Perang Suku Wajah Tradisionalisme Orang Papua

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

3 Tahun yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Foto Doc Paskalis Kossay/KM

 

Oleh, Paskalis Kossay

 

OPINI, KABARMAPEGAA.COM--Peradaban dunia semakin berkembang maju pesat ditandai dengan kemajuan ilmu dan teknologi serta globalisasi kehidupan sosial budaya, politik, dan ekonomi yang berpengaruh signifikan dalam merubah pola hidup serta perilaku tradisi kehidupan lama menuju peradaban baru diplanet bumi ini.

Seiring dengan kemajuan kehidupan peradaban baru, masyarakat di belahan dunia lain sedang berjiwa mempertahankan eksistensi hidup dengan memajukan kualitas hidupnya sebagai komunitas masyarakat moderen dengan meninggalkan pola hidup lama yang berbau tradisional yang penuh dengan berpandangan skeptis, pesimis, iri, dengki, dendam dan emosional menuju masyarakat moderen yang berpandangan moderat, demokratis, optimistis, damai, sejahtera, maju, mandiri dan berintegritas serta ber - Tuhan.

Tetapi di belahan dunia lain masyarakatnya hidup dalam situasi peperangan konflik antar suku, antar sesama saudara, antar agama, bahkan antar negara menyebabkan kehidupan rakyat terusik keluar dari habitatnya menjadi korban jiwa, korban pengungsian, tidak ada kedamaian dan penuh dengan kekerasan membawa mereka pada situasi ketidak pastian masa depan yang lebih baik maju dan sejatera.

Kondisi kekerasan ini mulai dialami oleh masyarakat papua saat ini. Ada beberapa Kabupaten di wilayah pegunungan tengah papua sedang mengalami kekerasan dan konflik akibat perang antar suku. Perang suku ini merupakan tradisi masyarakat papua, rupahnya masih langgeng ditengah kehidupan komunitas kehidupan orang papua. Hal ini terlihat dari masih adanya perang antar suku di Kabupaten Mimika yang terus membara, menyusul Kabupaten Yahukimo, Jayawijaya, Tolikara, Nduga dan Lani Jaya.

Selain perang antar suku, kekerasan lain yang masih membara dalam kehidupan masyarakat papua adalah konflik yang bersifat vertikal antara masyarakat dengan aparat negara. Kekerasan dalam konteks ini intensitas kejadiannya cukup tinggi sehingga berpengaruh besar membawa rakyat papua menuju ketidak pastian hidup kedepannya.

Kembali kepada perang suku bahwa dimasa dulu , perang suku adalah bagian dari ciri khas kekuasaan politik tradisional orang papua. Setiap suku di papua memiliki pandangan perang masing - masing. Tetapi papua umumnya hakekat perang suku merupakan unjuk ketangguhan, keberanian dan keperkasaan suku atau seorang kepala suku dalam wilayah aliansi perang sekaligus mendongkrak derajat seseorang kepala suku atau seorang tertentu sebagai tokoh panutan atau tokoh yang berpengaruh dan disegani masyarakat lain. Membunuh orang ( musuh ) dalam perang adalah prestisius besar dicapai oleh seorang ( pembunuh ) karena itu prinsip orang papua perang adalah ajak merebut derajat sosial maka setiap orang laki-laki dituntut harus berani berani berperang dan harus berani membunuh musuh.

Adapun deskripsi diatas adalah sebuah cerita lama ( dongeng ) yang sudah ditinggalkan selama 165 tahun sejak papua memasuki peradaban baru yang diawali dengan masuknya Injil Tuhan 1885. Dengan penyebaran Injil Tuhan diseluruh penjuruh tanah papua, maka tradisi perang antar suku sudah lama ditinggalkan. Masyarakat papua mulai memasuki tradisi kehidupan baru dengan penuh kasih antar sesama, antar suku dan antar konfederasi perang sehingga tidak ada lagi gab permusuhan, tetapi yang terjadi adalah perpaduan dan integrasi sosial yang semakin kohesif dan kuat.

Namun sayang sekali nilai kohesifitas sosial diantara masyarakat itu kini mulai terganggu akibat munculnya kembali tradisi perang suku. Masyarakat papua mulai saling membunuh antar sesama warga dan antar suku . Hal ini membuat emosi dan jiwa tradisi perang suku mulai muncul. Sesama orang papua mulai mempeta - petakan komunitas suku berdasarkan konfederasi perang suku lama. Masing - masing saling meningkatkan ketegangan insting perang. Sedikit tersulut masalah entah sosial, ekonomi, atau politik langsung meletus perang suku.

Kita belum pastikan apa faktor penyebab perang suku bisa muncul kembali. Pemerintah daerah pun sampai hari ini tidak memiliki sebuah kajian yang jelas apa penyebab munculnya kembali jiwa perang suku masyarakat papua. Pemerintah daerah cuma melihat sebatas fakta penyebab masalah dilapangan. Belum punya konsep yang tepat untuk menelusuri apa penyebab pemicu perang suku. Oleh karena itu dampaknya jelas, perang suku semakin menjadi - jadi dan meluas dibeberapa kabupaten. Pemerintah hanya datang sebagai pemadam kebakaran dan bara apinya tidak sanggup dipadamkan sama sekali.

Pemerintah daerah mestinya harus memiliki konsep yang jelas dan komprehensif menyelesaikan perang suku ini secara tuntas. Karena itu perlu dilakukan studi komprehensif pula agar bisa dapat memastikan apa penyebab munculnya perang suku. Bukan datang dilihat kasuistis peristiwa dilapangan, didorong pendekatan keamanan lalu diselesaikan masalah. Hal itu sebenarnya langkah pre-entif, tetapi langkah preventif dengan menggali dasar motif munculnya perang suku perlu diselidiki dan harus dimiliki oleh pemerintah daerah. Maka dengan dasar kajian tersebut memudahkan pemerintah untuk mengambil langkah penyelesaian perang suku secara tuntas dan permanen. Jika tidak memiliki hasil studi yang jelas, tentu penyelesaian perang suku hanya asal - asalan dipermukaan sesuai fakta peristiwa lapangan saja dan konsekwensinya perang suku akan tetap muncul sewaktu - waktu. Oleh karena dendam perang masih membara disetiap konfederasi perang.

Setelah mempelajari kecenderungan meletusnya perang suku yang terjadi belakangan ini, maka saya berpendapat kebangkitan jiwa perang suku dipicu oleh beberapa hal :

  1. Pengaruh perkembangan politik bangkitnya nasionalisme papua merdeka. Dalam kaitan ini orang papua dalam beberapa tahun terakhir tengah dihadapkan aktivitas politik yang menjurus kekerasan dan perang melawan musuh. Hal ini memicu naluri perang orang papua kembali dan mulai mempersiapkan diri dengan peralatan perang tradisional entah, busur panah, tombak , pisau dan kampak .
  2. Pengaruh munculnya naluri perang ini dan dengan persiapan peralatan perang maka hukum adat kembali menuntut . Kata orang pemali kalau peralatan perang tidak segera digunakan dalam medan perang akan dimakan tuannya sendiri. Karena itu dengan dipicu oleh masalah sepele saja berpengaruh besar memicu perang suku.
  3. Konflik dan kekerasan yang dialami warga dari pendekatan represif aparat TNI dan Polri juga berpengaruh signifikan munculnya naluri perang. Penembakan warga semena-mena tanpa dipertanggung jawabkan secara hukum menimbulkan dendam dan sakit hati yang sangat mendalam lalu muncul naluri perang .
  4. Dalam situasi demikian, apapun bentuk alasannya setiap masalah yang muncul tentu dihadapi dengan tindakan kekerasan.
  5. Kebijakan pemerintah daerah yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Hal ini dibeberapa daerah sudah terbukti, seperti di Puncak Jaya, Puncak, Tolikara dan Yahukimo . Rakyat protes kebijakan bupati kemudian berujung konflik perang antar suku. Pada umumnya masyarakat papua gunung naluri perangnya sudah lama muncul akibat dari konflik dan kekerasan yang dialami lama. Dampaknya ketika kebijakan bupati yang tidak berpihak pada rakyat atau masalah lain tentu memicu konflik perang.
  6. Provokasi pihak luar dengan dalih politik, ekonomi atau hukum bisa membangkitkan naluri perang antar suku. Kelompok provokator tersebut bertepuk tangan dan menikmati hasil diatas penderitaan dan pengorbanan rakyat papua.

Beberapa alasan tersebut diatas saya lihat secara kaca mata, tetapi perlu studi lebih dalam apa sebenarnya faktor yang mendorong timbulnya perang suku sesama orang papua belakangan ini. Pada hal papua saat ini berada pada peradaban millenium abad 21 dimana tradisi perang sudah lama ditinggalkan sejak 1885 Injil Tuhan masuk di tanah papua. Kita perlu introspeksi bagaimana posisi papua hari ini dan mengapa orang papua harus menyelesaikan masalah dengan perang suku. Padahal Gereja dan pemerintah ada sejak lama sudah hidup berbaur dengan lintas suku, agama dan etnis. Tetapi mengapa orang papua tetap muncul naluri perang. Memang perlu penelitian mendalam. Mudah - mudahan UNCEN atau UNIPA bisa memprakarsai studi terhadap munculnya perang suku ini (www.kabarmapegaa.com.)

 

 

Baca Juga, Artikel Terkait