Pengguna Jalan Trans Nabire –Ilaga  Protes, Wakil Ketua DPRD Dogiyai  Di Pukul

Cinque Terre
Manfred Kudiai

2 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Suasana saat penguna jalan protes kepada SatGas, di Kilo Meter 100. (Foto: SImpetu Pekei/Ist)

 

NABIRE, KABARMAPEGAA.com-- Pandemi Virus Corona COVID-19 sudah menyebar di sekitar 173 negara. Di Indonesia, beberapa kabupaten melakukan lockdown. Salah satunya Privinsi Papua. Di tingkat kabupaten, Pemda Dogiyai bekerja  melakukan lockdown dan pemeriksaan di 100 Kilo Meter, Jalan Trans Nabire-Ilaga.

 

Upaya pencegahan penyebaran Covid-19, DPRD Dogiyai bergerak dibantu satpol PP, Dinas Kesehatan, dan pihak Kemanan (TNI/Polri) melakukan pemerikasaan di 100 KM. Kegiatan tersebut sudah berjalan kurang lebih  satu minggu.

 

Namun hal aneh kembali menimpa petugas di 100 KM. Warga yang melintas dari Nabire tujuan Dogiya Deiyai dan Paniai protes agar membuka pemalangan yang dilakukan.

 

Wakil Kedua DPRD, Simpetu Pekei membenarkan kejadian ini. Kata dia, warga yang melintas menuntut supaya pemalangan itu di buka. Tetapi dirinya mengaku lockdown sebagai upaya pencegahan penyebaran virus Covid-19 sehingga pihaknya mengaku akses tidak akan dibuka.

 

 

“Mereka tuntut kasih lolos dari Pemalangan yang dilakukan di KM 100 tapi sejauh dan selama kami disini, tidak ada yang akan lolos. Sekalipun keluarga dekat atau kandung,” tegas Simpetu kepadakabarmapegaa.com, Minggu, (30/03).

 

 

Menurutnya, Pemerintah Daerah sadar dengan penyebaran virus Corona  ini, tetapi masyarakat belum sadar.“Jika Virus Covid-19 ini menyebar luas di wilayah Meepago, mau salahkan siapa? Cobalah, masyarakat  sadar akan hal ini dan kami minta sementara diam diri di rumah karena alat kesehatan terbatas,” pinta Pekei.

 

Pihaknya juga menghimbau agar masyarakat  sadar dengan adanya kebijakan pemalangan Jln. Trans  yang menghubungkan emapat kabupaten  di  Meepago itu.

 

“Pemimpin daerah mengambil kebijakan tersebut demi keselamatan masyarakat Meepago dari ancaman virus Corona, tapi Kenyataan di TKP banyak masyarakat yang melawan datang protes kepada  petugas  untuk dilewatkan,” katanya.

 

Dikabarkan terhitung pagi ini ada 5 Motor dan 6 mobil lintas belum dilewatkan oleh petugas sebab itulah tugas keamanan atas kebijakan ke-4 Bupati (Nabire, Paniai, Dogiyai dan Deiyai).

 

Sementara itu, pada hari ini di KM 100 banyak kendaraan (Roda empat dan roda dua) yang naik dari Nabire ke Dogiyai, Deiyai, Paniai. Dan sebaliknya  dari Paniai, Dogiyai dan Deiyai ke Nabire.

 

 “Kami tahan dan di kembalikan ke tempat asal mula mereka dating. Baik itu dari Nabire maupun Dogiyai,Deiyai dan Paniai,” kata Simpetu.

 

Sementara itu, informasi yang dihimpun media ini, Wakil Ketua DPRD Dogiyai di pukul warga atas ketegasan yang diambil oleh kelompoknya di 100 KM, Siriwo.

 

Kronologi kejadian pemukulan terhadap Wakil Ketua DPRD Dogiyai, Simpetu Pekei sebagai berikut: [Kronologi dibawa ini dibuat oleh Wens Tebai]

 

 

Kronologi !

 

“Pagi tadi sekitar jam 8, saya Simpetu Idimaitawi Pekei tiba di posko satgas Corona. Sesampai disana, saya melihat banyak orang yang turun dari Wadou ke nabire dan dari Nabire naik itu mengelu, meminta dan menuntut agar dilewatkan dari Pemalangan yang dilakukan oleh satgas Corona.

 

Setelah itu, saya masuk dan memberikan pemahaman atas Pemalang itu baik melalui bahasa Indonesia maupun dalam bahasa daerah. Saya membagikan surat himbauan itu kepada semua orang yang protes dgn Pemalangan itu, namun ada beberapa mahasiswa dan beberapa orang lain yang diduga sebagai PNS karena memakai pakaian dinas itu langsung lontarkan pukulan kepada saya bahkan ditumbuk dengan batu 4 kali di badan saya.

 

Saya dipukul, setelah saya menyampaikan kepada semua orang bahwa Pemalangan ini dilakukan atas permintaan masyarakat baik melalui lisan dan tertulis juga melalui media sosial.

 

Keamanan yang berada saat saya dipukul itu menanyakan kepada saya, kamu pejabat negara yang dapat pukul; bagaimana kita bertindak? Tapi saya bilang, tidak boleh melakukan tindakan pembalasan dendam kepada oknum yang terlibat lontarkan pukulan itu tapi kita pertegas saja agar tidak ada yang lolos naik atau turun dari Pemalangan itu. Dan selanjutnya keamanan yang yang mengambil alih dan pertegas di tempat Pemalangan.

 

Berharap saja, agar masyarakat yang berdomisili di wilayah meepago itu tidak melakukan banyak aktivitas di tempat-tempat keramaian, apalagi melakukan perjalanan naik-turun di jalan lintas meepago karena sementara dipalang mati di kilo 100 sampai tanggal 9 April.”

 

Kemudian, kepada masyarakat di Wilayat Adat Mepagoo, dimimta supaya sadar akan kebijakan pemerinta atas lock down.  Lock Down  dilakukan supaya mengunci masuknya bahaya penyakit Covid-19  yang masuk di Wilayah tersebut.

 

Sehingga, kepada masyarakat di Mepagoo harus menyadari  akan bahaya Penyakit tersebut sehingga diminta tetap  tinggal di dalam rumah sampai penyakit Covid - 19 tersebut terisolasi dengan baik.

 

Kemudian dikutip dari postingan Chaky Wayne yang juga adalah SatGas di 100 KM, menyatakan penegahkan himbauan untuk pencegahan dari bahayanya Covid - 19 oleh SatGas TIM COVID - 19 di KM 100 Sangat Ketat.

 

“Sehingga kami Mohon Warga Masyarakat Wilayah Meepago Tidak diperbolehkan Naik Turun Nabire,Dogiyai,Deiyai dan Paniai sampai Tgl 09 April 2020 dan Tunggu pemberitahuan selanjutnya,” terangnya.

 

Semua Warga, lanjut dia, dapat isolasi mandiri di rumah, Istrahat yang baik, makan makanan yag bergizi dan Jaga Jarak. “Apa bila ada kerja sama dari semua Pihak maka kita bisa Mencegah Penyakit COVid - 19 ini. Tuhan Memberkati Kita Semua,” paparnya.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait