Panggung Persiapan Memperingati “Hari Kematian Arnold Clemens AP”

Cinque Terre
Alexander Gobai

8 Bulan yang lalu
TULISAN

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh,  Frengki Syufi

 

“Budayaku, Jati Diriku, Bernyanyi untuk Hidup”

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Tepat pada hari Sabtu, 21 April 2018 di Asrama Mahasiwa Papua,  Kamasan I, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Para mahasiswa yang bergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua Komite-Kota (KK-AMP) Daerah Istimewa Yogyakarta, Ikatan Pelajar Mahasiswa Papua  (IPMA - PAPUA) DIY, Front Rakyat Indonesia untuk west Papua (FRI-WP)  dan perwakilan mahasiwa dari masing-masing paguyuban yang berasal dari tujuh wilayah adat (Mamta, Saereri, Domberai, Bomberai, Ha Anim , La Pago dan Mee Pago) di Papua yang pada saat ini mengenyam pendidikan di kota Studi Yogyakarta juga turut berpatisipasi dan turut memeriahkan acara  Panggung Persiapan Memperingati Hari Kematian Arnold Clemens AP.

 

 

Acara ini dimulai tepat pada pukul 19.10 – 22.00 WIB. Berbagai acara yang diisi oleh para mahasiswa Papua dari tujuh wilayah adat di Papua pada acara persiapan ini yaitu penyampaian orasi politik mengenang hari kematian Arnold Clemens Ap, puisi, menyanyi, menari khas Papua yang diiringi oleh lagu dan musik Mambesak. Kegiatan panggung kesenian ini dilakuakan sebagai pra-persiapan memperingati hari kematian dari seorang kurator, antopolog dan musisi dari Papua yang bernama Arnold Clemens Ap yang diadakan pada hari Kamis, 26 April 2018 di Asrama Kamasan I, Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

 

Pada acara ini juga dapat diisi oleh sambutan-sambutan dari ketua panitia untuk memperingati hari kematian Arnold. C. Ap, ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMA – PAPUA) DIY,  ketua asrama Kamasan I, DIY, ketua Aliansi Mahasiswa Papua Komite-Kota (KK-AMP) DIY. Dalam sambutan pembukaan yang disampaikan oleh Derek Deki Degei sebagai ketua panitia dalam acara ini bahwa walaupun Arnold Clemens Ap sudah meninggal tetapi jiwa dan rohnya masih terpatri dan terus hidup dalam setiap pribadi generasi muda Papua untuk terus memperjuangkan keadilan dan kebenaran yang telah diperjuangkan oleh kurator dan musisi dari Papua untuk  mempersatukan masyarakat Papua sampai pada akhir kebebasan.

 

 

Oleh karena itu, generasi muda Papua harus memperkokoh persahabatan dan memperkuat persatuan dari tujuh wilayah adat untuk terus menghidupkan kembali persatuan dan nyala lilin kebebasan yang telah dinyalakan oleh Arnold C. Ap sampai PAPUA harus BEBAS maka tidak ada istilah untuk Papua Gunung & Papua Pantai yang ada hanyalah SATU yaitu PAPUA. Istilah Papua Gunung dan Papua Pantai ialah suatu isu yang diciptakan oleh kelompok-kelompok tertentu (para kolonial Indonesia) untuk memecah belah nilai persahabatan dan persatuan yang telah dibangun oleh Arnold Clemens Ap bersama rekan-rekan seperjuanganya melalui grup Mambesak bahkan ia dan beberapa sahabat karibnya berjuang sampai mempertaruhkan nyawanya demi manusia Papua dan alam Papua.

 

 

Setelah sambutan dari ketua panitia maka sambutan selanjutnya dari Aris Yeimo selaku Presiden Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Papua (IPMA-Papua). Dalam sambutan tersebut Aris Yeimo menegaskan bahwa di Papua perampasan tanah, eksploitasi sumber daya alam, pemerkosan para ibu maupun perempuan Papua, pembunuhan hingga penembakan yang menewaskan 500.000 jiwa orang asli Papua sejak Pemerintah Indonesia menganeksasi Papua ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 19 Desember 1961 melalui TRIKORA (Tiga Komando Rakyat) yang dikumndangkan oleh Ir. Soekarno di Alun-Alun Utara Yogyakarta sampai tahun 2018 ini, sehingga salah satu yang kita mengenang bersama pada acara pra-peringatan hari kematian ini adalah Arnold Clemens Ap yang merupakan bagian dari operasi militer Indonesia di tanah Papua. Oleh sebab itu, himbauan dari Presiden IPMA-Papua DIY kepada seluruh mahasiswa Papua bahwa kita sebagai mahasiswa Papua kita tidak boleh takut untuk menyuarakan keadilan dan kebenaran yang dibungkam oleh Negara Indonesia (para kolonialis, imperialis dan kapitalis) di tanah West Papua, tidak boleh duduk diam, mari kita bergandengan tangan, harus bersatu, menjadi mahsaiswa yang lebih progresif untuk melawan para kolonialis yang mengerogoti semua apek kehidupan bangsa West Papua.

 

 

Pada sambutan yang ketiga ini dibawakan oleh Paul selaku ketua Asrama Mahasiswa Papua, Kamasan I, DIY. Dalam sambutan tersebut beliau menyampaikan kepada seluruh peserta mahasiswa Papua bahwa asrama Papua ini terbuka secara umum bagi mahasiswa Papua mulai dari Sorong sampai Samarai tanpa adanya perbedaan apapun karena kita semua pada dasarnya adalah satu yaitu Papua.

 

Oleh sebab itu, marilah kita meninggalkan ego kita, persepsi negatif yang selalu memecah belah persatuan kita dan saatnya kita bergenggaman tangan serta menjunjung tinggi nilai kekeluargaan dan persatuan antarkita untuk melangkah bersama mengapai apa yang kita cita-citakan, apa yang kita mimpikan bersama dan terus mengkumandangkan mimpi dari Arnold Clemens Ap dalam lagu yang berjudul Misteri Hidup pada bait ke lima dan ke enam yang berbunyi “Yang kudamba dan yang kunanti, Tiada lain hanya kebebasan”. Selain itu juga,  orasi politik dari Julia Opki sebagai Presiden Komite-Kota Aliansi Mahasiswa Papua (KK-AMP) Daerah Khusus Istimewa Yogyakarta untuk mengenang sang musisi, kurator dari Universitas Cendrawasih (UNCEN) Jayapura dan budayawan asal Papua yang ditembak oleh militer Indonesia yakni Pasukan Khusus (Kophasanda) pada 26 April 1984 dan membuka acara pra-peringatan hari kematian Arnold Clemens Ap bahwa acara tersebut siap dilaksanakan.

 

 

Penulis adalah Mahasiswa Kerjasama dari Keuskupan Manokwari Sorong dan Keuskupan Agats-Asmat yang Kuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

 

(Admin/KM)

Baca Juga, Artikel Terkait