap warga berderu dirimba bagai Gelora.

Melemah di Rimbah walau kenyataan menolak pulang.

Perihnya hari, walau dalam kesunyian harus bertahan di Hutan.

Sang Khalik, padamu kami berpasrah.

 

Karya : Petrus Yatipai

Di Negeri Amuntai, 21 Desember 2018

Baca Juga, Artikel Terkait