OTIS TABUNI: Pemekaran Provinsi Papua Tengah dan Selatan Adalah Konsep Kehancuran Bagi Penduduk Pribumi

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

16 Hari yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Otis Tabuni memberikan materi kepada peserta organisasi saat acara mahasiswa IPMAP/KM

 

 

OPINI, KABARMAPEGAA--Rencana pemakaran Provinsi Papua Tengah dan Papua Selatan merupakan bagian dari rencana kehancuran bagi Orang Asli Papua ( OAP) di atas bumi Cendrawasih. Hal ini dilihat dari berbagai masalah yang terjadi di Papua yang mana dari segi jumlah penduduk, dari segi SDM, dari segi persaingan dalam mengelola segala Program dan pemerintahan bagi DOB di Papua menjadi masalah tersendiri.

 

Konsep dan agenda Pemerintah pusat yang berkehendak adanya pemakaran Provinsi Papua Tengah dan Papua Selatan merupakan bagian dari kebijakan politik yang memiliki makna negatif oleh sebabnya orang Papua yang memiliki kepentingan politik belaka dengan nafsu kekuasaan nantinya harus dipikirkan secara menyeluruh kompleksitas persoalan yang ada diatas tanah Papua.

 

Mengapa Harus Konsep Intelejen?

 

Pertama yang hendak mau saya tanggapi adalah pertama, BIN telah mengetahui diri mereka dan siapa lawan mereka. Artinya, pihak Intelejen telah memperoleh data dimana sebagian wilayah Papua ini yang menjadi ancaman bagi mereka, oleh sebabnya disitu mereka telah menyiapkan agenda khusus guna menghancurkan apa yang menjadi ancaman bagi negara ini dengan iming-iming kepada beberapa orang Papua seperti beberapa oknum pemimpin dan masyarakat adat yang mengatasnamakan Papua.

 

Mengapa Mendagri mau gunakan hasil penelitian (BIN) dibandingkan aspirasi rakyat Papua?

 

Penggunaan Intelejen sebagai penyedia informasi merupakan kekuatan yang dapat menghancurkan lawan. Strategi intelegen berpotensial diperaktekan guna memenangkan agenda mereka demi kepentingan NKRI. Keberhasilan dan kemenangan agenda nasional ditentukan oleh intelegen sehingga apa yang disampaikan mantan Kapolri ini sangat jelas terbaca jelas apa maksud dan tujuan agenda khusus yang disiapkan oleh intelegen kita untuk Papua dan masa depan tanpa harapan yang jelas.

 

Hal ini jelas sebagaimana yang disebutkan dalam kitab perang yang diajarkan *Zun Tzu* *"If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles. If you know yourself but not the enemy, for every victory gained you will also suffer a defeat. If you know neither the enemy nor yourself, you will succumb in every battle”.*

 

Jadi semua ini sesungguhnya telah mengetahui kekuatan terhadap tuntutan Politik Papua ini ada di wilayah mana saja. Oleh sebabnya tidak salah menteri dalam negeri telah mengakui akan digunakan data dan analisis intelegen sebagai acuan atas adanya pemakaran Provinsi Papua Tengah dan Papua Selatan.

 

Kenapa Ada Pihak Yang Menjual Rakyat Papua dengan mengatasnamakan diri sebagai perwakilan rakyat Papua ?

 

Tidak ada orang yang paling bodoh di dunia ini, kami telah mengikuti langkah-langkah kerja para pemimpin Papua baik itu di eksekutif maupun legislatif juga lembaga-lembaga yang mengatasnamakan rakyat Papua. Mereka adalah para sebagian dari pemimpin Papua yang mendeklarasikan diri guna mendukung pemakaran Provinsi Papua Tengah dan Papua Selatan. Intelegen kita ini pasti tahu siapa Bupati yang hendak bisa bekerja sama dan mana bupati yang hendak tak bekerja sama. Siapa yang akan dijadikan ujung tombak guna menyukseskan program pemerintah dalam hal ini terkait isu Pemakaran Provinsi hari ini.

 

Oleh sebab itu, saya memohon kepada para oknum-oknum ini guna menganalisis secara menyeluruh, dampak positif dan dampak negatif bagi masa depan Papua didalam proyek-proyek yang sedang di iming-imingi oleh negara.

 

Orang Papua harus jadi orang Papua, jangan jadi manusia tameng dan manusia wayang yang diperagakan oleh manusia yang punya agenda khusus atas masa depan bangsa Papua.

 

Jumlah penduduk kita sangat minim, SDM kita sangat kurang, kami di marginalisasi di Papua ini secara nyata dan ini fakta menarik yang selama ini tidak dituntaskan lalu sekarang mau bawah masuk program pemakaran lagi. Orang- orang Papua ( elit politik lokal) yang kurang memahami dirinya siapa Dia dan apa yang sedang Ia lakukan atas negeri ini.

 

Semua mahluk hidup di bumi Papua ini punya keinginan untuk maju dan saat ini kebutuhan dasar orang Papua di dalam NKRI itu hanya pendidik. Pendidikan akan memberikan jawaban dan arti hidup bagi sebuah bangsa yang menikmati hasil usahanya. Jadi saya harapkan agar isu Pemakaran ini jangan dicampur handuk dengan kepentingan politik kekuasaan dan keamanan. Apalagi agenda intelegen sudah masuk, wah.. kalau begini ini masa depan Papua sudah ada dalam perangkap yang tak ada masa depannya lagi.

 

Kenapa Wilayah lain sulit usulan untuk sebuah DOB tetapi Papua Semudah dan semurah Ini?

 

Semua dimainkan teori ruang dan kehancuran peradaban kita tidak bisa dihindari. Sejarah menunjukkan dan seharusnya kita bisa belajar dari puing-puing masyarakat masa lalu. Peradaban akan kehancuran telah dimulai oleh kami sendiri untuk mencabut nyawanya sendiri pula.

 

Semoga orang Papua tidak senonoh dan sebodoh ini untuk dijadikan sebagai wayang diatas layar yang diperagakan oleh Jakarta secara tidak manusiawi sejak sejarah integrasi, 58 tahun didalam proyek-proyek NKRI, bayang-bayang dalam Otsus Papua antara Kebijakan Politik dan Dasar Hukum hingga segala agenda diluar dari nalar berfikir yang baik sebagai manusia.

 

Otsus katanya payung hukum bagi Papua dan pemakaran Provinsi dan kabupaten kota dilakukan atas sesuai UU Otsus Papua dan MRP adalah badan kultural Rakyat Papua yang seharusnya usulan pemekaran dilakukan sesuai jalur yang ada.

 

Kok, ternyata semua ini dibuat stress bagi kami yang pahami hidup dan kehidupan ? Kalau yang lain jadi alat yang diperagakan oleh Jakarta? Kita bicara soal kebenaran dengan hati yang jujur dianggap semua separatis? Memang lucu tetapi itulah faktanya.

 

Kapan ada kesadaran sebagai manusia ? Kalau Tuhan saja kami lawan?

 

Hancurlah bangsa ini, saat waktunya Tuhan, akan ada sebuah kesadaran bahwa apa yang telah saya perbuat dan mengapa harus seperti ini?

 

Otis Tabuni, Jayapura O2 November 2019

 

#Tolak Pemekaran Paniai Timur

Baca Juga, Artikel Terkait