Pastor Amandus: Melakukan Sebanyak Hal Baik dan Mengurangai Sebanyak Hal Jahat

Cinque Terre
Ancelmus Gobai

1 Tahun yang lalu
ROHANI

Tentang Penulis
"Melayani dengan hati"
Gedung gereja Katedral, Ke uskupan Timika Papua (sumber: gktr.com)

 

 

ROHANI, KABARMAPEGAA.C0M--“Fare In Pene” Melakukan Sebanyak mungkin hal hal baik dan “Epipara In Male” Mengurangai Sebanyak Mungkin Perbuatan Perbuatan  Jahat.” Hal ini di sampaikan dalam renungan pastor paroki gereja Katedral ke uskupan Timika Papua, Amandus rahadat, Pr dalam misa prapaskah rabu abu. Rabu, (26/02/2020).

 

Hari ini  kita awali 40 hari kedepan dengan berpantang dan berpuasai. Omong omong seputar puasa banyak kali orang dengan nada adopsi. Mereka berkata, orang katolik juga berpuasa kah? Kenapa orang bertanya itu, karena memang kelihatan dan  terasa bahwa puasa orang katolik itu hampir “tidak kelihatan, tidak kentara juga tidak bunyi.”

 

Katanya, puasanya orang katolik itu puasa main main, terlalu ringan. Aturan aturan yang di tegaskan  selamat 40 hari katanya tidak terlalu ribet dalam masa puasanya. Masa hanya dua hari orang pantang dan puasa yaitu hari rabu abu hari ini dan hari Jumat agung dua hari itu, sementara pantang  untuk tahun ini bulan maret ada 5 minggu. Jadi, 5 hari pantang. Lalu, 36 hari lain gimana? Orang biking apa? Saudara  letak persoalannya ada dimana?  Ini dia, ukuran berat dan ringan. Sering orang bandingkan puasa itu dengan saudara saudara kita  orang Islam. 40  hari full berpuasa. Mereka akan makan  pada saat malam hari. Siang hari full puasa. Berciumpun tidak, lihatpun tidak, Coba sampai segitunya, itu aturan mereka, aturan kita lain.

 

Kita kembali kepada pertanyaan tadi, mengapa kesan bawa orang katolik itu puasanya sangat ringan aturan bahkan “tidak nampak,   tidak kelihatan, tidak terasa.” Saya akan memberikan dua jawabannya :

 

Pertama, puasa bagi orang katolik tidak makan dan minum itu bukan tujuan itu saranan. Sementara tujuan puasa orang katolik adalah orang mengusahakan supaya menjadi pengikuti Yesus yang baik. Ini tujuannya. Dengan prinsip moral puasa katolik dalam bahasa Italia disebut: “Fare In Pene” Melakukan Sebanyak mungkin hal hal baik dan “Epipara In Male” mengurangai sebanyak mungkin perbuatan perbuatan  tidak baik.”

 

Melakukan sebanyak mungkin perbuatan baik dan mengurangai perbuatan hal hal jahat, ko akan menjadi orang baik. Dan selama masa puasa kita mengajar itu, bukan soal makan dan minum itu sarana, tetapi bagaimana saya mau menjadi orang baik, ini yang menjadi tujuannya. Jangan di balik, focus pada soal makan dan minum dan lupa tujuan utama. Itu jawaban yang pertama.

 

Kedua, untuk soal anak ke sekolah, dirumah, tidak boleh untuk memperketat aturan, harus di tuntun, harus di damping, maka jangan ini boleh ini tidak boleh itu anak kecil.

 

Kita masuk pada konteks puasa, orang katolik bukan anak kecil, yang harus dijelaskan sedetail mungkin. makan harus model begini, tidak boleh begitu. Tidak perlu. Ko bukan anak kecil. Orang katolik itu orang dewasa, maka cukup gereja memberikan haluan haluan dan pedoman, ini inti masalahnya.

 

Puasa dan pantang dua hari, hari ini hari rabu, kita puasa dan Jumat agung dan hari minggu cukup. Tetapi kalau ada orang yang mampu melaksanakan aksi  puasa dan pantang lebih silahkan, gereja tidak larang, tetapi juga tidak menyuruh. Kalau anda tidak makan pada siang hari selama 40 hari seperti saudara saudara kita muslin silahkan, engkau mampu.

 

Untuk mau gereja terbentang kepada anak anak adalah : Selama masa puasa ada tiga hal yang perlu di lakukan:

 

  1. Perbanyak tindakan “mati raga” lewat pantang dan puasa.
  2. Kedua memperbanyak kegiatan “kegiatan doa.” Memperbanyak komunikasi intensif dengan Allah, dan
  3. ketiga “amal bakti”.

 

Tiga hal ini dibangun diatas prinsip moral katolik dalam “pare intere, epipara in made”. meningkatkan tindakan tindakan baik dan sebaliknya mengurangi hal hal yang jahat.

 

Coba kita memperdalamkan sedikit. Pertama, “mati raga”konkritnya bagaimana? Biasanya ada yang  beli minum mabuk, alkol kita beli harga 100, selama masa puasa ini gereja bilang cobalah beli satu botol seharga 50, yang 50 nya masuk dalam Aksi Puasa Pembangunan (APP).

 

Selama masa puasa dan pantang, saya minta jangan pesta pesta. Ini gereja bilang selama masa adven tidak ada perjanjian tidak ada pernikaan. Selama masa prapaskah ini tidak ada pernikaan tidak ada permandian karena apa, karna ada beberapa suku pada saat mengikuti kegiatan pernikaan atau permandian, mereka buat pesta besar besaran. Berbicara pesta besar besaran berarti focus pada makan minum, itu juga ada sebabnya.

 

Kedua, “Memperbanyak Aktifitas Doa” Konkritnya bagaimana.? Setiap pagi harus berdoa. Setiap pagi loncong berbunyi di gereja kateral, datang mengikuti untuk berdoa.

 

Berusaha mau ke gereja di palang orang mabuk. Satu kali di palang berikutnya tidak ke gereja. Dalam puasa ini, gereja beritahu kita “memperbanyak aktifitas doa.” Dan saya minta misa harian kalau bisa datang mengikuti. Terima komuni setiap hari, Anda dekat dengan Tuhan, saya percaya hidup Anda lebih baik kedepan.

 Didalam masa puasa ini kita “memperbanyak doa.” Di gereja ini ada kelompok, Kerahami Ilahi, ada  Geo Maria, yang tetap dan tekun membangun dengan ujud doa, terima kasih. Saya harap di masa prapaskah ini tingkat lagi.

 

Ketiga, “memperbanyak amal bakti.” Kita katolik kata “amal bakti” yang sangat nampak adalah: Pergi kunjungi  pantai asuhan, pergi kunjungi asrama asrama, pergi kunjungi orang sakit dirumah dan dirumah sakit, silahkan! tetapi kita punya sebuah kegiatan yang pokok adalah “Aksi Puasa Pembangunan” (APP) untuk membantu orang orang yang sangat membutuhkan.  

 

Ampol APP silahkan ambil didepan gereja, bawa ke rumah, dari rumah bawa ke gereja tanpa di isi uang. Dari gereja cari uang di saku, pilih pilih mau isi dua puluh atau lima puluh, itu bukan (APP), tetapi itu namanya mengumpulkan dana. Sebenarnya Kalau APP, uang jajang 20 ribu, Anda bagikan menjadi dua. 10 ribu untuk beli jajan dan 10 ribuh untuk di isikan didalam Aksi Puasa Pembangunan (APP), itu baru tepat aksi nyata, silahkan laksanakan didalam kehidupan selama masa puasa dan pantang.

 

Ibu ibu sudah tahu, setiap hari belanja. Suami kasih uang Rp 100. Na, di hari puasa, ibu ibu beli hanya Rp 50 saja, Rp 50-nya masuk dalam amplop APP. Na ini baru aksi puasa yang tepat dan benar.

Ini beberapa contoh yang pastor Amandus ingin sampaikan untuk pusat perhatian kita dalam proses puasa dan pantang ini.

 

Catatan dari Tuhan Yesus:

 

Terakhir saya ingin mengingatkan catatan dari Tuhan Yesus,  kata Tuhan Yesus dalam berpuasa jangan ko sombong, sengaja memperlihatkan kepada orang lain bahwa saya sedang “mati raga”  saya ini mengurangi makan dan minum, saya ini sudah pergi ke gereja, saya lagi isi APP jangan, jangan sombong, biasa saja.

 

Kata Tuhan Yesus “Janganlah kamu melakukan kewajiban agamamu  di hadapan orang, supaya di dilihat orang” Ini kata Tuhan. bukan kata pastor Amandus. “Apabila engkau berpuasa, janganlah engkau muka muram.”

 

Orang katolik tidak perlu sikap sombong. Tidak perlu di umumkan di radio, tv  bahwa saya sedang puasa dan pantang. Biasakan diri menjadi manusia rendaha hati dan siap menjalan komunikasi dengan dua Pribadi yakni Tuhan dan pribadi, bukan pribadi dengan sesama.

 

 Maka semoga dengan renungan ini mendapatkan makna yang sesungguhnya untuk berpantang dan puasa. Saya ucapkankan selamat berpuasa kepada, Umat katolik Katedral Tiga Raja Timika, dan selamat berpuasa, Tuhan memberkati.

 

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait