Perlawanan Para Aktivis Lingkungan Dibalik Jeruji Besi

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

6 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Aksi massa yang tergabung dalam SAMAR (Sukoharjo Melawan Racun) dan MPL (Masyarakat Peduli Lingkungan) melakukan orasi dan menyanyikan yel-yel dan  tetap bertahan didepan kantor Pengadilan Negeri Semarang. (Foto: Frengki/doc.ist)

 

Oleh : Frengky Syufi)*

 

Aksi perlawanan para aktivis lingkungan bersama rakyat  di Kabupaten Sukoharjo menentang PT Rayon Utama Makmur (RUM) yang menimbulkan pencemaran pada lingkungan. Aktivitas yang dilakukan oleh PT RUM yang memberikan dampak yang besar terhadap pencemaran lingkungan berupa zat beracun yang keluar dari pipa bocor sehingga sangat berbahaya bagi warga di Sukoharjo. Rakyat Sukoharjo dan aktivis lingkungan  mengamati secara langsung terkait zat beracun yang dibuangkan secara bebas oleh perusahaan tanpa adanya pengelolaan dan  kajian mengenenai analisis dampak lingkungan (AMDAL) yang baik oleh PT  RUM sehingga zat beracun tersebut memberikan dampak negatif bagi warga dan mencemari lingkungan.

 

Kesadaran masyarakat dan para aktivis lingkungan  mengenai limbah berupa zat beracun yang berbahaya bagi warga dan mencemari lingkungan  maka warga Sukoharjo dan aktivis lingkungan berkonsolidasi untuk melakukan aksi pertama dan aksi kedua yang berlangsung di depan PT RUM. Hasil dari aksi pertema dan aksi kedua yang dilakukan itu  maka adanya negosiasi dari pihak perusahaan dengan warga Sukoharjo dan aktivis lingkungan bahwa ada pertanggungjawaban dari pihak perusahaan untuk memperbaiki pipa-pipa yang bocor dan tempat-tempat yang menimbulkan bau yang menyengat melalui polusi udara yang dialami secara langsung oleh 32 warga yang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dibuktikan hasil pemeriksaan dokter PKU Muhammadiyah Sukoharjo dan 152 warga yang  berdomisili di Kedungwinong, Kabupaten Sukoharjo merasa pusing dan mual.

 

Namun perjanjian dari pihak perusahaan PT RUM yang telah disepakati secara bersama dengan warga pun tidak ditepati melainkan warga dibohongi oleh Pihak PT RUM  yang mengingkari janji dan tidak menepatinya sehingga para warga Sukoharjo bersama aktivis lingkungan melakukan aksi demonstrasi yang ketiga di depan gedung DPRD Sukoharjo pada tanggal 19 Januari 2018 sebagai bentuk protes warga karena janji-janji dari pihak PT RUM yang tidak ditepati dan sayangnya lagi warga hanya dikasih surat keputusan dari Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) yang menyatakan dalam rentang waktu selama satu bulan dari tanggal (19 Januari 2018 – 19 Februari 2018) untuk melakukan pembenahan terhadap pipa yang bocor dan tempat-temapat yang menimbulkan bau yang menyengat hidung penduduk Sukoharjo melalui polusi udara. Perjanjian yang dikeluarkan oleh Muspida pun akhirnya gagal karena tidak ditepati oleh pihak Muspida itu sendiri.

 

Rakyat Sukoharjo dan para aktivis lingkungan melihat bahwa belum ada  kejelasan dan keseriusan  dari pihak PT RUM maupun Pemerintah Sukoharjo untuk melakukan penanganan yang serius terkait limbah yang dihasilkan oleh PT RUM yang berdampak terhadap pencemaran lingkungan dan berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Penanganan yang tidak serius dari pihak  perusahanaan  maupun Pemerintah Daerah  setempat untuk mencari solusi agar mengatasi dampak dari limbah yang dihasilkan oleh perusahaan PT RUM yang dibuang secara bebas ke lingkungan sehingga memberikan dampak negatif bagi masyarakat maka rakyat Sukoharjo dan para aktivis lingkungan melakukan aksi demonstrasi ke empat di kantor Pemerintahan Kabupaten Sukoharjo pada tanggal 22 Februari 2018 dan pada  tanggal 23 Februari 2018 massa aksi melakukan demonstrasi damai untuk menagi janji dari Pemerintah Daerah dan pihak perusahaan untuk menangani permasalahan pencemaran lingkungan dari limbah yang mengandung zat beracun yang dihasilkan oleh  PT RUM.

 

Aksi massa   melakukan demonstrasi  damai pada tanggal 23 Februari 2018 untuk meminta Pemerinatah Daerah Kabupaten Sukoharjo dan pihak PT RUM untuk mencari solusi dalam rangka menyelesaikan dampak pencemaran lingkungan yang dihasilakan oleh PT RUM tetapi tidak ditangapi secara serius oleh perusahaan dan Pemerintah Daerah. Hal ini menimbulkan amarah bagi rakyat Sukoharjo dan para aktivis lingkungan hingga massa aksi menduduki di depan kantor PT RUM selama semalam. Melihat aksi massa yang begitu besar menduduki di depan gedung PT RUM maka pihak militer melakukan represifitas terhadap massa aksi. Pada saat itu juga beberapa orang aktivis lingkungan ditangkap oleh pihak militer  dan dibawa dibawa ke Polda Semarang untuk ditahan serta diadili.

 

Nama-nama aktivis lingkungan yang ditangkap oleh pihak militer saat para aktivis berjuang bersama rakyat Sukoharjo untuk menentang dengan tegas kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo dan pihak perusahaan untuk menutup perusahaan yang beroperasi di daerah tersebut karena pihak PT Rayon Utama Makmur (RUM) belum mengantungi perizinan secara resmi yang dikeluarkan oleh Pemerintah baik itu Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah yang menyatakan bahwa PT RUM bisa beroperasi di Kabupaten Sukoharjo. Para aktivis yang ditangkap oleh pihak militer saat aksi massa menduduki di depan PT RUM pada tanggal 23 Februari 2018 yakni Muhammad Hisbun Payu alias Iss, Brilian dan Sutarno. Ketiaga aktivis tersebut dibawa oleh pihak militer yang anti terhadap aktivis yang melakukan tindakan advokasi terhadap lingkungan.

 

Tindakan semana-semena yang dilakukan oleh pihak militer terhadap rakyat Sukoharjo dan aktivis lingkungan menunjukan masih ada pembungkaman ruang demokrasi di Indonesia dan pihak militer juga melakukan tindakan represifitas yang berlibihan kepada para aktivis lingkungan dari kalangan mahassiwa  yang melakukan kontrol sosil (agen of change) terhadap kebijakan-kebijakan Pemerintah yang tidak menempatkan masyarakat sebagai subyek dalam pembangunan kota melainkan menempatkan masyarakat sebagai obyek dalam pembangunan Kota atau Kabupaten. Tindakan hukum yang dilakukan oleh pihak militer Indonesia bersifat memihak dan melindungi kepentingan para penguasa dan pemilik modal atau alias produk hukum yang bersifat tajam keatas dan tumpul kebawah. Menurut Undang-Undang Dasar 1945 pasal 28D ayat 1 yang menyatakan bahwa “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan  yang sama di hadapan hukum”. Oleh karena itu, sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam bunga bahasa bahwa Fiat justitia ruat coelum “walau langit terbelah keadilan harus ditegakan”. Artinya hukum harus bersifat adil bagi siapa saja.

 

Perjuangan rakyat dari Kabupaten Sukoharjo dan para aktivis lingkungan (Muhammad Hisbun Payu alias Iss, Brilian dan Sutarno)  yang ditangkap oleh pihak militer dan ditahan di  Polda Semarang maupun aktivis lingkungan yang bergabung bersama rakyat Sukoharjo terus merapatkan barisan dan menyalakan semangat perjuangan tetapterus maju untuk menyuarakan agar pihak militer membebaskan aktivis lingkungan (Iss dan rekan-rekannya) dari tahanan dan meminta kepada pemerintah Daerah Kabupaten Sukoharjo segera menutup PT RUM. Aksi Perlawanan Muhammad Hisbun Payu (Iss) dan warga Sukoharjo terus berlanjut hingga pada hari Kamis, 24 Mei 2018.  Muhammad Hisbun Payu,  Brilian dan Sutarno menjalani sidang dakwaan, mereka dijerat dengan pasal 170 ayat (1) KUHP atau pasal 406 ayat (1) Jo 55 KUHP, sedangkan Sukemi dan Kevin dijerat dengan pasal 187 ayat (1) KUHP dan/atau pasal 406 ayat (1) Jo 55 KUHP.

 

Ditengah kegangkalan penangkapan hingga maladministrasi sidang di Pengadilan Negeri Semarang terhadap Iss dan rekan-rekanya. Muhammad Hisbun Payu dan rekan-rekannya yang ditahan oleh militer menentang dengan tegas agar PT RUM harus ditutup. Aktivis lingkungan dan warga Sukoharjo bersikap tegas untuk menolak ativitas PT RUM yang mengandung zat beracun yang berbahaya bagi masyarakat. Seruan dari dalam jeruji besi “kawan-kawan yang berada di luar jangan sampai berhenti berjuang melawan PT RUM. Kita yang berada didalam jeruji besi siap menhadapi proses hukum, kata Mohammad Hisbun Payu alias Iss. Disaat Iss dan rekan-rekannya terjerat hukum, laporan warga soal pencemaran limbah PT RUM terhadap aparat kepolisian yang telah dilayangkan sebanyak lima kali tidak diproses dengan cepat. Penyidik dan jaksa tidak menegakkan amanat UUPLH Nomor 23 Tahun 2009 pasal 66 yang  menyatakan “Setiap orang yang memperjuangkan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat tidak dapat dituntut  secara pidana maupun digugat secara perdata”.

 

Perjuangan para aktivis lingkungan dan rakyat Sukoharjo tidak berakhir pada tanggal 24 Mei 2018 pada saat Muhammad Hisbun Payu bersama beberapa sahabatnya saat menjalani sidang dakwaan di Pengadilan Negeri Semarang tetapi perjuangan tersebut dilanjutkan lagi pada hari Kamis, 07 Juni 2018 kembali dibuka sidang di Pengadilan Negeri Semarang dengan keputusan ditolak oleh para hakim dan penangguhan penahanan Mohammad Hisbun Payu dan kawan-kawannya tidak diberi kepastian oleh hakim. Pada saat berlangsungnya sidang di Pengadilan Negeri Semarang pada tanggal 07 Juni 2018 terkait kasus penangkapan yang dilakukan oleh aparat militer terhadap Iss dan sahabat-sahabatnya maka aksi massa yang tergabung dalam Sukoharjo Melawan Racun (SAMAR) dan Masyarakat Peduli Lingkungan (MPL) dan para aktivis lingkungan serta para mahasiswa melakukan aksi demonstrasi damai untuk menyampaikan aspirasi dan meminta kepada pihak penegak hukum agar membebaskan para aktvis lingkungan yang ditangkap dan ditahan oleh pihak militer.  

 

Berdasarkan hasil wawancara dengan Emon selaku kordinator lapangan (Korlap) menyampaikan bahwa  massa aksi yang tergabung dalam SAMAR dan MPL melakukan aksi demonstrasi damai di depan kantor Pengadilan Negeri Semarang yang dimulai pada pukul 10.15 – 12.45 WIB. Aksi massa dibuka secara langsung oleh Emon selaku kordinator lapangan (Korlap)  pada pukul 10.17 WIB, petugas Pengadilan Negeri Semarang yang dipimpin oleh Pak Sutejo (Kepala Bagian Umum) langsung mempertanyakan surat izin namun kordinator lapangan menjawab dengan tegas bahwa tidak adanya surat izin melainkan adanya surat pemberitahuan yang sudah diberikan kepada Polrestabes Semarang pada malam hari sebelum aksi. Pak Sutejo bersikeras agar aksi massa tidak dilakukan didepan pintu pengadilan sehingga Pak Sutejo mengundang petugas lainnya mengancam akan membubarkan aksi massa secara paksa serta menyeret ke kantor Kepolisian.

 

Aksi massa yang tergabung dalam SAMAR (Sukoharjo Melawan Racun) dan MPL (Masyarakat Peduli Lingkungan) melakukan orasi dan menyanyikan yel-yel dan  tetap bertahan didepan kantor Pengadilan Negeri Semarang. Pak Sutejo dan para Polisi melihat bahwa aksi massa yang semakin banyak untuk melakukan aksi  maka timbullah amarah sehingga terjadi tarik-menarik spanduk yang  dipegang oleh aksi massa. Pada pukul 10.31 WIB, Pak Sutejo melayangkan tamparan  yang mengenai kepala Panji dan menyeret tangan dari Momon serta korban represifitas juga dialami oleh Gasrul yaitu lehernya diseret dan topinya ditarik oleh aparat keamanan yang seharusnya mengawal aksi massa bukan melakukan tindakan represifitas yang semena-mena.

 

Massa aksi masih berorasi dan menyanyikan yel-yel tanpa pengeras suara karena megaphone yang digunakan untuk berorasi diambil secara paksa oleh Pak Sutejo. Pada pukul 10.50 WIB massa aksi berorasi dan bernyanyi tanpa pengeras suara apapun sampai sidang aktivis lingkungan dimulai pada pukul 11.30 WIB, massa aksi masuk ke pengadilan, setibanya  didepan pintu pengadilan aparat yang menjaga pintu persidangan tidak memperkenankan massa aksi masuk ke ruang sidang untuk menyaksikan sidang yang telah berlangsung dengan alasan bahwa sidang tersebut berlangsung secara tertutup. Padahal sebelum dimulainya persidangan hakim menyampaikan secara terang-terangan bahwa sidang terbuka untuk umum. Massa aksi pun melanjutkan aksinya sampai sidang ditutup oleh hakim pada pukul 12.30 WIB dengan keputusan ekspesi ditolak dengan penagguhan penahanannya tidak diberi kepastian oleh hakim. Akhirnya massa aksi pun kembali ke tempatnya masing-masing pada pukul 12.45 WIB. Perjuangan Mohammad hisbun Payu alias Iss dan rekan-rekannya ialah perjuangan kita bersama untuk menjaga dan melestarikan bumi sebagai rumah bersama dan memperlakukan sesama manusia  sebagai sahabat.

 

 

Penulis adalah Mahasiswa Kerjasama dari Keuskupan Manokwari Sorong dan Keuskupan Agats-Asmat yang Kuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)*.

 

#Lingkungan dan Hutan

Baca Juga, Artikel Terkait