Pandemi Corona, Mahasiswa di Luar Papua Butuh Bantuan  

Cinque Terre
Manfred Kudiai

1 Bulan yang lalu
PENDIDIKAN

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Foto bersama pelajar dan mahasiswa di luar Papua yang berasar dari wilayah Meepago, yang selanjutnya disatukan dalam wada ornaginasi Ipmanapandode Joglo. (doc. Ipmanapandode/Ist)

 

NABIRE, KABARMAPEGAA.com--Jumlah pasien positif virus Corona atau Covid-19  setiap hari semakin bertambah, Kemudian yang meninggal pun  bertambah. Untuk mencegah penyebaran virus Corona, Mahasiswa Papua di luar Papua telah menjaga jarak fisik (physical distancing),  belajar di asrama, hingga beribadah di pun di asrama.

 

Hal ini membuat ketersediaan makanan serta bahan pokok lainnya kunjung habis. Melihat hal ini, pelajar dan mahasiswa di luar Papua  yang tinggal bersama di tiap asrama yang ada mohon perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Daerah.

 

Ketika dikonfrimasi media kabarmapegaacom, Sabtu, (04/4)  kepada salah satu pengurus Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua di luar Papua membenarkan kejadian ini.

 

“Khusus kami yang kuliah dan sekolah di Jogja dan Solo, yang tinggal di asrama maupun kontrakan mulai kehabisan  bahan makanan,” kata Yosias Tebai, Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai dan Deiyai Yogyakarta- Solo (Ipmanapandode Joglo).

 

Dirinya berharap, ada bantuan dari Pempov dan Pemda  di wilayah adat Meepagoo (Nabire, Paniai, Dogiyai dan Deiyai).

 

“Pelajar dan mahasiswa Papua yang lagi studi di setiap kota studi di luar Papua khususnya  Jogja dan solo  menyampaikan kepada  Gubernur dan Para Bupati agar segera menyediakan bantuan biaya makan, biaya listrik, biaya Wifi di setiap asrama, kontrakan dan Kos-kosan,” pintanya.

 

Hal itu dikatakan Tebai, setelah melihat kondisi yang dialami oleh pelajar dan mahasiswa di luar Papua. “Beberapa hari kedepan, kemungkinan besar  kioas-kioas, pasar dan semua rumah makan akan tutup lantaran virus Korona yang menyebar dan meningkat di Seluruh Indonesia".

 

Kata dia,  tidak hanya Ipmanpandode di Joglo, tepai kami harap semua mahasiswa dan pelajar yang ada di luar Papua membutuhkan bantuan dari berbagai pihak, terutama pemerintah Papua dan Papua Barat.

 

Sementara itu, salah satu mahasiswa Papua yang kuliah di Yogyakarta, Andreas Bunai juga menanyakan sejauh mana perhatian pemerintah daerah Papua bagi seluruh mahasiswa Papua di  luar Papua.

 

“Kami ikuti, media-media menyiarkan tentang bantuan yang diberikan oleh individu dan lembaga kepada asrama mahasiswa di Jayapura Papua, terus pertanyaannya bagaimana dengan mahasiswa yang diluar Papua?” tanya Bunai.

 

Kata dia, update terakhir terkait virus Korona masih tertinggi di luar Papua. “ Dan itu membuat kami berdiam diri di setiap asrama.”

 

“Jumlah pun semakin bertambah, kemungkinan kedepannya akan lebih sulit  untuk mendapatkan bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya, sehingga kami harap bantuan dari pemerintah, legislator serta lembaga-lembaga yang peduli terhadap mahasiswa Papua di luar Papua,” bebernya mengakhiri.

 

Sementara itu, informasi yang dihimpun media ini, sekitar 30 orang mahasiswa Papua dari beberapa kota studi, masih berada di Makassar, Sulawesi Selatan. Mereka berada di Kota Daeng, karena tidak bisa pulang kembali ke Sorong, Papua Barat, lantaran adanya penutupan Bandara Deo Sorong sejak 1 April 2020. Sehingga pesawat Batik Air yang akan mereka tumpangi, tidak bisa terbang dan membawa mereka.

 

Lantaran tidak bisa kembali ke Sorong karena Bandara Deo sudah ditutup, Wali Kota Sorong Lambert Jitmau memutuskan untuk memberikan bantuan dana sebesar Rp 50 juta kepada 30 mahasiswa tersebut.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

 

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait