Penting Proteksi Budaya Lokal Untuk Anak Anak Suku Mee

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Acara pelantikan suku Mee di Timika Papua, Sabtu, (29/02/2020)- Y Gobai/KM

 

 

Oleh Emanuel Muyapa,

 

OPINI, KABARMAPEGAA.COM--Melalui kaca mata pribadi penulis sejahu ini telah melihat berbagai signifikan dalam kehidupan berbudaya yang bernuansa di setiap suku yang ada di sekitar tanah Papua dan terutama Meuwodide. Bukan di ketahui oleh penulis sendiri dengan hal ini tetapi ada banyak orang yang mengetahuinya.

 

"Ada pun yang telah di ungkap oleh Pit Nawipa  pada acara pelantikan suku Mee di Timika papua adalah Kepala suku MEE terpilih yang telah di lantik di Samping “EME NEME YAUWARE” tertanggal (29/02/2020)" bahwa "untuk memproteksi dan lestarikan budaya yang adalah jati diri kit. Maka, perlu waktu yang cukup untuk saat ini, karena sebagian besar (mayoritas) anak-anak kami sekarang sudah terkombinasi dengan budaya dan pengaruh luar, seperti mengkomsumsi alkohol yang di jadikan suatu rutinitas dalam keseharian dan lain-lain"

 

Di setiap suku telah di miliki dengan budaya dan adatnya masing-masing yang di turun-temurunkan oleh moyangnya sejak dahulu kala, hingga kini pula sedang bersama budaya karena budaya selalu mendesak manusia di setiap suku (komunitas) sebagai pelakunya sehingga hal ini memang perlu di proteksi oleh orang teruma untuk anak Mee .

 

kita sebagai anak dalam komunitas atau suatu kelompok mesti arahakan kehidupan kita dengan kaidah kehidupan leluhur yaitu hidup bersama budaya dan Adat moyang yang sudah di jejaki .

 

Inspirasi penulisan topik muncul ketika penulis menyaksikan acara pelantikan Kepala suku Mee yang telah di gelar di Kab.Timika. Dalam suasana acara tersebut penulis telah menyimak berbagai topik klarifikasi yang di ulas oleh berbagai tokoh adat suku Mee yang telah hadir di selebrasi tersebut .

 

Dari semua ulasan yang sangat di sentuh hati penulis pribadi adalah ulasan atau ungkapan kepala suku Mee (Pit Nawipa) yaitu "Inii Edanewagii Oya Yato Bagee Meuwo Dide Nimoti Yuwa Miyokaa Okeiyaka Keitetai Agiyoo Inii Yaka Umitou Douba Kiya Koyoka " yang di definisikan bahwa kita mesti mengayomi atau memproteksi budaya kita, takut jangan sampai kebiasaan atau adat luar terhadir di Meuwodide sehingga mudah untuk menyingkirkan leluhur kita maka mesti di jaga"!

 

Selain itu, penulis kutip dari pembincangan kedua orang yang penulis kenal ketika itu. Mereka adalah satu seorang guru (D.M) di Timika dan yang satu Penasehat KM (M.D). Dalam pembincangan mereka pada saat itu bertopik tentang kenapa Gereja yang jadi patokan utama dalam kehidupan masyarakat Mee pada hal budaya ada sebelumnya? sehingga di kutip yang berkonklusi budaya dan adat lokal yang lebih penting di banding gereja.

 

Kami pun bisa melihat dan renungkan kembali kehidupan leluhur kita yang seperti " Mogai Daa, Oma Daaa Dana Mewagii Kou Maya Daa” (Jangan berzinah, jangan pencuri dan jangan membunuh orang)."

 

Dengan ketentuan-ketentuan tersebut, telah di jalani dengan tindakan konkritnya yaitu ketika seseorang melanggar ketentuan tersebut harus di hukum mati pada saat dahulu. Ketentuan tersebut telah di hilangkan secara utuh semenjak gereja hadir (di kutip dari pembincangan D.M & M.D) pada waktu itu.

 

Dengan demikian, setiap orang adalah pelaku pelaksana budaya dan adatnya masing -masing maka boleh jaga dan pelajari budaya dan adat kita yang sudah di jejaki oleh moyang kita terutama anak-anak suku Mee harus berani dan bersedia untuk partisipasi dalam kehidupan berbudaya dan beradat lokal (MEE)!

 

Penulis  adalah Pelajar di Timika Papua/ CR4/KM

#Budaya

Baca Juga, Artikel Terkait