Pembunuhan Jurnalis Udin, Negara Berdamai dengan Kekerasan

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

18 Hari yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Fuad Muhammad Syafruddin atau yang dikenal dengan Udin, seorang wartawan surat kabar Bernas Yogyakarta. Ist

 

NABIRE, KABARMAPEGAA.com—Peringati 22 tahun tragedi yang menimpah  Fuad Muhammad Syafruddin atau yang dikenal dengan Udin, seorang wartawan surat kabar Bernas Yogyakarta, maka Aliansi Jurnais Independen (AJI) Yogyakarta nyatakan sikap.

 

Dalam pers liris yang diterima Kabar Mapegaa, Sabtu, (16/5)  AJI menjelaskan keganasan rezim Orde Baru terhadap masyarat Sipil serta kasus-kasus kekerasan yang kerap dilanda saat  jurnalis meliput peristiwa demonstrasi dan  aksi lainnya.

 

“Mei yang kelam, tragedi 22 tahun mengingatkan keganasan rezim Orde Baru terhadap masyarakat sipil. Otoritarianisme Presiden Soeharto terwujud melalui pembungkaman pers. Pada pemerintahan Presiden Joko Widodo, kekerasan terhadap jurnalis juga terjadi” jelas AJI Yogyakarta.

 

Dijelaskan AJI, Di masa Orde Baru, 24 tahun lalu, Jurnalis Harian Bernas Yogyakarta, Fuad Muhammad Syafruddin dibunuh karena menulis berita tentang korupsi, di antaranya mega proyek Parangtritis dan suap 1 miliar rupiah Bupati Sri Roso Sudarmo terhadap Yayasan Dharmais untuk pemilihan Bupati Bantul periode 1996-2001.

 

“Era Orde Baru represif dan menindas. Tahun 1994 terjadi pemberangusan tiga majalah, Detik, Editor dan khususnya Tempo. Kini, 22 tahun reformasi situasi tidak banyak berubah karena jurnalis terus diserang,” bebernya.

 

Aliansi Jurnalis Independen mencatat kasus kekerasan terhadap jurnalis yang masih tinggi, mulai dari perampasan alat hingga pemidanaan. Dalam periode satu tahun ini, setidaknya ada 53 kasus kekerasan.

 

“Jumlah ini lebih banyak dibandingkan kasus kekerasan pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 42 kasus. Jenis kekerasan terbanyak kekerasan fisik (18 kasus), perusakan alat atau data hasil liputan (14), ancaman kekerasan atau teror (8),” paparnya. 

 

Dari sisi pelaku kekerasan, ironisnya justru polisi  yang menjadi pelaku terbanyak, 32 kasus.  Kasus-kasus kekerasan itu banyak terjadi saat jurnalis meliput peristiwa demonstrasi aksi Mei 2019 yang menolak hasil rekapitulasi KPU yang mengunggulkan pasangan Joko Widodo-Ma'ruf Amin, dan demonstrasi mahasiswa dan masyarakat sipil September 2019 lalu.

AJI juga mendata serangan terhadap perempuan, pemidanaan jurnalis, penahanan jurnalis asing, dan pelambatan serta pemblokiran internet. 

 

Belakangan terjadi ancaman terhadap jurnalis perempuan dialami jurnalis perempuan RMOL Lampung Tuti Nurkhomariyah oleh Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, 2 Maret 2020 lalu.

 

“Kasus pemidanaan dialami oleh pemimpin redaksi Banjarhits.id, Diananta Putra Sumedi. Dia diadukan karena pemuatan berita yang diduga mengandung SARA (suku, agama, ras dan antargolongan).”

 

Dewan Pers memberikan rekomendasi agar Banjarhits.id memuat hak jawab dari pengadu. Meski ada putusan Dewan Pers, kasus ini terus diproses oleh polisi. Diananta ditahan Polda Kalimantan Selatan.

 

Kejahatan terhadap jurnalis adalah serangan terbesar bagi kebebasan pers dan akses informasi. Jurnalis punya peran sebagai pengawas kekuasaan, mengungkap kejahatan, dan ketidakadilan.

 

Tanggal 3 Mei lalu, setiap jurnalis memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia. Peringatan itu bagian dari inisiatif untuk membela jurnalis di seluruh dunia, khususnya mereka yang menghadapi penindasan.

 

“Jurnalis terluka, dipukul, diculik, diperkosa, ditembak, dan kehilangan nyawa demi mengungkap persoalan penting bagi public,” jelas AJI lagi.

 

Situasi semakin kompleks. Pandemi Covid-19, krisis global yang menghantam ke seluruh penjuru. Bekerja penuh risiko dan pemerintah harus membuka akses informasi untuk kepentingan publik.

 

Koalisi Masyarakat untuk Udin (K@MU) bersama  AJI Yogyakarta percaya bahwa setiap orang harus memiliki akses informasi yang bisa diandalkan dan berita yang independen. Jurnalis di seluruh dunia seharusnya bekerja di lingkungan yang aman, bebas dari kekerasan, dan bebas dari sensor.

 

“Pembunuhan Udin satu dari deretan kasus pembunuhan jurnalis di Indonesia yang tidak dituntaskan oleh pengadilan. Di dunia, UNESCO mencatat hampir 90 persen dari yang bertanggung jawab atas pembunuhan jurnalis belum dihukum.”

 

Ada 1.109 jurnalis yang dibunuh di dunia sejak 2006 hingga 2018.Pembunuhan jurnalis tidak bisa dibiarkan.

 

“Semua orang perlu terus memperjuangkan untuk mengakhiri impunitas atau penghentian penyelesaian kejahatan terhadap jurnalis. Masyarakat perlu mendukung jurnalis di seluruh dunia dengan mengutuk segala tindakan kekerasan.”

 

Selama lima tahun ini melakukan aksi 16-an, aksi rutin setiap bulan tanggal 16 menuntut penuntasan kasus pembunuhan Udin di depan Gedung Agung Yogyakarta.

 

“Kami melakukan aksi tutup mulut di depan Gedung Agung Yogyakarta sebagai protes dan tuntutan terhadap negara yang tak segera menuntaskan kasus itu. Pandemi Covid-19 membuat kami tidak bisa menggelar aksi demonstrasi secara langsung untuk menghindari penyebaran virus tersebut. Kami memilih kampanye secara online, menolak penghentiaan penyelesaian kasus pembunuhan Udin.” Kata AJI Yogyakarta.

 

Sebulan lalu pada tanggal yang sama, K@MU menggelar aksi kampanye digital dengan membuat video dan foto bersama seniman Anang Saptoto.

 

“Kami mendesak pemerintah Indonesia bertanggung jawab dan berbuat banyak dengan memberikan jaminan kepastian hukum.Tidak bisa dibiarkan pejabat negara membenarkan kekerasan.”

 

AJI juga meminta pada public agar  bisa ikut berpartisipasi dengan menyebarkan kampanye dan mencantumkan tagar di media sosial masing-masing sebagai bentuk dukungan melawan berbagai bentuk kekerasan terhadap jurnalis.

 

Berikut tagarnya: #Aksi16anKe69 #NegaraBERDAMAIDenganKekerasan #23Tahun9BulanKasusUdinTakTuntas.

 

 

Admin/KM

Baca Juga, Artikel Terkait