Pameran Seni Rupa “The Khayouw” Dibalik Keindahan Danau Sentani

Cinque Terre
Manfred Kudiai

1 Tahun yang lalu
HAANIM

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Proses pengerjaan seni rupa dari daur ulang sampah plastik kawasan Danau Sentai oleh anak-anak Kampung Yokiwa yang hidup di sepanjang danau Sentani. (Foto. Doc. ACC/Ist).

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com—Pameran Seni Rupa, presentasi program Artist Residensi Aliakha Art Cencer  (AAC) akan dilaksanakan pada hari Rabu 27 Februari 2019  mendatang di Aliakha Art Center, Kampung Yokiwa,  Distrik Sentani Timur,  Kabupaten Jayapura  pada  pukul 15.00 WIT. 

 

Pameran tersebut diberi judul “The Khayouw”. Dalam pameran ini akan menampilkan karya-karya terbaik daur ulang sampah plastik menjadi seni rupa hasil karya  Seniman Papua, Ignasius Dicky Takndare bersama  Brian Suebu, Freddy Monim serta  anak-anak  Kampung Yokiwa.

 

Aliakha Art Center (AAC)

 

Aliakha Art Center (AAC)  adalah sebuah pusat kesenian yang dibentuk oleh sepasang suami istri Markus Rumbino dan Irma Awoitauw yang berlokasi di kampung Yokiwa,  Sentani Timur,  Kabupaten Jayapura. 

 

AAC dibentuk untuk memenuhi kebutuhan pengembangan potensi seni dan budaya lokal di kampung tersebut maupun Papua pada umumnya.  Platform ini diharapkan akan menjadi gerbang bagi seniman seniman lokal yang ingin mempromosikan karyanya serta seniman seniman dari luar Papua yang hendak hadir dan berkarya di Papua. 

 

“Berbagai kegiatan kelak akan dilakukan di tempat ini seperti pameran,  pertunjukan,  pengarsipan,  penelitian,  artist residensi, dan berbagai kegiatan lain sesuai visi AAC.”

 

Artist Residensi

 

Program ini menghadirkan seniman dari luar Papua untuk datang, tinggal,  dan berkarya di lingkungan AAC dalam hal ini kampung Yokiwa.  Pada umumnya Artist Residensi akan berfokus pada karya seniman, dan memfasilitasi seniman tersebut, namun Aliakha Art Center memberikan pendekatan yang berbeda di mana seniman yg didatangkan diwajibkan memberikan pelatihan dan melibatkan masyarakat setempat dalam karyanya. 

 

Untuk periode Februari 2019, atau program pertama AAC ini kami menghadirkan seniman Ignasius Dicky Takndare yangg sebenarnya adalah putra Sentani sendiri.  Dicky tinggal di AAC mulai tanggal 6 Februari hingga penutupan kegiatan pada tanggal 1 Maret nanti. 

 

Selama tinggal Dicky memberikan pelatihan untuk kelas anak anak,  dan dewasa. Untuk kelas dewasa dua pemuda Yokiwa juga terlibat sebagai seniman residensi,  yakni Brian Suebu dan Freddy Monim. Pelatihan berpusat pada dasar dasar pengetahuan seni rupa, pembahasan konten lokal,  hingga pembuatan karya.

 

Brian dan Freddy akan dibimbing menghasilkan karya pribadi mereka, demikian juga pada kelas anak anak, sehingga pada pembukaan pameran nanti,  karya yang ditampilkan meliputi karya personal dan sebuah karya kolaborasi yang bersama digarap baik kelas dewasa maupun kelas anak anak. 

 

 

The Khayouw

 

Dalam kegiatan ini, The Khayouw sebagai judul pameran mereka. “Kata ini adalah sebutan dalam bahasa Sentani untuk sejenis ikan gabus yang merupakan ikan asli danau Sentani.  Keseluruhan tema pameran akan menyinggung masalah kerusakan lingkungan hidup di danau Sentani.  “Karya anak anak, karya pribadi kelas dewasa, hingga karya kolaborasi akan menyinggung tema ini,” katanya. 

 

Untuk karya bersama, para peserta akan membuat replika ikan Khayouw dengan ukuran sekitar 10 meter dengan bahan yang mereka kumpulkan pada hari aksi kebersihan tanggal 16 Februari kemarin. 

 

“Aksi yang melibatkan komunitas Papua Trada Sampah tersebut berlangsung di tiga tempat serentak,  sungai Itauwfili,  kampung Yokiwa, hingga Telaga Emfote (Danau Love). Dari aksi tersebut dikumpulkan 52 kantung besar penuh dengan sampah plastik. Sampah sampah inilah yg akan menjadi bahan dasar pembuatan karya karya peserta.”

 

Melalui pameran ini, mereka ingin mengirimkan pesan untuk masyarakat Sentani maupun Papua umumnya, bahwa sampah plastik adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan kelak akan menjadi ancaman ygvsangat serius bagi manusia.  “Ikan plastik ini akan menjadi simbol peringatan itu.” 

 

Pameran Presentasi Program

 

Pembukaan pameran akan dilangsungkan pada Rabu 27 Februari 2019 di Aliakha Art Center,  pukul 15.00 WIT.  Pada pembukaan tersebut Para peserta akan mempersembahkan pula sebuah Performing Art sesuai dengan tema yang dibawakan.  Pameran akan berlangsung hingga tanggal 1 Maret 2019.

 

Kemudian, Seniman Papua, Ignasius Dicky Takndare kepada media ini mengatakan adik-adik di Ppaua memiliki potensi yang baik di bidang seni rupa.

 

“Ade ade di sini punya potensi yang baik dalam bidang seni rupa. Kitong adakan pelatihan-pelatihan begini sebagai stimulasi untuk pancing dong pu niat di bidang ini,” jelasnya saat dihubungi kabarmapegaa.com, Jumat (22/2).

Setiap hari selama sebulan, kata Dicky mulai dari tanggal 6 Februari sampai hari pameran 27 Februari mendatang kami melakukan pelatihan-pelatihan. “Dalam pelatihan kitong tra sekedar ajar menggambar saja tapi bagaimana dorang bisa bangun imajinasi dan percaya sama dong pu mimpi,” jelas Seniman Papua kelahiran tahun 1988 asal Sentani, Jayapura Papua ini.

 

Karya-karya yang diciptkan adalah berbahan plastik yang saat ini sedang mengcemari keindahan danau Sentani. “Karya-karya yang kitong bikin ini berbahan sampah yang kitong ambil dari kali telaga dan danau Sentani,  termasuk karya instalasi ikan besar juga dari sampah,” kata Alumni  Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

 

“Kitong mau kirim pesan ke masyarakat Sentani dan juga Papua kalau masalah sampah terutama sampah plastik ini masalah serius.  Barang ini jelas merusak.  Jaga lingkungan bersih baik karena manusia itu beranak satu tahun sekali paling cepat.  Sampah cuma perlu berapa menit, dan itu kitong yang bikin sendiri,” tegasnya.

 

Dalam konteks lokal, lanjut Dicky kami mau pesan jaga Danau Sentani, jang jadikan danau ini septictank raksasa temoat semua kotoran bermuara,  karena banyak masyarakat adat yang hidup tergantung ke danau.

 

“Sampah banyak nanti ikan dong makan sampah habis itu kitong makan ikan,  kan sama saja kitong makan sampah,” kesalnya.

 

 Jadi, menurutnya, karya-karya dari kegiatan ini semua sindiran, teguran,  dan seruan untuk isu lingkungan hidup ini.

 

Sementara itu, Freddy Monim  sejak kecil suka mencari ikan di sungai Itauwfili maupun danau Sentani ini mengaku sekarang sulit sekali mendapatkan ikan-ikan di Danau Sentani.

“Sekarang sulit sekali mendapatkan ikan-ikan asli danau Sentani,  lebih mudah mendapatkan sampah, sehingga dalam karya saya menggambarkan ornamen khas Sentani berbentuk ikan-ikan endemik namun menutupinya dengan material sampah yang saya temukan di kali maupun danau,” katanya.

 

Selanjutnya komentar serupa datang dari Brian Suebu. Dirinya mengatakan saya sedang mengerjakan sebuah karyauntuk pameran The Khayouw nanti.

 Brian mengekspresikan keprihatinan dan kemarahannya setelah melihat lingkungan sekitarnya, khususnya danau Sentani tidak lagi seperti dulu.  Ia mau mengajak penikmat karyanya untuk mulai peduli pada lingkungan hidup.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Lingkungan dan Hutan

Baca Juga, Artikel Terkait