Papua Siaga Darurat Karena Covid 19, Nasib Tapol Rasisme di Luar Papua?

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

4 Bulan yang lalu
INFORMASI

Tentang Penulis
Keterangan Foto: Ilustrasi Tapol Rasisme dalam Trali Beli.

Oleh : Hero Gobai

Media telah memberitakan penyebaran Virus Covid-19 sangat cepat. Hanya lewat sentuhan tangan bisa tertular. Kondisi ini membuat semua rakyat belahan dunia panik termasuk Indonesia.

Negara-Negara di dunia mengalami musibah kematian akibat virus covid 19 cukup tinggi. Seperti Italia, Iran China, termasuk Indonesia dan  beberapa Negara lainnya.

Pemerintah Pusat dalam hal ini Presiden Republik Indonesia  dan jajarannya telah berupaya untuk mencegah penyebaran virus covid 19 di wilayah kekuasaanya. Dana keuangan Pemerintah Pusat, bunyi Trilunan untuk kepentingan pembangunan digunakan untuk mencegah serta mengobati orang terkena positif virus covid 19 sekaligus menyediakan segala fasilitasi perlindungan diri dari bahayanya virus covid 19.

Melihat dinamika itu, Tiap daerah baik Provinsi dan Kabupaten/Kota di Indonesia mengambil kebijakan untuk mencegah penyebaran virus yang berbahaya, salah satunya Provinsi Papua.

Provinsi Papua melalui Hasil rapat bersama gubernur Papua, Forkopimda Papua, dan bupati/wali kota se Papua menetapkan bahwa Papua tidak menerapkan lockdown. Melainkan pembatasan sosial. Status Papua tetap siaga darurat, dengan memblok arus masuk orang dari luar Papua ke Papua untuk sementara waktu.

Hal itu disampaikan Gubernur Papua, Lukas Enembe, usai rapat bersama tersebut dilakukan di Gedung Negara pada  Selasa 24 Maret 2020 seperti yang dirilis oleh Kantor Berita Papua Cendrawasih Pos Online.

Gubernur Papua menyatakan, tidak ada istilah lockdown. Hanya pembatasan sosial. Namun, kita anggap perlu block Papua, sehingga Lapago, Meepago, dan Animha, ditutup karena rawan.

Sekalipun demikian, transportasi barang terus berjalan, di mana logistik bisa masuk. Tapi manusia tidak boleh masuk ke Papua.

Keputusan ini mulai berlaku Kamis (26/3) hingga 14 hari ke depan. Setelah 14 hari, baru nanti kita lihat perkembangan ke depan.

Sikap yang diambil oleh Pemerintah Papua adalah kebijakan yang baik. Selanjutnya menjadi pertanyaannya ialah bagaimana dengan nasib mahasiswa Papua dan rakyat Papua yang  hingga kini ditahan di  Rumah Tahanan Kalimantan Timur dan Jakarta Pusat.

Tahanan Politik Rasisme di kalimantan dan Jakarta berisiko kena virus covid 19. Melihat dengan kunjungan keluarga diluar yang terkena penyakit virus covid 19 di salah satu tahan dan akan berdampak buruk bagi tahanan lain.

Tahanan Papua yang adalah mahasiswa dan aktivis adalah aset dan milik orang Papua, sebagaimana perlu adanya perlindungan bagi tahanan Papua. Apabila terjadi sesuatu akibat virus covid 19 akan berdampak buruk bagi Tanah Papua.

Pemerintah Papua perlu  mengagendakan rapat membahas untuk pulangkan tahanan Rasisme di luar Papua yang sedang jalani proses tahanan. Mereka yang ditahan akibat peristiwa demonstrasi pada akhir Agustus 2019, dimana  peristiwa itu bermula dari Surabaya dengan menyebutkan "Monyet" bagi mahasiswa Papua dan rakyat Papua pada umumnya. 

Pemerintah Papua semestinya berpikir untuk pulangkan tahanan Papua. Hal ini penting dan antisipasi berdampak buruk bagi nyawa tahanan politik rasisme di kalimantan Timur dan Jakarta pusat.

Penulis Mahasiswa Papua Tinggal di Jayapura

#MRP

#Pemerintahan

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait