Pelaku Otsus, Senjata Api Punya Mahasiswa atau TNI/Polri!

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

27 Hari yang lalu
INFORMASI

Tentang Penulis
Salah satu Mahasisa Terkena Tembakan Senjata Api Oleh Aparat Polisi.

 

Oleh : Alexander Gobai

 

Naftali Tipagau dan Tinus Heluka korban yang tembakan sejata api oleh Aparat TNI/Polri pada aksi Demo tolak Otsus Jilid II, Selasa (27 Oktober 2020) di Uncen Jayapura Papua.

 

*****

 

Penyampaian Aspirasi dimuka Umum adalah hak seseorang dan dapat diatur di dalam UU No Tahun 1999 dan UUD Pasal 28E. Tetapi juga dapat diatur juga di dalam UU No 12 Tahun 2012 tentang Perguruan Tinggi. Atas dasar itu, setiap orang memiliki peran  dan tanggungjawab dalam memberikan pendapat dimuka umum.

 

Berkaitan dengan UU dan Mahasiswa. Mahasiswa memiliki peran serta tanggungjawab moril terhadap perubahan sosial, perubahan lingkungan, Ekonomi, Pendidikan bahkan Politik di atas tanah Papua. Peran mahasiswa sebagai tulang punggung masyarakat yang seharusnya mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan aspirasi dimuka umum agar pemangku kepentingan dapat melihat penderitaan rakyat Papua.

 

Mahasiswa memiliki  Pena dan buka yang merupakan dasar dalam menggemukan pendapat dimuka umum. Memberikan pemahaman melalui kritikan, saran, aspirasi, gagasan dan ide kepada pemerintah, masyarakat dan Negara. Bukan memberikan ide dan gagasan melalui senjata api.

 

Adakah Mahasiswa memang senjata api dan terbukti telah menembak salah satu TNI/Polri dimuka umum apalagi kejar-kejaran. Jika ada, perlu dibuktikan dimuka umum.  Padahl yang terjadi  dan menjadi contoh bukti nyata ialah, yang memilliki Senjata adalah TNI/Polri. Yang kadang digunakan untuk memburuh mahasiswa di dalam kampus maupun di dluar kampus demi menggolkan kepentingan pangkat orang lain dan pangkatnya sendiri.

 

Mahasiswa diajarkan menjadi kaum intelektual yang berpikir kritis dan loyal terhadap persoalan di tanah Papua. Persoalan yang terjadi merupakan bukti Negara memberikan gransi kepada pemerintah papua dalam berbagai pilihan. Jika tidak dilajalankan kemauan Negara, “Siap dipegang, ditangkap, dipenjarahakan dan dibunuh. Atau memilih selamatkan diri priadi demi tanah papua dan mengorbankan Rakyat Papua.  Hal itu yang selalu terjadi diatas tanah papua. Atas dasar itu, sehingga Mahasiswa hadir membela kepentingan rakyat Papua.

 

Pena dan Buku

 

Mahasiswa diibaratkan pena dan buku. Ketika, Pejabat Papua dikambing hitamkan karena menggolkan kepentingan Jakarta, disitulah mahasiswa hadiri membela kepentingan rakyat agar pejabat Papua tidak dikambing hitamkan. Perlu diketahui, 50 Persen pejabat papua diselelamakatkan karena kehadiran mahasiswa. Mahasiswa memilii komitmen demi mempertahankan harkat dan martabat  orang papun dan membela mati-matian demi kepentingan rakyat Papua dan pejabat Papua tidak dipakai oleh Jakarta dengan seenak-enaknya. Oleh sebab itu, hargailah Mahasiswa yang hari-hari melakukan demo demi kepentingan orang Papua.

 

Mahasiswa itu pena dan buku, hari-hari membaca dan menulis setiap peristiwa dalam perubahan hidup ini. Sehingga, amanah membaca dan menulis membentuk mahasiswa untuk berbicara di depan umum demi menyelamatkan kepentingan rakyat Papua.

 

Dengan demikian, pada dasarnya, mahasiswa akan tetap kritis dan akan terus menyampaikan pendapat dimuka umum. Sebab, aspirasi adalah momok pena dan buku yang bisa memberikan dampat kepada pemerintah Papua dan Negara. Mahasiswa tidak memiliki senjata Api, hanya TNI yang memilii senjata Api.

 

Penulis Eks Tapol Korban Rasisme Tinggal di Paniai-Papua.

 

 

#Budaya

#Pemerintahan

#Mahasiswa dan Pemuda

#Lingkungan dan Hutan

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

#Papua Bisa

#Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait