Papua Jadi DOM Terselubung?

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

6 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Papua Menjadi Target Militer (Foto: jubi.co.id)

 

KABARMAPEGAA.com – Dr. Veronika Kusumaryati dari Georgetown University, Amerika Serikat mempertanyakan status Papua saat ini terkait pengiriman pasukan yang dianggap berlebihan. Apakah ini DOM terselubung? Hal ini disampaikan Kusumaryati dalam acara Publikasi Laporan Kekerasan Aparat Keamanan Terhadap Masyarakat Sipil di Tanah Papua Tahun 2020 oleh SEPAHAM dan KontraS Papua, Rabu (31/3) melalui aplikasi zoom.


“Melihat kondisi terakhir Papua, dengan pengiriman pasukan keamanan yang cukup besar, apakah mungkin Papua menjadi Daerah Operasi Militer (DOM) terselubung?” tanya Kusumaryati.


Selain Kusumaryati yang hadir sebagai salah satu narasumber, hadir juga Yohanis Mambrasar, pengacara muda Papua yang juga penulis laporan tersebut; Emanuel Gobai, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua dan rangkaian kegiatan ini dipandu Michael Himan, juga pengacara muda Papua sebagai moderator. 


Materi yang dipaparkan Kusumaryati berjudul Orang Papua Dilarang Bicara: Laporan Kekerasan Aparat Kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia Terhadap Rakyat Papua Tahun 2020 oleh SEPAHAM dan KontraS Papua.

 

Kusumaryati membandingkan jumlah penduduk dan aparat keamanan diantar tiga wilayah yaitu Tanah Papua, Jawa Tengah dan Aceh.


Pertama, Tanah Papua. Statement TNI pada 16 Juni 2019 yaitu tentang pembangunan 31 Kodim baru di Maluku dan Tanah Papua, rekruitmen 12.000 Babinsa, sekarang 50.000 Babinsa. Jumlah polisi Papua  11.984, Papua Barat 4.300 yang mana ditargetkan 10.000 pada 2021-2022. Sementara Total penduduk Papua dan Papua Barat 4.338.918 pada 2019. Jadi, rasio aparat per penduduk 0.0145 atau 14.5 tentara per 1000 penduduk. Rasio aparat per penduduk saat ini 0.01527 atau 15 aparat per 1000 penduduk. DOM terselubung?


Kedua, Jawa Tengah pada 2019. Jumlah penduduk 34.550.000 dengan 38 kodim, 26.000 tentara dan 35.000 polisi. Jadi, rasio aparat per penduduk bisa menjadi 0.00176 atau dua 2 aparat per 1000 penduduk. 


Ketiga, Aceh pada 2002. Jumlah penduduk 4.166.040 dengan kurang lebih 40.000 tentara dan 14.000 polisi. Jumlah pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) 5.200. Jadi, rasio aparat per penduduk adalah 0.00129 atau 13 aparat per 1000 penduduk. 


“Saya melihat pemerintah lebih mengedepankan pengiriman pasukan dari pada pengiriman tenaga guru dan tenaga kesehatan,” kata Kusumaryati.


Padahal menurut Kusumaryati, Papua lebih butuh tenaga guru dan kesehatan. Ia juga menyoroti pelayanan publik di Papua.

 

Rasio dokter per penduduk di Tanah Papua yaitu satu dokter per 1.538 penduduk berdasarkan data BPS Papua Tahun 2020. Untuk kota Jayapura yaitu 195 dokter melayani 300.000 penduduk. Di Mamberamo Tengah, satu dokter melayani 45.000 penduduk.


Sementara itu, terkait latar belakang korban dalam laporan ini, Yohanis Mambrasar, penulis laporan ini mengatakan kebanyakan data yang dihimpun yaitu korban kekerasan aparat ini adalah orang Papua. Mungkin juga ada yang non Papua tetapi datanya tidak sampai ke pihaknya. 


“Laporan ini juga belum terpilah secara gender tapi kami mencatat beberapa kasus yang korbannya adalah perempuan,” ujar Mambrasar lagi. (*)

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait