Pecat dan Adili Pelaku Penembakan Dua Warga Sipil di Timika

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Foto:Korban Penembakan di Timika/Ist

 

 TIMIKA, KABARMAPEGAA.com-- Aktivis HAM, Adolfina Kuum mengatalan pelaku penembakan terhadap dua warga sipil di Mille 34, Kabupaten Mimika, Eden Armando Bebari (20) dan Rony Wandik (23), Selasa (14/4/2020) Siang, segera dipecat dan diadili  sesuai proses hukum.

 

 “Polda- Pangdam Papua harus segera sikapi dan menjawab apa yang menjadi tuntutan keluarga korban dan beberapa tokoh seperti bapak Yanes Narkime di depan rumah sakit RSUD Timika,"ujarnya Adolfina Kuum, meneruskan tuntutan keluarga korban di Kwamki Lama usai bertatap muka di tempat duka dan selanjutnya dikatakan kepada kabarmapegaa.com, Kamis, (16/4/2020).

 

Kata Doli, pihak keluarga berhak mendapatkan keadilan atas tindakan pelanggaran Hak Asasi Manusia ini.  “Tindakan pembunuhan Ini adalah bentuk pelanggaran HAM berat, dan sangat kecewa dan menyesal dengan adanya peristiwa ini.”

 

Sehingga dirinya meminta kepada Kapolda Papua dan Pangdam XVII Cenderawasih, “Tolong..Tolong dan tolong untuk dibedakan, mana itu masyarakat biasa dan mana itu TPNPB OPM. Saya selaku Aktivis HAM sangat menyesal karena generasi muda kita ini sudah habis.”

 

Selain itu, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) diminta segera menurunkan tim investigasi terhadap kasus penembakan dua warga sipil di Mil 34 Timika Papua.

 

“Polda Papua- Pangdam harus bertanggungjawab terhadap kasus itu. Oknum TNI/polisi yang terlibat harus dipecat di depan rakyat, dan diborgol lalu diseret ke penjara,” ujarnya lagi.

 

Senada diungkapkan Tokoh Amungme Yanes Natikime,  juga meminta Polda-Pagdam Papua segera melakukan penyelidikan terhadap fakta riil dari kasus penembakan dua warga sipil di Timika

 

“Kapolda -Pangdam Papua harus segera memproses hukum dan menindak tegas oknum penembakan ke Kapolsek Timika,” tegas Yanes.

 

Kata dia, perlunya penyelidikan kasus penembakan terhadap Eden Armando Bebari (20) dan Rony Wandik (23) menurut dia, untuk membuktikan apakah para pelaku penembakan sudah menerapkan prosedur tetap Kepolisian Republik Indonesia.

 

“Aparat Polsek Timika sudah menyalahi aturan karena bukannya melayani masyarakat Timika, polisi justru melakukan penembakan dan menciptakan trauma mendalam,” tutur Yanes.

 

Dugaan pelanggaran HAM oleh aparat kepolisian dari Polsek Timika, lanjut Yanes, langsung mengedepankan senjata api sebagai alat negara, tidak didahului pendekatan persuasif sesuai motto TNI- Polri.

 

Penggunaan alat negara yang berlebihan dengan sasaran korban warga sipil, patut disesalkan karena kasus serupa selalu terjadi berulang kali di Tanah Papua khususnya di Timika.

 

Sementara itu, Alex Tsenawatne, Ketua I DPRD Kabupaten Mimika eminta kepada pihak keamanan agar mengedepankan pendekatan pesuasif  jika ada masalah di tengah masyarakat.

 

“Aparat keamanan harus mengedepankan pendekatan persuasif kalau ada masalah di tengah masyarakat, tidak boleh langsung ambil senjata dan tembak orang,” ujar Alex Tsenawatne.

 

Jika Senjata Api tidak  dijadikan penyelesain masalah, Kata Alex,  yakin kasus penembakan yang mengakibatkan dua orang tewas tertembak dan seorang lainnya terluka di Mill 34 Timika, tidak akan terjadi.

 

“Tetapi karena sudah terjadi yang meninggalkan kesedihan dan trauma bagi keluarga korban termasuk masyarakat Timika Papua,” jelasnya.

 

Alex berharap kasusnya segera diungkap karena cara TNI/Polisi tidak profesional dalam menangani persoalan di Timika Papua.

 

“Masyarakat Timika Papua sampai hari ini masih sangat trauma dengan aparat keamanan akibat rangkaian kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia di masa lampau. Jadi, sebaiknya stop gunakan senjata dalam menghadapi apapun persoalan di tengah masyarakat Timika Papua,” ujar Alex.

 

Sementara itu, Tokoh mayarakat Mimika yang juga Anggota DPRD Mimika, Elminus B Mom, menegaskan kepada pimpinan TNI Polri agar jangan lagi asal melakukan aksi dan membuat laporan kepada pimpinan yang mengatasnamakan warga masyarakat sipil sebagai TPN OPM seperti yang hari ini dialami dua anak muda Mimika asal Kampung Kwamki Narama di Kabupaten Mimika.

 

“Lokasi perang kalian dengan TPNPB OPM itu sudah jelas, jadi jangan lagi operasi di tengah masyarakat dalam Kota Timika ini, lalu bikin laporan ke pimpinan bahwa ini TPNPB OPM,” tegas Elminus B Mom kepada wartawan (14/4).

 

Mantan Ketua DPRD Mimika periode 2014-2019 ini menyampaikan, Hal ini disampaikannya terkait kejadian penembakan dan penyiksaan yang dialami dua anak muda asal Kampung Kwamki Narama, Eden Armando Bebari (20) dan Rony Wandik (23) yang ditemukan sudah tak bernyawa di pinggir sungai Ajkwa disamping Kampung Kwamki Narama. Tepatnya di Mike Pos 34, Selasa (14/04) pagi, dengan tanda fisik tembakan pada tubuh masing-masing korban.

 

Kemudian, AKBP I Gusti Gde Era Adhinata Kapolres Mimika, Papua menghubungi media ini mengatakan, pihaknya sedang penyelidikan. “Kami sedang dalam penyelidikan, jadi tunggu tahapan selanjutnya,” ujarnya.

 

Dalam penyelesaian masalah ini, Pihaknya juga minta bantuan dan kerja sama dari  berbagai pihak selama proses penyelidikan tersebut.

 

Pewarta: 09/PO/KM

Editor : Manfred Kudiai/KM

 

 

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait