Pemda Intan Jaya Diminta Jangan Main-Main dengan Pendidikan

Cinque Terre
Manfred Kudiai

2 Tahun yang lalu
PENDIDIKAN

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Yeskiel Belau. Ist

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.comm--Mengenai indikasi adanya hal negatif  “main-main dengan pendidikan anak bangsa” secara nyata telah dan sedang terjadi di kabupaten Intan Jaya. Di kabupaten Intan Jaya, pada masa jabatan Bupati definitif Natalis Tabuni S.S.M.si dan Yan Kobogau S.Th.M.Div, di periode pertama (2012-2017) maupun periode kedua ini (2018-2022) sangat terkesan bermain-main dengan pendidikan anak bangsa di Kabupaten Intan Jaya.

 

Hal tersebut dikatakan oleh Yeskiel Belau, putera daerah Kabupaten Intan Jaya dari suku Migani yang saat ini sedang jalani masa studi program pasca sarjana (tahun ke-2) di STFT Widya Sasana Malang.

 

 “Saya sebagai putera daerah, juga sebagai calon Imam Projo Keuskupan Timika – Papua, sudah dan sedang mengikuti proses pembangunan di berbagai lini kehidupan masyarakat Indonesia, Papua dan khususnya Kabupaten Intan Jaya. Dengan demikian, saya telah turut menyaksikan begitu banyak hal positif juga hal negatif yang seharusnya tidak boleh terjadi, seperti indikasi adanya main-main dengan pendidikan anak bangsa,” tegasnya kepada kabarmapegaa.com, Kamis (15/8).

 

 

Dirinya menemukan  empat alasan: Pertama, saya sudah lihat sendiri tahun 2018 lalu bahwa gedung sekolah Negeri Inpres Pesiga dibongkar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab hingga saat ini tidak ada tanda-tanda membangunnya kembali demi pendidikan anak bangsa di sana. Ini adalah salah satu contoh yang kelihatan.

 

“Masih banyak contoh yang belum terungkap, dalam hal ini gedung sekolah di kampung-kampung Kabupaten Intan Jaya tidak beres. Jika demikian bagaimana nasib pendidikan anak bangsa di sana?” tanyanya.

 

Kedua, guru-guru di sekolah-sekolah yang masih terjaga juga mengalami banyak kesulitan di

seputar jaminan kejejahteraan hidup mereka, sarana mengajar dan sarana belajar bagi siswa.

 

“Oleh karena kenyataan seperti ini, maka guru-guru yang ada pun biasanya tidak bertahan lama di

kampung-kampung. Demikian juga anak-anak, mereka datang dan pergi begitu saja mengikuti

irama guru-guru mereka? Jika demikian bagaimana nasib pendidikan anak bangsa di sana?” pungkasnya.

 

Ketiga, anak-anak bangsa asal Kabupaten Intan Jaya yang sudah sampai pada tingkat pendidikan

perguruan tinggi (mahasiswa dan mahasiswi) selalu menuntut biaya studi dengan berdemonstrasi,

baik di Provinsi, Kabupaten tetangga seperti di Nabire (sebagai tempat pelarian mereka) dan di

Ibukota Kabupaten Intan Jaya sendiri.

 

“Kebiasaan demonstrasi ini bukan hanya satu atau dua kali saja, melainkan pengalaman membuktikan bahwa itu selalu terjadi setiap tahun. Iya, setiap tahun para mahasiswa-mahasiswi asal Kabupaten Intan Jaya berdemo kepada pemerintah Kabupaten Intan Jaya, barulah biaya studi biasa diberikan. Berikan bantuan pun tidak semua (tidak merata)!”

 

Untuk itu, kata dia, dengan demikian timbul pertanyaan, apakah pemerintah Kabupaten Intan Jaya tidak belajar dari pengalaman? Jika pemerintah tidak belajar dari pengalaman dan bersifat statis, bagaimana nasib pendidikan anak bangsa?

 

Selanjutnya, Keempat, saya selalu mendengar dan membaca perkataan Bupati Kabupaten Intan Jaya termasuk beberapa orang yang sedang menikmati jabatan di sana secara langsung maupun melalui media tulisan bahwa “bantuan studi itu tidak wajib. Namanya saja bantua, bantuan berarti bisa ada, bisa juga tidak ada.

 

“Bagi saya, tanpa disadari perkataan pemerintah Kabupaten Intan Jaya ini adalah bukti bahwa pemerintah kabupaten Intan Jaya sedang bermain-main dengan pendidikananak bangsa di sana. Mengapa? Karena Kabupaten Intan Jaya adalah wilayah operasional dana otonomi khusus (OTSUS), yang diberikan Provinsi sebesar 80%, yang juga di dalamnya terdapat bagian khusus untuk operasional pendidikan anak bangsa dan ini bersifat wajib. Namun kenyataan membuktikan bahwa selama ini pemerintah Kabupaten Intan Jaya selalu melontarkan perkataan seperti itu.”

 

Dirinya bertanya, jika tidak gunakan dana khusus untuk pendidikan anak bangsa yang bersumber dari OTSUS maupun pembangunan manusia itu sesuai dengan tujuannya, bagaimana nasib pendidikan anak bangsa? Keempat alasan itu mengundang saya untuk harus mengatakan bahwa pemerintah Kabupaten Intan Jaya sedang bermain-main dengan pendidikan anak bangsa di Kabupaten Intan Jaya.

 

“Maka saya Yeskiel Belau, putera daerah Kabupaten Intan Jaya ingatkan, Pemerintah Kabupaten Intan Jaya  dengan tegas mengatakan  jangan bermain-main dengan pendidikan anak bangsa di Kabupaten Intan Jaya. STOP… main-main dengan pendidikan, camkan ini!” tegasnya.

 

Dirinya minta suapaya jangan gunakan kekuasaan anda untuk ciptakan neraka untuk generasi penerus, tetapi gunakanlah kekuasaan anda untuk selamatkan masa depan generasi anak bangsa dengan seriusi semua hal yang berhubungan dengan penndidikan anak bangsa, seperti; bangun kembali gedung-gedung sekolah yang sudah dibongkar, sejahterakan guru dan murid.

 

“Siapkan sarana penunjang mengajar dan belajar di seluruh kampung-kampungKabupaten Intan Jaya, jadikan biaya studi bagi para mahasiswa-mahasiswi asal Kabupaten Intan  Jaya sebagai hal wajib yang diproses (dicairkan) tepat waktu,” tegasnya mengakhiri.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait