Pemda Puncak Ilaga  Lalai, Mahasiswa di Bali Diusir Pemilik Kontrakan

Cinque Terre
Manfred Kudiai

5 Hari yang lalu
POLITIK DAN PEMERINTAH

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Kondisi Mahasiswa Puncak di Bali saat diusur keluar oleh pemilik kontrakan. ( IPMAP/Ist


YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com—Asrama yang dihuni oleh pelajar dan mahasiswa asal Puncak di depasar Bali, akhirnya diusur keluar oleh pemilik kontrakan. Kejadian itu bermula setelah batas waktu membayar masa kontrakan lewat.

 

Sebelumnya, nasib  yang serupah dialami oleh pelajar dan mahasiswa asal Puncak di kota studi Malang yang juga dikeluarkan secara paksa lantaran belum membayar dan perpanjangan kotrak huni bagi pelajar dan mahasiswa asal Puncak Ilaga.

 

 

Kejadian ini menimpah mahasiswa Papua asal Puncak karena kelalaian pemerintah dalam hal ini di dinas terkait yang mengelolah dana pendidikan dan pemondakan yang sampai saat ini belum dicaikan. “Hal ini yerjadi karena kelalaian pemerinta puncak dinas bersakutan Itu Dinas Sosial, yang membayar kontrkan terlamat,” jelasnya Enis Telenggen Ketua   IPMAP kota studi Denpasar Bali kepada media ini, Kamis, (16/5).

 

“Nasip yang sama juga  kami kota studi Bali mahasiswa  asal Puncak Ilaga IPMAP. IKatan Pelajar Dan Mahasiswa Puncak Kordinator wilaya Denpasar Bali. Dimana tempat tinggal kami atau Kontrakan yang kami tempat, masa kontraknya habis di bulan April 14/04/2019 kemarin,” katanya.

 

Pengurus IPMAP Bali mengaku, pihaknya telah menghubungi pemda namum sampai saat ini belum ada  jawaban. Katanya, pemilik kontakan ikut membantu menghubungi dinas terkait tetapi hasilnya tetap saja sama. “Tidak ada  ada respon positif”.

 

“Yah, karena pemdah tidak ada jawaban maka  pemilik kontrkan mengeluarkan kami pada tanggal 14 April 2019 Denpasar, tetapi kami meminta waktu untuk komunikasi denagn pemerintah  1 Mei 2019, tetapi belum ada jwawaban juga maka itu. Pemilik kontrakan mengelurkan kami dari kontrakan yang kami tempat  pada tanggal 6 Mei 2019, terpakasa kami mahasiswa/I Kota studi Bali yang tergabung dalam  IPMAP, harus terpaksak keluar dari kontrakan yang kami tempat di Denpasar.”

 

Kondisi memprihatikan itu menimpah pada 25 pelajar dan mahasiswa asal Puncak.  Untuk sementara ini  mahasiswa/i kota studi Bali belum memilki tempat tinggal. “Dimana kami harus mengunsi ke tempat lain, karena melihat dari mahasiswa sendiri 25 anggota dan belum tentu semua mahasiswa ini menguinsi ke kontrakan atau pangujuban lain yang ada di Bali,” jelasnya.

 

Maka itu kami dari mahasiswa/I Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Puncak kota studi Denpasar, kata  Enis, sangat berharap kepada pemerintah Puncak Ilaga lebih kususnya Dinas Sosial untuk memperhatikan nasip  kami.

 

Dilihat perkembangan,  komunikasi  yang dibangun oleh  pengurus IPMAP,  pemerintah terkait  tidak merespon dengan baik dan Pemilik kontrakan telah mengusir mereka keluar dari kontrakan. Untuk itu, diminta kepada pemdah Puncak, khususnya Dinas Sosial  untuk segera merealisasikan biaya kontrakan  yang saat ini belum di realisasi oleh dinas social kabupaten puncak sampai hari ini.

 

“Dan kami mahasiswa/I puncak  kota studi bali jadi korban dalam hal ini, kerana kelalaian dinas sosisal bersakutan tidak merealisasi  biaya kontrakan,”  tutupnya mengakhiri. (*)

 

 

 

 

#Pemerintahan

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait