PAPUA : Sosialis & Sains Alam

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

25 Hari yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Admin Redaksi Kabar Mapegaa Online
Penelitihan tugas akhir skripsi di daerah Museum Trinil Nwagi (Foto: Ansel Gobai KM)

 

Oleh,  Demi Nawipa

1. Pendahuluan,

Tahun 1950-an disebut Papua atau West Papua adalah sebagian pulau Papua New Guinea bagian barat yang dikelilingi oleh beberapa pulau kecil. Luasan pulaunya sering orang sebut 3 kali pulau Jawa bahkan disebut sebagai sebuah pulau terbesar kedua di dunia setelah greenland (pulau dekat wilayah kutub Utara). Papua juga sejak tahun 1900-an sampai 1960-an telah melakukan ekpedisi-ekspedisi oleh orang Eropa yang mempunyai misi dan tujuan yang berbeda-beda. Mereka ini adalah para ilmuan dari berbagai latar belakang ilmu pengetahuan yang berbeda pula, ada yang ilmuan Giogeografi, Antropolog, Budayawan, Arkeolog, Teolog, Geolog, Sastrawan/ti, Biologiwan, dan Nature scientist lainnya, sehingga mereka telah bersukaria dengan keajaiban flora, fauna dan budaya manusia serta keanehan lain yang dilihatnya.

 

Bukti adanya ekspeditor yang pernah ekpedisi-ekspedisi di seluruh Papua adalah seperti Cartenz, J.J.Dozy, Dr.Weyland, dan masih banyak lagi, sehingga beberapa nama pegunungan bahkan geomorfologi alam serta sesar yang ada di Papua diberikan nama sesuai nama diri para ekspeditor, seperti: Pegunungan Cartenz, sesar sungkup weyland, dll.

 

Namun, saat ini bagi kita generasi mudah Papua telah tidak terlalu nampak dalam pendidikan bidang ilmu pengetahuan alam (Natura science), pada hal Papua mempunyai multi flora dan fauna serta batuan yang perlu dipelajari secara alami oleh orang asli Papua sendiri, bahkan Papua disebut sebagai sebuah pulau yang mempunyai sumber perpustakaan alami terbesar dunia.

 

Tetapi, saat ini banyak se-generasi dengan saya, lebih fokus dan tertarik pada pembelajaran ilmu pengetahuan sosial. Oleh karena itu, saya mempunyai beberapa pertanyaan sebelum saya mengulas dalam tulisan yang berpatokan pada judul itu, bahwa:

 1) Apakah Papua tidak mungkin akan menjadi lahan kapitalis sampai selamanya ?

 2) Apakah Papua itu berada di planet lain bukan di bumi ini ?

 3) Apakah untuk mempelajari alam Papua itu penting ?

 4) Apakah sosialisme eropa itu akan menguntungkan orang asli Papua ?

 5) Apakah bagi Papua tak perlu ada saintist yang mempelajari ilmu pengetahuan alam Papua ?

 6) Apa yang generasi muda Papua pelajari saat ini demi menyelamatkan tanah besar Papua ?

 7) Apakah sosialisme Papua dan sains alam Papua perlu dikembangkan ? atau Papua tidak perlu kembangkan   kedua pandangan pengetahuan ini demi masa depan Papua ?

 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kita perlu pikirkan lalu mulai belajar lagi, walau tantangan dunia lain sangat besar untuk mengancam di daerah yang dianggap terbelakang (terisolir).

 

Maka itu, saatnya generasi muda Papua bangkit dan melawan dengan cara belajar benar tentang ilmu pengetahuan alam maupun ilmu pengetahuan sosial demi masa depan papua dan perlu dilakukan aplikasinya secara kontekstual biar kekuatan warisan budayanya tidak boleh punah dan lupa.

 

2. Sosialis Papua

Papua yang mempunyai beragam suku dan bahasa lokal ini mempunyai kehidupan sosial serta style hidup dan karakter yang berbeda pula, walaupun mereka sama-sama disebut sebagai se-etnik (serumpun) Melanesia. Mereka juga sudah sadar bahwa walau keanekaragamannya banyak yang berbeda, tetapi melalui hasil penelitian dari orang Belanda, mereka ini dipersatukan dalam 7 wilayah adat, yaitu lapago, an-animha, domberai, bomberai, saireri, meepago dan wilayah tabi. Mereka telah membagi Papua menjadi 7 wilayah adat oleh karena ada hubungan kekerabatan sejarah, budaya bahasa, hubungan ekonomi, serta geografisnya.

 

Dalam kehidupan sosial Papua juga, telah hidup bersama flora dan fauna Papua yang sangat endemik itu dalam waktu yang cukup lama, mulai sejak manusia purba pertama muncul (bermigrasi dan tiba) yaitu pada zaman es. Mulai saat itulah orang asli Papua mempunyai manusia yang berbudaya dan mampu mengatur hidup sosialnya sendiri, sesuai dengan gaya dan cara hidup mereka dari generasi ke generasi sampai saat ini.

 

3. Sains Alam Papua

Kalau kita bicara alam Papua itu sangat unik, oleh karena ia mempunyai flora, fauna yang beranekaragam, pulaunya yang bersambungan dengan kraton Australia, dan pulau yang selalu diombang-ambing oleh tiga makro lempeng tektonik terbesar di planet bumi ini, sehingga terbentuk jajaran pegunungan tinggi dari timur ke barat dan utara ke selatan, dan proses pembentukan telah lalui jutaan tahun dalam waktu geologi dan gejala pergerakannya sedang berlanjut sampai saat ini.

 

Saya tertarik pula dengan simbol atau logo-logo yang digunakan oleh berbagai organisasi pemerintah, LSM, perguruan tinggi, bahkan logo ideologi perjuangan Papua merdeka, itu semua digambarkan pada flora dan fauna endemik yang ada di Papua lalu dikombinasikan dengan simbol budaya orang asli Papua, jadi seharusnya orang asli Papua generasi muda itu, perlu lagi belajar tentang ilmu pengetahuan tentang sains alam pulau Papua.

***

Maka dengan ulasan di atas, Papua sangat membutuhkan orang asli Papua yang berjiwa bapak sosialis Papua dan juga orang asli Papua membutuhkan bapak saintis Papua yang alami untuk mengatasi dan mempelajari lebih dalam tentang seleksi alam Papua. Oleh sebab itu, kita (segenerasi muda) yang lagi belajar pada era modern yang kemajuannya tak akan pernah berhenti dan dihentikan ini, mulai dari sekarang belajar serius lagi tentang ilmu pengetahuan alam secara universal dan lebih lagi mempelajari tentang ilmu pengetahuan alam Papua.

 

Demikian juga para teman-teman yang berpaham sosialis perlu pelajari baik tentang perkembangan sosial kehidupan orang asli Papua, meskipun didalami ilmu sosialisme Eropa, bahkan dalam proses belajar itu jangan ada yang saling mempengaruhi bahwa kamu harus belajar ini dan kamu harus belajar itu tanpa tahu kelebihan orangnya yang lagi mempelajari ilmu pengetahuan lain.

 

Dengan demikian, bersyukurlah orang asli Papua yang lagi pelajari dan sudah pelajari tentang ilmu pengetahuan alam Papua, bahkan mereka yang belajar tentang sosialis kontekstual Papua. Akhir kata, saya mohon maaf para pembaca bila dalam tulisan ini ada kalimat-kalimat yang menginggung hati dan pikiran saudara/i seperjuangan. Silakan membaca semoga bermanfaat.

 

Penulis adalah mahasiswa papua, sedang menenpuh ilmu geologi di Jawa.

Baca Juga, Artikel Terkait