Orang  Papua Stop  Jadikan Miras sebagai Budaya

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

11 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Pius Tenouye, S. Par

Oleh, Pius Tenouye, S. Par)*

 

“Teguran Keras bagi Orang Papua, Stop Jadikan  Miras di Papua maupun Luar Papua sebagai budaya.”

 

Izinkanlah saya sebagai anak muda yang berasal dari Paniai, Papua yang peduli terhadap generasi muda Papua sebagai tulang punggung atas bangsa dan negara, sehingga saya ingin, menulisa sebuah tulisan singkat yang berjudul “STOP JADIKAN MIRAS SEBAGAI BUDAYA DI LUAR PAPUA MAUPUN LUAR NEGERI” dari perspektive pemerintah-pemerintah Papua dan teman-teman Papua yang kuliah di luar Papua dan luar negeri.

 

 

Penerapan terhadap minuman keras beralkohol adalah intinya tidak mau menbangahkan diri terhadap kasih cinta yang diberikan oleh Allah dalam hal ini, tubuh kita masing-masing. Pada hal, tubuh kita adalah tubuh yang sudah dilunasi habis oleh Tuhan, sebelum Allah menghadrikan kita di muka bumi ini, agar supaya kita bisa melakukan hal kebenaran selama kita masih mempunyai nafas hidup sesuai dengan kehendak Allah di kosmos ini.

 

 

Sebelum saya melanjutkan kuliah di luar Papua khusunya di Pulau Bali ( Universitas Udayana) pada tahun 2012 hingga 2017. Saya pernah mendengar bahwa  anak-anak mudah Papua yang biasa meninggal dunia dari pulau jawa maupun luar negeri adalah faktor minuman keras beralkohol (miras). Contohnya, pada tahun 2011 ada seorang suku kamoro yang dapat dikirim oleh Lembaga Pengembangan Masyarakat Dan Kamoro( LPMK) untuk melanjutkan Perguruan Tinggi (PT) dia di Bandung pada akhirnya beberapa tahun kemudian  ia meninggal dunia datang di Timika,  Papua hanya mayat. Ia meninggal dunia disebabkan, karena minuman keras beralkohol (miras) selama ia berada di Bandung, Ia kuliah tetapi kuliah yang tidak benar.

 

 

Selain itu, baru-baru ini ada dua orang mahasiswa Papua dapat ditewas setelah berpesta akibat minuman keras beralkohol (miras) di Jember Jawa Timur 2018. Merekan dua dapat dikrim oleh orang yang satu dari Kabupaten Kaimana dan yang satu dari Kabupaten Timika dengan tujuan untuk kuliah yang benar di Pulau Jawa khususnya di Jember agar supaya kedepan bisa membangun Papua berlandaskan iman, karena itu yang kami harapan sebagai orang tua. Namun demian, dua mahasiswa yang kuliah di Jember, bukti menunjukan bahwa mereka dua ini tidak mempertahankan nasihat-nasihat baik dari kedua orang, sehingga kedua mahasiswa di Jember melakuikan minuman keras tanpa mengetahui orang tua akhirnya meninggal dunia dini hari.

 

 

Saya mau bilang kepada teman-teman, kaka-kaka dan adik-adik dalam sebuah tulisan singkat ini bahwa kita yang masih mempunyai nafas, ayo kita sama-sama belajar banyak agar kita bisa memimpin Papua kedepan dengan cerdas, karena itu tugas dan tanggung jawab yang  kita sama-sama akan terapkan di atas tanah kita negeri West Papua.

 

 

Kita harus menyampaikan  berterimakasih juga kepada alam Papua dan kedua orang kita yang selalu kerja keras demi untuk melancarkan aktifitas kita sehari-hari di luar Papua itu sendiri dengan tujuan untuk menjadi seorang yang sukses. Selain itu, harapan orang tua kepada kita bahwa anak-anak kami harus menjadi seorang yang sukses agar kehidupan mereka kedepan hidup bagus sesuai dengan kehendak Allah.

 

 

Hal ini, kita sebagai orang Papua selagi kita masih di luar Papua, maka penting untuk menerapkan kehidupan kita sehari-hari selama kita berada di tanah orang. Ingat kawan, Papua sedang menangis untuk-mu dan untuk-ku hanya untuk penerapan ilmu-mu terhadap anak-anak mudah kedepan sesyai dengan bidang yang kita belajar di bangkuh kuliah.

 

 

Selama saya kuliah di Bali ( Universitas Udayana), saya mendapatkan banyak pertanyaan dari teman-teman  lain daerah  di Indonesia. Salah satunya adalah, kenapa orang Papua dan orang mangarai  selalu mengkonsumsi pesta minuman keras? Baru saya bilang, kembali ke orangnya masing-masing. Misalnya, saya tidak mengkonsumsi minuman keras beralkohol (miras) koo!. Seperti itu pula, Dosen saya menanyakan kepada saya bahwa apakah kamu selalu mengkomsumsi minuman keras beralkohol (miras)? Saya bilang, saya tidak biasa minum-minuman keras, Karena itu bukan warisan Bapak saya dan mama saya. Dan dosen saya bilang “ho iya, tapi koo saya herang! Kenapa? Karena saya melihat orang Papua rata-rata tukan mabuk.” “Ia Pak, kembali ke orangnya masing-masing!” balasku singkat.

 

 

Selain itu, pantauan saya dari teman-teman lain daerah di Indonesia, mereka memandang kita orang Papua adalah tukan mabuk-mabuk. Di tambah dengan, pemerintah Indonesia membuka program trasmigrasi di Papua dengan tujuan untuk memasarkan minuman keras di atas negeri West Papua. Kenapa? Mereka bisa begitu karena pandangan terhadap orang-orang dari daerah lain di Indonesia, kita orang Papua tidak mau sadar dalam hal ini untuk menghindari minuman keras itu sangat susah kah!

 

 

Saya sangat setuju atas kesepakan oleh pemerintah propinsi Papua yang mana sudah merilis di media sosial mengenai pelaranagn minuman keras kepada kalangan ASN dan kalangan mahasiswa baik itu, yang ada di laur negeri maupun dalam negeri, karena konsumsi –minuman keras (miras) merupakan bagian dari kebudayaan buruk yang  kita tidak perluh diterapkan selama kita berada di kosmos ini, karena dimana kita berada, itu adalah negeri  negeri yang diberkati oleh Tuhan  semesta alam. Ditambah dengan, Pak Lukas Enembe beserta jajarannya sempat membuat perundang-undangan mengenai pelaranagn, penerapan minuman keras (miras) di atas tanah Papua, namun sampai detik ini pantauan saya menunjukan bahwa masih terapkan barang tidak baik ini, oleh karena orang nomor satu Papua Lukas Enembe beserta jajarannya akan bersih keras untuk melarang, menutupi toko-toko yang sampai sekarang ini masih memasarkan minuman keras di wilayah Propinsi Papua maupun Papua Barat.

 

 

Untuk itu, sebagai akhir dari tulisan ini, saya menghimbau kepada seluru orang Papua yang suka mengonsumsi  minuman beralkhohol (Miras) stop membudayakan minuman keras di tanah rantauan. Kemudian untuk Pemerintah Papua yang sering minuman-minuman keras mulai dari sekarang stop minum-minum lagi. “Ingat Papua adalah tanah suci. Sungguh

 

 

Penulis adalah Alumnus Universitas Udayana Bali)*

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait