Pemerintah segera Tutup Penambangan Ilegal di Yahukimo dan Pegunungan Bintang

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

13 Hari yang lalu
POLITIK DAN PEMERINTAH

Tentang Penulis
Admin Redaksi Kabar Mapegaa Online
Mahasiswa Papua di Jogja usai membaca situasi penambangan ilegal di Yahukimo dan Pegunungan Bintang. (Foto: Frengki.Ist)

 

Oleh, Frengky Syufi)*

ARTIKEL/KABARMAPEGAA.com--Perusahaan penambangan ilegal yang beroperasi di daerah perbatasan Kabupaten Yahukimo (Distrik Suntamon) dan Kabuaten Pegunungan Bintang (Distrik Kawe) yang dimulai sejak tahun 2011 pada masa pemerintahan yang dipimpin oleh mantan Bupati Kabupaten Yahukimo yakni Ones Pahabol belum memberikan perizinan resmi untuk pembukaan pertambangan emas di daerah perbatasan Yahukimo dan Pegunungan Bintang.

Pihak perusahaan penambangan emas ilegal di Yahukimo dan Pegunungan Bintang belum mengantongi surat izin usaha (SIUP) dari kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten untuk pembukaan lahan pertambangan emas di kawasan Konservasi Taman Nasional Lorentz.

Penambangan ilegal yang beroperasi di perbatasan yang terdapat di kedua wilayah administrasi pemerintahan dan merupakan salah satu kawasan konservasi seharusnya Pemerintah Daerah Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Pegunungan Bintang bersikap tegas untuk menutup penambangan ilegal yang sudah beroperasi selama tujuh tahun agar tidak merusak tanah milik masyarakat adat dan merusak keanekaragaman hayati yang sudah ada.

 

Pemerintah Daerah meskipun sudah mengetahui bahwa penambangan ilegal yang beroperasi di daerah perbatasan sudah berlangsung selama tujuh tahun tetapi tidak ada yang mengambil tindakan secara tegas kepada para pemilik perusahaan ilegal yang masuk dan menghancurkan hutan milik masyarakat adat. Kehadiran perusahaan ilegal ini dapat dipastikan bahwa akan memberikan dampak yang sangat mengancam bagi kelangsungan hidup masyarakat adat, merusak tatanan sosial masyarakat adat serta menimbulkan konflik yang berkepanjangan antara masyarakat adat dengan pihak perusahaan dan para militer Indonesia yang berusaha melindungi agar perusahaan ilegal tersebut terus beroperasi sehingga pihak perusahaan dengan bebas mengeksploitasi tambang emas yang berada di Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Pegunungan Bintang.

Kita bisa berkaca dan belajar dari beberapa perusahaan-perusahaan raksasa berkelas dunia yang beroperasi di tanah Papua (PT. Freeport Indonesia,  LNG Tangguh,  NNGPM, PT. Salim Grup) yang mengeruk secara habis-habisan  sumber daya alam Papua baik yang terdapat diatas permukaan bumi maupun di dalam perut bumi dan membawa hasil kekayaan alam tersebut keluar untuk dinikmati oleh para penguasa Pemerintah Indonesia, para kapitalis nasional dan kapitalis dunia. Hal ini terjadi dari dahulu kala sampai pada masa kini,  masyarakat Papua terus mengalami kemiskinan, berbagai wabah penyakit yang datang silih berganti menghilangkan nyawa generasi tunas bangsa Papua, selain itu juga pendekatan militer Indonesia yang terus mengambil tindakan-tindakan represif bagi masyarakat adat yang menuntut haknya atas tanah adat miliknya bahkan nyawa mereka dicabut oleh timah panas ketika masyarakat adat datang dan meminta pertanggungjawaban dari pihak perusahaan.

Kejadian-kejadian diatas bisa berpeluang untuk terjadi di Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Pegunungan Bintang yang mana telah hadirnya perusahaan penambangan ilegal yang telah beroperasi sehingga berpengaruh terhadap masyarakat adat baik dari aspek ekomomi, sosial, budaya, pendidikan, kesehatan dan ekosistem.

 

Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten seharusnya mengambil sikap yang tegas untuk memberhentikan penambangan ilegal  yang terus bereksploitasi sumber daya alam  di daerah perbatasan Kabupaten Yahukimo dan Kabupaten Pegunungan Bintang yang dimulai sejak tahun 2011 sampai sekarang. Berdasarkan data lapangan yang disampaikan oleh Jimy Wombi selaku ketua Ikatan Mahasiswa/i   Yahukimo Se-Jawa Bali dan Koordinator Umum Front Mahasiswa Peduli Masyarakat Adat Papua dalam diskusi publik pertama di asrama Yahukimo (18/10/2018) yang diikuti oleh 65 peserta mahasiswa/i Papua dari 32 asrama mahasiswa yang berada di Kota Studi Yogyakarta dan pada diskusi publik  yang kedua pada (27/10/2018) bahwa perusahaan penambangan ilegal terus beroperasi di daerah perbatasan Yahukimo dan Pegunungan Bintang.

 

Tegas Jimy Wombi bahwa pihak perusahaan sudah beroperasi sejak 2011-2018 di 15 titik lokasi yaitu Langda, Wasumurji, Kirabuk, Imdam, Yeidoman, Mosomdua, Mosomdua (Kali Honom), Mosomdua, Seredala, Mosomdua, Bingki, Mourwendala, Yawor, Kawe dan Dairam yang dijadikan sebagai daerah eksploitasi emas dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 4000 orang baik yang datang dari luar pulau Papua maupun dari daerah Papua yang lain. Hasil penambangan emas diangkut keluar oleh Helikopter yang sudah lama berpoperasi di Yahukimo dan Pegunungan Bintang, bahkan hasil emas yang diperoleh dari penambangan ilegal dijual kepada para pengusaha lokal, pemerintah, dan para pendatang (imigran).

Kata Jimy selaku Ketua Ikatan Mahasiswa Yahukimo Se-Jawa Bali dan Koordinator Umum Front Mahasiswa Peduli Masyarakat Adat Papua bahwa Masyarakat dan  para mahasiwa yang tergabung dalam tim tujuh (IS-SUKAM) sudah pernah melakukan demonstrasi beberapa kali untuk menuntut kepada Pemerintah Kabupaten Yahukimo, para anggota  Dewan perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan pihak perusahaan untuk  mendesak agar perusahaan penambangan ilegal segera ditutup.

 

Tanah Papua adalah tanah yang kaya raya baik yang terdapat di permukaan bumi maupun terdapat didalam perut bumi. Alam Papua menyimpan banyak uranium, gas bumi, minyak bumi, nikel, tembaga dan biji timah. Kami tidur diatas emas, kami berenang diatas minyak, tapi bukan kami punya, kami hanya menjual buah-buah pinang sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan oleh Edo Kondologit yang mengisahkan rintihan hati Orang Asli Papua (OAP) diatas tanah leluhurnya.  Oleh karena itu, marilah generasi muda Papua, para akademisi, para muda mudi, para tua adat dan para pemangku kepentingan di Papua kita bergandengan tangan menyelamatkan hutan Papua beserta segala isinya yang merupakan mama bagi kami generasi muda Papua saat ini dan anak cucu kami di kemudian hari.

 

Penulis adalah Mahasiswa Papua Alumnus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.)*

 

  

#Lingkungan dan Hutan

Baca Juga, Artikel Terkait