Panggung RMMPP Jogja: Ini Pesan Panitia, Finalis BRB-Epo dan Ukam Maniczy

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Suasana saat kegiatan berlangsung di Kamasan I, Jogja. (Manfred/K)

 

 

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com—Bertempat di halaman asrama Mahasiswa Papua, Kamasan I, Jln. Kusumanegara, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (29/6) Relawan Mama Mama Pasar Papua (RMMPP) Yogyakarta mengadakan lomba Raf Battle.  Dalam kegiatan ini, Finalis  Beef Rap Battle  Indonesia Epo Dfenomeno hadir sebagai juri didampingi Ukam Manicy.

 

Kegiatan tersebut diberi tema Pangung Mama-mama: “Satu Payung Untuk Anak Cucu” dihadiri 300 lebih mahasiswa Papua di Jogja dan ada juga yang datang dari luar Jogja, Front Rakyat Indonesia untuk Papua (RRI-WP). Dan beberapa komunitas Hiphop asal Papua, Maluku, NTT dan Bali ikut meriakan panggung. Dalam kesempatan tersebut, selain Raf, panggung di isi dengan Mop, Stand Up Comedi, Orasi yang membuat suasan meriah.

 

Ketua RMMPP Wilayah Jogja, Abigael Loho mengatakan pengalangan dana yang dilakukan oleh relawan  ini tujuannya supaya  pemerintah melihat dan  tergerak hati untuk melihat mama-mama di lapangan.  “Pemerintah harus turun, memberikan bukti nyata kepada mama- mama kita, yang kita sebuat mama-mama Pasar Papua  yang jualan di jalanan,” jelasnya saat diwawancara kabarmapegaa.com (29/6) di halaman asrama Mahasiswa Papua.

 

Hal itu dikatakan Abigael karena dirinya menilai, selama ini pemerintah yang ada di Papua hanya memberikan harapan palsu dengan janji-janji yang tidak pernah ditepati. “Pemerintah jangan hanya memberikan pernyataan palsu kepada mama-mama Pasar Papua tetapi mengupayakan tempat yang layak bagi kami punya mama-mama supaya mendapatkan tempat (Pasar).”

 

Menurutnya, pemerintah semestinya sadar atas  apa yang diminta oleh mahasiswa dan relawan yang berjuang selama ini. “ Kami cari dana untuk mama-mama karena kami lihat mama-mama kami mandi panas, hujan, debu di emperan jalan. Apa yang kami tuntut adalah  berdasarkan keinginan mama-mama pasar. Kami berjuang kerena melihat realita di lapangan, yang jauh dari kata sejahtera,” jelasnya sambil mata berkaca-kaca

 

Kami minta, kata Abigael,  pemerintah turun ke lapangan, menanyakan langsung kepada mama-mama, apa yang diinginkan mama Pasar itu jauh lebih baik  dan bukan hanya memberikan janji palsu. Bukti nyata itu yang kami butuhkan.

 

Kemudian, Kehadiran Beef  Rap Battle  Epo Dfenomeno dan Ukam  memberikan semangat kepada RMMPP di Yogyakarta dan mengucapkan terimakasih atas waktu yang telah luangkan ikut terlibat dalam memperjuangkan Pasar Mama-mama Papua. “Dengan kegiatan ini, Kakak Ukam dan Epo, telah mengambil bagian dalam perjuangan Pasar Mama-mama Papua lewat bakatnya, seperti Rap. Kami minta juga supaya, komunikasi terus dibangun, sebab relawan mama –mama Pasar Papua ini telah menyebar luas di Papua, sehingga terus ambil mengambil bangian, memberikan kesadaran kepada mahasiswa lewat minat dan bakat yang dimiliki” ujarnya.

 

Katanya, kami panitia, tidak menyangkah kegiatan bisa meriah seperti ini, sangat-sangat terkesan sekali. “Jujur saja, sebelumnya kami dari relawan mama Pasar berpikir kegiatan ini, akan jalan atau tidak, tetapi Tuhan tidak pernah tutup mata. Karena persiapan itu bisa dibilang, kitong sebagian besar yang kerja adalah perempuan, walau tidak menutup kemungkinan ada kawan-kawan laki-laki juga ada yang bantu tetapi bisa dihitung dengan jari.”

 

“Tapi ternyata, Tuhan itu baik,  kitong punya kegiatan berjalan dengan baik, bahkan lebih dari apa yang kami bayangkan, pokoknya kegiatan  berjalan lancar, pokoknya wow, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Dan disitu  sangat menyetuh, ternyata dengan cara-cara begini, kitong punya relawan mama-mama pasar hari ini, ternyata banyak yang diketahui. Dan semua yang kami lakukan ini untuk kita punya mama-mama.”

 

Untuk itu, dirinya berpesan kepada  mama-mama Pasar Papua supaya tetap semangat. “Mama-mama yang hebat, dan luar biasa, kami  sebagai mahasiswa, kami sebagai mama dong punya anak, kami tidak bisa kasih yang lebih  buat mama dong, jadi mama dong jangan lihat dari apa yang kami berikan. Mungkin ini terlihat hal kecil bagi semua orang, tetapi kami percaya, dengan ini, dampaknya akan sangat besar, jadi buat mama -mama,  kami akan selalu ada buat  mama-mama Pasar Papua selama kami bisa kami akan lakukan buat mama-mama.”

 

Untuk mahasiswa, yang ada di seluruh Indonesai ini, khususnya untuk mahasiswa Papua, ataupun yang luar Papua yang peduli dengan persoalan mama-mama Pasar Papua ini, mari sama-sama bergandengan tangan untuk terus menyuarakan aspirasi mama-mama Pasar Papua. “Jadi kepada mahasiswa lebih membuka diri, serta menggunakan media soasial untuk mengkompanyekan pengadaan pasar buat mama-mama Papua.  Serta terlibat ambil bagian untuk melihat situasi dan keadaan yang terjadi di Papua.”

 

Pada kesempatan yang sama, Finalis  Beef Rap Battle  Indonesia- Epo Dfenomeno mengatakan biacara tentang Mama-mama Pasar Papua itu bicara tentang kita semua.  “Biacara tentang Tanah Papua beserta isisnya, bicara tentang bagaimana kita bisa  menjaga kita punya  tanah dari apa yang sudah ada dari kita punya orang tua, leluhur kasih tinggal untuk kitorang, dan sampai di hari ini.  Bicara tentang Papua berarti bicara tentang tanah adat milik kita semua dari tujuh wilayah suku besar. Jadi,  banyak yang sudah terjadi di kita punya tanah Papua yang  seperti jadi di dalam, jadi di isi, tapi di kulit itu tidak kelihatan. Artinya semua yang terjadi adalah tersembunyi,” katanya kepada media ini saat diwawancara.

 

Menurutnya, ada banyak persoalan yang tidak terselesaikan sampai hari ini. Dan saya sendiri beserta teman-teman dari Black Kasuari, khususnya ada saudara Ukam salah satu pelaku Hiphop Rap dan masih banyak lagi mungkin yang bersuara tentang ketidakadilan di Tanah Papua.

 

“Berbicara tentang kitong yang menangis diatas kitong punya tanah sendiri. Mungkin kata ini bisa diartikan dengan eksprestasi tidak masalah.  Berikutnya,  dicelah-celah semua yang terjadi ini, seakan-akan sebagian berjuang dan sebagian sedang tidur,” katanya.

 

Seperti yang kita ketahui, kata Epo,  bahwa dulu bapak-bapak kita berberjuang, lewat suara Mambesak dan semua musisi sampai kebawah ada Blacks Broters dan lain-lain. “Bersuara untuk bagaimana, semua bisa diangkat keatas. Bagaimana semua bisa disampaikan lewat lagu.”

 

Hal ini, menurutnya, berjuang tidak harus turun sampai ke jalan, tetapi  kita  dengan kita punya cara masing-masing, entah di sisi seniman. Intinya beda cara tapi satu tujuan. Dan beda cara dan beda media, tetapi satu suara untuk Tanah Papua. “Kemudian, di sini kitong membantu dan  suport secara langsung tong punya sodara-sodara dorang, perempuan-perempuan Papua yang saat ini berada di Yogyarta, kitong melakukan satu aksi dimana memperjuangkan hak atau memeperjuangkan sesuatu yang memang harus  dan layak diperjuangkan, artinya kitong berjuang untuk mama-mama Pasar Papua, dimana dong harus ada wadah, yang layak diatas dong punya rumah sendiri. Yaitu pasar mama-mama Papua,” katanya.

 

Tambahnya, generasi pertama yang memeprjuangkan pasar mama-mama Papua di Jayapura sudah direalisasikan walaupun perjuanganya bertahun-tahun. “Namun bicara tentang Papua bukan hanya di  Jayapura, jadi kitong harus memperjuangkan lagi untuk pasar mama-mama Papua  yang ada di seluruh tanah Papua. Kitong harus realisasikan itu, melalui perjuangan-perjuangan seperti ini,  lewat aksi malam ini.”

 

Epo menilai perjuangan RMMPP di Jogja sangat luar biasa. Menurutnya  luar biasa karena mereka  berjuang untuk mereka punya  rana, mereka berjuang untuk kita punya mama-mama, dimana mama-mama kita jualan untuk sampai saat ini kita bisa besar, kita bisa berpendidikan, kita bisa punya banyak pergerakan, banyak talenta yang Tuhan sudah kasih, dan mama-mama sudah bantu bina kami. “Nah, untuk mama-mama kita harus memperjuangkan nasib mereka,” tegasnya

 

Oleh sebab itu, untuk relawan mama-mama Pasar Papua, yang hari ini melaksanakan aksi di asrama Kamasan Yogjakarta, semoga aksi ini berjalan, berkembang karena  ini adalah hal positif. “Nah, bicara tentang perempuan Papua, harusnya perempuan Papua yang lain juga bisa  habiskan waktu dengan hal yang seperti begini.”

 

Lanjutnya, kemudian kita biasa lihat, banyak aksi di sosial media, disitu kita punya perempuan-perempuan Papua tunjukan,  ada yang goyang tidak sesuai etika,  ada yang terlalu banyak pencitraan di sosial media tapi pergerakan di lapangan atau di  aksi nyata itu tidak ada. “Jadi, semua ini menjadi pengaruh, inpack besar untuk semua perempuan Papua khusus yang ada di tanah Papua di luar Tanah Papua. Terus berjuang untuk hak-hak orang Papua.”

 

 

“Pergerakan seniman juga, kita harus menyilipkan pesan yang lebih nyata tentang apa yang terjadi di tanah Papua. Untuk teman-teman raper, karena kita terlalu banyak menghabisakan waktu, banyak karya, banyak suara untuk berbicara  tentang masalah hati. Kita terlalu banyak menangis di lagu. Kitong lupa memperjuangkan orang yang sedang menagis untuk kitong punya bangsa dan tanah yang sedang menangis, kitong lupa,” katanya

 

Jadi menurutnya tidak harus buat banyak hal,  tetapi kita  juga harus  menyampaikan pesan berupa pengarangan-pengarangan lirik yang menyuarakan tentang apapun yang terjadi di tanah Papua itu juga harus turut berjuang melalui kita punya cara yaitu seniman, khususnya raper.

 

kata Epo, bicara tentang Hiphop dan bicara tentang ril , hal yang yang sebenarnya ril dan nyata  dalam skena hiphop, khususnya untuk anak-anak Papua adalah mengangkat  permasalahan hari ini yang sedang terjadi diatas tanah Papua, dan tidak meng-Amerika-kan Papua dalam Hiphop tetapi  mem-Papua-kan  Amerika lewat perjuangan nyata yang sedang terjadi dalam kita punya kehidupan.

 

“Jadi, lewat lagu  kita mendukung   kita punya kakak-kakak yang beraksi di jalanan, mereka kena panas, berjuang cape-cape, maka kita yang raper hibur  mereka dengan kita punya karya seni, mungkin lewat karya musik  kita  yang bisa bangkitkan energi, sehingga mereka bertahan di lapangan. Walaupun sedikit–sedikit, tetapi semua perjuangan itu baik.  Semua perjuang itu punya caranya masing-masing.”

 

Epo Minta Jangan ada Perpecahan

 

“Saat-saat ini seperti  terjadi perpecahan yang mengatakan saya anak gunung dan pantai. Ini adalah salah satu masalah yang sebenarnya tidak ada tetapi dibuatnya menjadi ada. Menurut saya, persoalan pokok yang seharusnya kita hilangkan, karena  dari gunung, lembah, sampai ke pantai itu yang membentuk kita yang ada ini  yang disebuat Papua. Dimana kita berjalan dengan nama Papua, jadi saya mau  serukan kepada teman-teman bahwa kita  tidak ada yang beda, tidak ada yang membedakan kita dari  sisi mana pun.  Satu berjuang  maka jalan sama-sama, bukan ada yang jalan di belakang atau jalan di depan dan samping tetapi kita semua berdiri sejajar atas  satu nama Papua, atas nama Papua yang kita cinta,” ujarnya mengakhiri.

 

Dari tempat yang sama Rap Papua,  Ukam mengatakan  kegiatan yang dilakukan relawan mama-mama Papua  sangatlah baik.  Kata Ukam dari sini,  kita bisa lihat bahwa yang meramaikan acara ini, bukan hanya anak-anak dari Papua tetapi ada juga teman-teman dari maluku, NTT  yang datang ikut acara  Rap Betle. “Dengan begitu, teman-teman sesama melanesia bisa membuka mata dan melihat sama-sama permasalahan yang terjadi di Tanah Papua,” jelasnya saat diwawancara media ini

 

Sebenarnya,  lanjut Ukam di Papau ada banyak permasalahan, tetapi salah satu contoh kasusnya itu, permasalahan  yang dialami oleh mama-mama Papua. “Lewat kegiatan-kegiatan seperti ini, sebenarnya kita bisa menganggkat banyak permasalahan yang ada diatas tanah Papua.”

 

Harapannya kedepan, anak-anak muda Papua lebih terus berjuang dengan  kreativitas mereka untuk isu-isu yang terjadi di Papua. Lebih khusus kita punya mama-mama Pasar Papua ini. “Kita lihat dari persoalan mama-mama dulu, karena mama-mama yang melahirkan anak-anak dan anak anak ini yang berdiri untuk mama-mama,” katanya.

 

Ukam bangga dengan hadirnya raper-raper yang  namun dirinya mengharapkan supaya melalui karya-karya tersebut mengangkat persoalan yang terjadi di Papua. “Saya  mau  ajak mereka, ingin mereka, harapan untuk mereka bahwa mereka tidak harus menyuarakan soal cinta saja. Boleh saja menyanyikan soal cinta tentapi kita menyampaikan cinta seperti Epo.  Epo menyanyi cinta, tetapi menyinggung sedikit tentang tanah.  Tidak harus selalu frontal. Tetapi kalau  saya, yah  prinsipnya bermain dengan gaya frontal.”

 

Kata Ukam, kita bisa lihat bahwa ada banyak cara yang  anak-anak Papua, anak-anak muda bisa pakai dengan kreativitasnya. “Apapun jalan yang mereka pilih harus perjuangkan persoalan Papua, bukan raper-raper  saja tapi dencer, seniman, melukis dan lain-lain pun harus menyampaikan pesan tentang persoalan Papua.”

 

Kemudian, pantauan media ini, kegiatan berjalan lancar. Pada kesempatan tersebut, Relawan Mama-mama Pasar Papua selain lomba Raf Batle, mereka jual mengadakan jual-jualan. Suasana tamba meriah ketika Epo dan Ukam mengisi acara di akhir kegiatan. Pada kesempatan tersebut, lomba rab betle dimenangkan oleh Geraldo Americo, disusul dengan juara kedua diraih oleh Aco dan juara tiga Artex. Kegiatan diakhiri dengan Jospan dan wisisi.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait