Petrus Gobai:  Modal Kriman Orang Tua, Bertarung Bikin  Motor Custom hingga Meraih Juara

Cinque Terre
Manfred Kudiai

21 Hari yang lalu
PENDIDIKAN

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Pertrus saat menerima tropi dan uang pembinaan. Ist


NABIRE, KABARMAPEGAA.com--Menjelang 1 minggu, setelah  salah satu mahasiswa Papua yang Kuliah di Institut Teknologi Negeri Yogyakarta (INTY) yang sebelumnya  Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) jurusan Teknik Mesin atasnama Markus Echo Yawalka  keluar sebagai  sang juara di  ajang kompetisi komunitas motor Suryanation Motorland Battle 2020 di Jogja, kini di susul lagi oleh Putra Papua, asal Nabire, Petrus Gobai.

 

Kali ini, Petrus Gobai mengikuti Kompetisi  Virtual Custom Show Exhibition Part-Free For All . Motor custom kece  yang dirancang oleh Petrus akhirnya keluar sebagai pemenang.  

 

Mahasiswa asal Nabire, Papua, Petrus Gobai yang saat ini sedang kuliah di perguruan tinggi swasta Universitas Janabadra, di Yogyakarta, Program Studi Teknik Sipil itu menceritakan niatnya sehingga ikut berkompetisi Virtual Custom Show Exhibition Part-Free For All ynag di selenggarakan oleh komunitas motor Suryanation Yogyakarta.

 

“Proses buat motor custom itu mudah sebenarnya paling hanya seminggu bisa jadi apa pun itu basic motornya.  Tapi segala sesuatu tentu harus ada uang n peralatan, karena trada (tidak ada) uang dan peralatan,” jelas Petrus Gobai yang akrab di sapa Peter Wiliam ini, kepada kabarmapegaa saat diwawancara, via telepon,  Jumat (24/7) setelah satu hari sebelumnya tepat pada tanggal 23 Juli 2020.

 

Baca juga: Echo Yawalka: Modal Semangat Perangi Stigma hingga Meraih Juara I

 

Kata Petrus,  sa  pu (saya punya)  motor ini proses pemulihannya hampir 6 bulan  Baru jadi. “Itu pun setelah   ada  bantuan dana  dari kiriman orang tua. Uang yang dikirim  dari orang tua itu untuk jajang dan uang kuliah, tetapi dari uang itu saya percicil sedikit untuk lengkapi alat-alat. Saat itu, saya harus belajar sabar menjalani hidup di rantau sambil kembangkan bakat saya,” jelas Petrus dengan nada yang santai sambil senyum-senyum sedikit yang menjadi ciri khas Petrus dalam tutur kata.

 

Sosok Petrus yang suka humor  itu,  Ia harus sabar dan menjalani ujian hidup sebagai seorang rantau yang hidup dengan ekonomi yang pas-pasan.

 

“terima kasih banyak buat semua yang sudah luangkan waktu untuk  bantu saya dalam kontes ini karena kalian sa (saya)  bisa dnn dapat juara. Hormat selebihnya mata Tuhan selalu terbuka,” ucapnya.

Keseharian Petrus di asrama tempat ia tinggal adalah bengkel pertama. Ia  kerab kali menghabiskan waktunya  hanya kotak-katik motor bekas yang rusak yang  tersimpan di asrama mahasiswa asal Dogiyai, yang terletak di  Karang Wuni, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

 

Baca juga: Mahasiswa Papua di Jawa Ikut Kompetisi, Butuh Dukungan dari Semua Pihak

 

 “Kita sebagai anak muda Papua harus tekun dan yakin bahwa apapun itu bakatmu yang kamu miliki pasti berhasil. Jangan mudah terpengaruh  dengan rasa-ras kah,  atau ikutan ramai. Jadilah diri sendiri,” pesan Petrus.

 

 Dan satu lagi, lanjut Peter, kita satu Papua saling mendukung  sesama, satu sama  lain dan mari kita sama-sama buang  jauh akan rasa Iri hati dan ego. “Mari kita bangkit dari hal-hal yang dianggap  kecil, namun powernya sangat luar biasa.”

 

Sementara itu, Petrus juga berharap saya, kamu, kita adalah satu Papua.  “saya, kita Papua juga   harus bisa  bersaing dengan orang luar  terutama di bidang otomotif maupun di bidang lainnya dengan cara yang profesional.  

 

“Kita sama2-sama makan makanan yang  sama bukan berati orang di luar sana makan besi atau batu atau makan makanan yang super lengkap,” terangnya.

 

Tidak sampai disitu, Petrus juga kerab merasa terabaikan oleh Pemerintah yang semestinya mendukung minat dan bakat yang dimiliki oleh mahasiswa Papua yang berada di Papua maupun luar Papua, untuk itu, Peter minta perhatian serius dari pemerintah daerah, baik itu Pemprov, maupyun Pemda yang ada di Papua.

 

“Pesan buat pemerintah daerah maupun Pemprov  di Papua,  jika siapa pun dia anak generasi muda  yang tekun  tuk kembangkan bakatnya. Mohon tuk berikan ruang   dan dukungan agar dapat berkembang  dan bersaing dengan  yang di luar sana ,” Pinta Petrus.

 

Petrus Gobai menyayangkan kurang perhatian dari pemda sebab menurut Pengamatan Petrus, sedangkan mereka diluar sana ( luar Papua) bisa tetapi untuk Papua?

 

“Hati sakit , selalu mereka katakan:  kitorang Papua  itu tertinggal  padahal kita sama makan nasi. Sebenarnya kita juga bisa sama seperti mereka hanya saja kita kurang penyediaan kelengkapan dan  ruang saja,” jelasnya.

 

Dalam kompetisi apapun, pihak yang memenangi pasti merasakan sebuah rasa, yang hanya dirasakan dan dapat dijelaskan oleh peserta yng terlibat. Sama seperti perasaan yang dirasakan saat  panitia penyelenggara menetapkan Petrus  keluar sebagai juara. 

 

“Perasahan ketika dengar juara yang pastinya senang dan bangga karena sa (saya) dan abang anak Papua (Echo) satu-satu yang dapat mengikuti contes custom fast. Kami dua bisa   bertarung  sampai akhirnya kita sama-sama  menang. Sa anak Papua, sa bangga,” tururnya terharu.

 

 

Tak lupa juga, Petrus mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah ikut membantu memenangkan kompetisi tersebut.

 

 “Tidak mungkin untuk dukungan bagikan  link  di story dan lain-lain. Mereka sih, ada dari teman-teman semua   yang sa kenal. Tapi mungkin yang lebih dari semua itu, ada media Papua yang mau angkat dan tunjukan karya kami di publik dan kepada Micael pace Nogey  dan ada lagi yang lain, tetapi tidak mampu saya sebutkan satu per satu tapi  biarpun itu  cuman sebatas mengenalkan  sa  ni  (saya ini) siapa tapi sa sangat hargai karena ini awal dari  sa pu (saya punya)  perjuangan  ini,” bebernya mengakhir.

 

Pantauan media ini, warga net mengucapkan ucapan selamat kepada Petrus. Baik melalui IG, Whatsahp dan lebih banyak lagi di Facebook.

 

Seperti cuitan, Markus Yawalka yang juga sama-sama ikut kompetisi ini turut merasa bangga dan mengucapkan ucapan selamat kepada Petrus.

 

 “Setidaknya ada yang duduk di tempat itu setelah sa........ dan dia membuktikan bahwa dia juga punya hobby dan kualitas yang luar biasa ....gas konco Peter William Allah bangsa Papua dengan ko...,” begitu cuitan Echo di akun miliknya.

 

Sementara itu, dari kawan-kawan seangkatan serta dari kolega dan keluarga pun ikut memberikan apresiasi kepada Petrus.

 

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

 

Baca Juga, Artikel Terkait