Pengakuan Warga Pengungsi: Kami Trauma, Tidak ada aksi teror

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

20 Hari yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Suasana warga sipil yang mengunsi ke Timika. Ist

 

TIMIKA, KABARMAPEGAA.com--Setelah adanya Kontak senjata antara TPNPB- OPM dan gabungan aparat Indonesia di kawasan Tembagapura, warga  yang mendiami di empat kampung lebih memilih meninggalkan tempat dan mengungsi ke Timika.

 

Warga yang mengungsi di fasilitasi oleh bus milik PT. Frepoort Indonesia. Sebelum sampai ke sanak-saudara di Timika, pengunsi diarahkan ke mile 32 dua guna melaksanakan pendataan. Namun pendataan yang dilakukan oleh pemerintah setempat, dalam hal ini, Dinas Discapil berkerjasama dengan  Distrik  Tembagapura bertempat di  halaman Gereja Rehobot, Mile 32, Distrik Kuala Kencana,  Timika Papua. Senin,( 9/3) itu ditolak  warga pengungsi.

 

“Kami sebanyak 612 masyarakat kampung Banti 1, Banti 2. Kimbeli dam Opitawak  di Distrik Tembagapura yang sudah mengungsi ke Timika, Papua pada Minggu (8/3) lalu,” jelas salah satu warga sipil yang mengungsi, atas nama WN kepada media ini saat diwawancara di Mile 32, Timike, Senin (9/3).

 

Pengakuannya, masyarakat  mengungsi setelah warga di empat kampung mengalami kesulitan beraktivitas keseharian akibat kehadiran TPNPB dan gabungan aparat dan di wilayah  Utikini dikuasai TPNPB  akhir-akhir ini. 

 

“Kami 612 masyarakat dari Tembagapura mengungsi  ke Timika. Kami ini gelombang ke tiga tiba di Timika. Kini empat kampung di distrik Tembagapura telah kosong,” katanya.

 

Kata WN, Kami mengungsi menggunakan  dengan 12 bus milik Freeport dan tiba di Timika pada pukul 22.52 Wit, Minggu (9/3/2020). Para warga yang mengungsi  ini berasal dari kampung Kimbeli, Opitawak, Banti1 dan Banti 2.

 

“Kami yang turun dari atas sekitar 612 warga. Sementara kami  ditampung di halaman Gereja Rehobot Mile 32 Distrik Kuala Kencana, sebelum akhirnya dipulangkan ke rumah sanak keluarga masing-masing di Timika. Sebagian warga yang kelelahan, di rawat oleh tim medis yang di siapkan oleh Pemda Mimika,” ujarnya

 

“Kami  ditakuti karena tempat dimana warga  melakuan pertemuan-pertemuan di samping Toko Penuha Tembagapura, disamping  toko sebuah Aula jadikan Pos Aparat Militer Indonesia. Dengan kehadiran aparat, kami warga menjadi trauma,” katanya.

 

Kami warga Banti Dua, merasa ketakutan. “Di sana memang terjadi kontak senjata antara TPN.PB dan TNI. Ditengah kami ini. Kami  menjadi ketakutan.”

 

Dalam media lokal maupun nasioanl yang memposting bahwa adanya teror  dari pihak TPNPB kepada warga adalah tidak benar.

 

“TPNPB teror warga yang diberitakan itu  tidak benar. Cara-cara refresip oleh TPNPB terhadap warga Tembagapura pun tidak ada. Dan juga Aparat  Indoensia terhadap Masyarakat juga tidak ada. Kami melihat hanya ada pemboman melalui Helikopter,” ujarnya.

 

Baca juga: Jubir TPNPB: kami tidak teror,  warga mengungsi karena takut

 

Dia juga menceritakan awal mula terjadinya kontak Senjata ini. “Aksi kontak senjata di Tembagapura, muali dari Hari selasa. Aksi itu dilakukan ketika, warga Tembagapura dalam persiapan barapen untuk acara syukuran kepala kampung Banti dua.”

 

 Baca juga: Sekitar 612 Warga Pengungsi  Di Timika Tolak Pendataan

 

Warga juga mengaku melihat TPNPB menguasai medan di Utikini. “ Saat itu kedapatan dengan ibu-ibu  warga Banti kemudian, dari TPNPB mereka suruh mama-mama itu pulang ke rumah.

 

“Dari situ TPNPB baku ketemu dengan TNI yang melintasi kendaran dari Mill 68 Tembagapura menuju Banti dari situlah Kontak Senjata picah. Aksi kotak senjata TPNPB menembak dua mobil jatuh.  Aki mulai sejak 26 Februari 2020 sampai 6 Maret 2020.”

 

Katanya, benar  TPNPB tembak Tentara mereka. Ada yang meninggal ada yang luka-luka di pihak TNI dan nama-nama yang dapat tembak maupun yang  luka-luka  kami belum  ketahui, karena saat kontak senjata itu, kami ketakutan dan menyiapkan barang untuk mengunGsi ke Timika.

 

Pewarta: Yunus Gobai/KM

Editor: Manfred Kudiai

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

#TPNPB-OPM

Baca Juga, Artikel Terkait