Orang Papua Banyak Meninggal Menuju Kepunahan

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

4 Bulan yang lalu
INFORMASI

Tentang Penulis
usai merenungkan dampak peristiwa kematian (meninggal) serius bagi orang papua- Watagai Kadepa.

 

 

 

Oleh Silvester W Kadepa,

 

 OPINI, KABARMAPEGAA.COM--Bumi cendrawasih disebut Papua yang mendiami di atas  pulau ini, orang Papua ras Malanesia (kulita hitam rambut keriting). Mereka setiap hari merasa sedih tangis dan duka setiap waktu. Tidak ada hari kebahagaan dan damai seperti Negara lain, pada hal mereka juga ingin seperti ini. Setiap hari selalu duka atas kematian manusia Papua tanpa memandang usia, umur, dan gender. Oleh karenanya, banyak korban berjatuhan (meninggal) akibat penindasan, penganiayaan dan pembunuhan yang terjadi diatas negeri ini.

 

 

Saat ini masalah nasionalis di tanah Papua, khususnya di kab Ndugama dan Intan Jaya sedang pertempuran perang antara TNI/PORLI dan TPNPB OPM. Yang mengorbankan banyak anak sekolah dan masyarakat spil yang tidak tau apa apa.

 

Dari perang yang terjadi kedua kab ini, banyak masyarakat meninggal (nyawa), tersingkir dari daerahnya. Mereka susah makan minum serta beraktifitas. Apa lagi mau belajar dan berjuang demi masa depan mereka sangat susah.

 

Dalam pemikiran saya 10 tahun kedepan untuk orang Papua dalam kepunaan, dan banyak yang meninggal itu akibat kekejaman prilaku  TNI- PORLI Indonesia atas pemerkosaan, penembakan senjata, tabrak lari dari motor dan mobil dan lewat makanan dan minuman.

 

 

Bayangkan jika hanya di sebuah kabupaten/kota setiap harinya hampir 1/5 % nyawa manusia melayang? bagaimana jika pendataan 29 kabupaten di Provinsi Papua dan 12 kabupaten Provinsi Papua Barat, maka kurang /lebih setiap hari orang Papua meninggal  205 jiwa.

 

ini hanya dalam satu hari, belum lagi kalau kita menghitung satu minggu, satu bulan dan satu tahun seretusnya. Jika terjadi demikian sangat disayangkan sekali nasib OAP yang dalam kepunahan ini.

 

Soal, Keluarga Berancana (KB) yang sudah di tetap dari Indonesia hanya berlaku di pulau Jawa, bukan dengan orang Papua. Mengapa karena pulau Jawa  penduduk meninggat dan lahan menyimpit, sehingga pihak pemerintah menetapkan satu keluarga dua/tiga anak. Tetapi Papua tidak berlaku itu. Papua butuh generasi. Tanah papua luas dan manusia kurang. Jangan mendengarkan aturan Indonesia. Tujuan mereka mau menghabiskan orang papua. Maka saya pesan kepada rumah sakit jangan publikasikan informasi (KB) Melalui surat kabar, radio dan Tv kepada orang Papua, Stop dan stop.

 

 

 

Saya pesan kepada Pemerintah daerah provinsi Papua dan Papua Barat, MRP, DPRP dan tokoh-tokoh agama perlu buka mata dan refleksi kembali dengan terjadinya kematian nyawa orang asli papua(OAP) yang tragis ini.

 

1. Kematian serius bagi orang papua (makanan minuman, senjata, dll)

2. Hak milik tanah orang Papua di rampas orang non Papua

3. Minuman keras, free sex dan aibon

4.Sakit penyakit  HIV AIDS/ Corona dll yang sedang beredar

5. Perusaah ilegal yang sedang beroperasi di wilayah bumi papua

6. Dll.

 

Diantara banyak masalah, tolong menanggangi persoalan ini dengan baik dan aman. Biar orang papua tidak meninggal lagi. Karena kita membiarkan begitu saja, kita mengharapkan kepada siap.  Orang papua akan habis diatas tanah subur ini.

 

 

Hal ini sangat sangat di sayangkan kalau pemerintah lipat tanggal. Kalau kita tidak berjuang dan diam dimanakah keadilan? dimanakah kejujuran? dimanakah hukum yang selama ini kita junjung tinggi itu? apakah para pemimpin ini masih memiliki jiwa nasionalisme untuk membangun kesatuan dan persatuan demi bangsanya sendiri di Malanesia.

 

Di tengah kematian pasti ada kemakmuran, rapatkan barisan dan lawan demi bangsa dan Negara west Papua barat, untuk meningkatkan generasi mudah Papua diatas tanah subur manusia subur adalah harapan bersama.

 

Salam Revolusi!!

Penulis adalah mahasiswa Papua, Pecinta Bumi dan Manusia.

#Peristiwa Nduga

#Peristiwa Intan Jaya

Baca Juga, Artikel Terkait