Pengembara Noken Surati Ketua PON XX, Gubernur Papua dan Papua Barat

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

7 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Tas noken salah satu kekayaan budaya Papua yang sangat menarik, baik dari bentuk maupun filosofinya. (sumber: https://daenggassing.com/)

 

NABIRE, KABARMAPEGAA.com—Pengembara Noken, Titus Pekei kembali surati Ketua PON XX 2020, Gubernur dan Wakil Papua; Gubernur dan Wakil Papua Barat, Minggu (9/2).

 

Surat yang dicetuskan kepada mereka itu, Pihaknya ‘Pengembara Noken’  meminta supaya memberikan tempt bagi kelompok perajin budaya dari tujuh wilayah adat (Papua dan Papua Barat) yang berdomisili di Jayapura dan sekitarnya.

 

“Berhubung Ajang Pekan Olah Raga Nasional XX Tahun 2020. Rencana selenggarakan di Tanah Papua. Untuk itu, pada kesempatan ini  tolong sampaikan kepada Ketua Panitia PON XX 2020 di Jayapura supaya  Kelompok perajin budaya dari tujuh wilayah adat (lima di Papua dan dua di Papua Barat) yang berdomisili di Jayapura sudah posisikan dimana, agar mereka pun leluasa berperan serta, keterlibatan bakat talenta dirinya diajang PON XX 2020,” jelasnya kepada media ini, Minggu (9/2).

 

Pihak meminta kepada, Bpk Yunus Wonda sebagai  ketua dan Gubernur/Wakil Gubernur Papua --- semoga para perajin pun mendapat posisi terhormat tanpa pilih kasih dalam memeriahkan pekan olah-raga nasional di tanah Papua.

 

“Tanpa melibatkan pribadi dan kelompok perajin budaya khas Papua hanya karena sentimen pilih kasih melalui kenalan, kedekatan relasi asal daerah apapun maka "Otomatis PON XX 2020 Gagal tanpa manfaat bagi kalangan pegiat budaya khas Papua".

 

Kata Titus, perajin budaya tidak memberi warna keragaman budaya Papua secara terbuka kepada semua kontingen yang datang ke Papua. “Ketua panitia PON XX dan jajarannya membatasi perajin budaya karena kerja rahasia, ketika  pangkas dana otonomi khusus, pembangunan menjadi emergency apakah itu tanda gagal PON XX 2020 itu, gagal tanpa melibatkan  partisipasi semua kalangan budaya itu.”

 

“Terbenturkan dengan potongan dana otsus, kesiapan cabang olaraga wakil daerah yang tidak sportif terbuka. Pemuda mengambil alih  adalah emergency ketimpangan potensi sumberdaya manusia di berbagai cabang olah-raga, tanpa sulapnya. Kalau seperti ini, kapan kita mapan dalam berbagai cabang olah-raga itu,” katanya.

 

Titus menambakan, “Ketua PON XX pikir sambut juarah tanpa hanya berpikir mengamankan. Ketua pon xx sudah memahami secara menyeluruh tanpa membatasi untuk melibatkan perajin budaya, apakah sudah membenahi taman budaya papua di expo waena, museum negeri, museum noken, dan beberapa tempat kunjungan lainnya. “

 

“Kalau masih belum, gaira sportivitas pon xxvi 2020 sudah mati, sebelum bertanding. Lalu apa yang akan tunjukan kepada semua yg datang atau hanya menjadi pembelaan diri atas segala masalah yang ada di tanah ini,” katanya.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Papua Bisa

Baca Juga, Artikel Terkait