Papuan Voices Timika Gelar Diskusi dan Pemutaran Flim Kasmira dan Ironic Survival

Cinque Terre
Yunus Gobai

14 Hari yang lalu
SOSIAL DAN BUDAYA

Tentang Penulis
Contributor
Suasana diskusi dan pemutaran film bertema“Mama Papua Ekonomi Pesisir dan Mama Kasmira punya Cerita"di Jln Heatubun C Timika. Senin, 27 Juli 2020.

 

TIMIKA,KABARMAPEGAA.com- Senin, (27/7/2020) bertempat Sekretaritat perkumpulan Papuan Voices di Jalan C Heatubun Timika, Papua. Kurang lebih 17 pemuda dan masyarakat telah melaksanakan pemutaran flim yang karya dari Papuan Voices. sebuah film yang berisi video advokasi mengenai Papua dan kehidupan sosial masyarakatnya.

Perkumpulan Papuan Voices wilayah Timika  menamakan seri diskusi perempuan-II. Kegiatan kedua ini, memutar dua film pendek, dalam setiap film berdurasi sekitar 7 hingga 10 menit. Kedua-2 video advokasi ini terdiri dari flim Kasmira dan Ironic Survival.

Kedua film tersebut memiliki makna yang berbeda. Seperti Kasmira, seorang Mama dari Yetti, Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua, di bawah terik matahari, membersihkan gulma di antara pohon sawit yang baru tumbuh. Sebelumnya dia dan warga kampung lainnya berkebun dan meramu. Namun, kini mereka beralih menjadi buruh perusahaan kelapa sawit milik PT Tandan Sawita Papua. Perusahaan ini beroperasi sejak 2008 di Yetti dan menguasai lahan seluas 18.337 hektare.

Lain halnya dengan film Ironic Survival yang menceritakan habisnya lahan tanaman Sagu yang menjadi makanan pokok masyarakat pesisir Papua akibat dari penebangan yang dilakukan oleh perusahaan asing milik Amerika yaitu Merauke Integrated Food and Energy State (MIFEE) dimana perusahaan ini membabat habis semua lahan yang telah ditanami pohon sagu oleh masyarakat setempat kemudian akan ditanami dengan tanaman industri.

Hal ini berdampak terhadap berkurangnya makanan pokok masyarakatnya dan juga merusak ekosistem yang ada ditempat tersebut. Sehingga dengan hal ini rentan dengan adanya masyarakat akan kekurangan gizi terutama bagi masyarakat yang kurang mampu yang telah bergantung dengan tanaman sagunya.

"Kami terus aktif membangun kesadaran bagi pemuda dan masyrakat melalui diskusi dan berbagai kegiatan yang bersifat membangun jiwa dan karakter manusia yang terus belajar sebagai bentuk advokasi dari aspek politik, pendidikan,ekonomi, sosial-budaya, dan aspek-aspek lainnya,"hal itu disampaikan oleh Helena Kobogau, Ketua Kordiantor perkumpulan Papuan Voices Wilayah Timika

Kobogau, juga menyatakan bahwa kisah nyata dari flim Kasmira dan Ironic Survival memberikan semangat jiwa nasionalisme kepada setiap pemuda dan masyarakat adat Papua perlu membuka mata untuk melihat realita Papua dan itu sebagai bentuk perlawanan yang tak bisa dibiarkan untuk terus berjuang.

“Untuk itu saya harap dengan pemutaran film Kasmira dan Ironic Survival ini pemuda dan masyarakat adat papua dapat mengetahui kondisi terkini Papua saat ini,”tuturnya.

Damaris salah satu peserta mengapresiasi pemutaran film dan diskusi dengan mengangkat masalah perempuan dan investasi. Menurutnya, masalah perempuan yang dibicarakan selama ini masih terbatas pada isu kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Menyuarakan hak perempuan terkait investasi ini memang akan mendapat tantangan terutama dari tokoh-tokoh adat. Namun upaya ini harus terus disebar.

“Gerakan perempuan bukan melawan laki-laki,tapi membangun kesetaraan dan hak yang sama supaya kehidupan menjadi lebih baik,”kata Damaris.

Menurutnya gerakan apa pun di Papua,tidak hanya menjadi gerakan laki-laki,tapi juga gerakan perempuan.

“Bagaimana cara mendorong agar ada perempuan yang bicara dan ambil kendali gerakan entah untuk bicara hak perempuan maupun hak yang lain,”ujarnya

Berbagai pihak pun diajak untuk menyebarkan informasi tentang perampasan lahan ini, dan melakukan penguatan kapasitas perempuan,"tegasnya

Eda Mirip mengatakan kegiatan pemutaran flim dan diskusi ini menjadi kekuatan kita untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dalam bentuk perjuangan nyata, bukan hanya teoritis yang dipelajarinya.

Ia menambahkan, pemutaran film dan diskusi tersebut bertujuan memberikan pembelajaran terkini kepada masyarakat adat Papua, bagimana meliahat persoalan-persoalan yang terjadi di tanah Papua baik dari sektor Ekonomi,pendidikan kesehatan dan sebagainya.

Pemutaran film dan diskusi ini merupakan salah satu kegiata guna membukan intelektual dan menyadarkan akan nilai moral kemanusiaan yang sejati dalam menangani setiap persoalan yang terjadi, terutama di tanah Papua. Akhirnya, pemutaran film tersebut berjalan tertib, aman dan kondusif hingga pukul 18.00 waktu Papua (*)

 

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait