Perlu Ada Penerapan Pendidikan bagi Kaum Tertindas

Cinque Terre
Frans Pigai

15 Hari yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Redaktur Artikel Media Online Kabar Mapegaa (KM)
Qureta - Pedoman Para Pembelajar, pendidikan-kaum-tertindas. (Doc. Qureta/KM)

Oleh, Frans Pigai*)

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.com – Pendidikan kaum tertindas harus diciptakan bersama dengan dan bukan untuk kaum tertindas dalam perjuangan memulihkan kembali kemanusiaan yang telah dirampas. Pendidikan kaum tertindas harus merupakan perjuangan melawan penindasan dalam situasi di mana dunia dan manusia berada dalam interaksi. Oleh karena itu, dalam perjuangan ini diperlukan praksis yang merupakan sebuah proses interaksi antara refleksi dan aksi, salah satu factor penting dalam gerakan pembebasan tersebut adalah perkembangan kesadaran.

 

Sadar akan perubahan dan kepastian masa depan mereka yang tertindas, Paulo mengatakan, kelompok yang tertindas perlu berjuang untuk melakukan perubahan terhadap penderitaan yang mereka alami, bukannya menyerah begitu saja.

 

Menyerah pada penderitaan adalah sebuah bentuk penghancuran diri, maka harus ada perubahan yang diyakini dan menggerakkan semangat. Hanya dengan keyakinan ini yang terus menggelora sampai saatnya berjuang, mereka dapat memiliki masa depan yang berarti, bukannya ketidakjelasan yang mengalienasi atau masa depan yang sudah ditakdirkan, namun menjadi tugas untuk membangun, dan ini sebutir benih kebebasan.

 

Pendidikan merupakan satu kesatuan yang utuh antara yang satu dengan yang lainnya, Freire pernah berkata kami tidak pernah menganggap pendidikan untuk memberantas buta huruf sebagi sebuah bidang yang terpisah, sebagai proses belajar mengajar yang mekanis, namun kami memandang pendidikan sebagai tindakan politik political act yang terkait secara langsung dengan produksi, kesehatan, hokum dan seluruh rencana yang akan diberlakukan untuk masyarakat.

 

Freire telah mendefinisikan kembali makna politis pendidikan dan merenung kembali pokok-pokok mendasar berkenaan dengan pendidikan. Baginya pendidikan mempunyai potensi membebaskan, mencerdaskan, dan pendidikan yang membebaskan merupakan jalan menuju pengetahuan dan pemikiran kritis. Pengetahuan adalah dasar landasan tata ekonomi informasi global yang baru. Globalisasi telah memperbesar arti penting, pengetahuan, sifat inovasi, pemikiran kritis dan kemampuan memecahkan masalah. Kemajuan dibidang ekonomi di negeri mana pun makin lama makin memerlukan basis yang luas berupa individu-individu yang sangat sadar, percaya diri, berpemikiran kritis, berperan serta, melek huruf. Dan melek angka untuk berkompetisi dalam tata ekonomi dunia yang baru.

 

Sejatinya bahwa pendidikan adalah hak asasi manusia. Artinya dikatakan adil jika setiap warga negara dapat mengenyam pendidikan. Adil yang dimaksud adalah jika setiap warga negara dapat mengenyam pendidikan. Siapa pun dan apapun latar belakang setiap warga negara. Ia berhak mendapatkan pendidikan. Pemerintah berkewajiban memenuhi hak asasi setiap warga negara tanpa membedakan. Ini berarti warga miskin pun berhak dan dapat sekolah.

 

Disamping itu sekolah dikatakan baik dan berkualitas apabila ditopang oleh suasana dan keadaan yang sangat menarik minat anak untuk betah (feel at home) jika berada di sekolah. Sekolah dianggap sebagai rumah kedua yang memberikan nuansa-nuansa kedamaian dan ketentraman hati, sekolah mampu memberikan kesejukan dan penyejukan jiwa dengan demikian sempurna. Sekolah merupakan rumah yang teduh dan rindang sehingga membuat anak-anak didik tidak merasa terbebani jika berada dalam lingkungan sekolah, terlebih lagi jika berada di dalam ruangan kelas saat proses belajar mengajar berlangsung.

 

Sekolah progresif menggunakan segenap sumber daya yang ia miliki untuk menyangkal dan mengawasi kekuatan konservatisme social danr eaksionisme social yang mengancam pendidikan.

 

Jika pendidikan progresif ingin sungguh-sungguh mendidik dan benar-benarprogresif; ia harus membebaskan diri dulu dari pelukan kelas menengah, lalu menghadapi setiap isu social dengan berani dan langsung, menjumpai kenyataan hidup yang paling jahanam sekali pun tanpa memincingkan mata, memantapkan hubungan timbale balik yang organic dengan komunitas, mengembangkan teori yang komprehensif dan realistis tentang kesejahteraan, mengambil visi tentang tak diri manusia secara tegas dan lantang, dan jangan cepat gemetar kalau bertemu hantu bernama penanaman dan indoktrinasi. Dalam satu kalimat pendidikan progresif jangan mempercayai sekolah yang berpusat pada anak.

 

Daftar Pustaka

Ki Hadjar Dewantara. Menuju Manusia Merdeka,” Yogyakarta: Lukita, 2009.

Muhammad Firdaus. “Wawancara” dalam Jurnal Perempuan, Pendidikan Untuk Semua, Yayasan YJP.

Paulo Ferire. Politik Pendidikan, Kebudayaan, Kekuasaan dan Pembebasan, Yogyakarta: REaD bekerjasama dengan Pustaka Pelajar, 2007.

________ Pedagogi Hati, Yogyakarta: Kanisius, 2007.

________ Pendidikan Kaum Tertindas, Jakarta: LP3ES, 2008.

 

Penulis adalah Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait